Anggota DPD Dailami Firdaus gelar nobar Film G 30 S bersama citivitas akademika UIA

Sebelum melakukan nonton bareng, didahului dengan diskusi mengenai peristiwa G 30 S/PKI, dengan menghadirkan Babeh Ridwan Saidi sebagai nara sumbernya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Anggota DPD Dailami Firdaus gelar nobar Film G 30 S bersama citivitas akademika UIA
Nonton bareng Film G 30 S bersama citivitas akademika UIA. ©2018 Merdeka.com

Sabtu (29/9) malam kemarin digelar diskusi dan nonton bareng Film G 30 S di Plaza Kampus As-Syafi'iyah (UIA). Acara nonton bareng ini digelar bersama seluruh civitas akademika.

"G30S PKI Adalah peristiwa dan pengetahuan sejarah yang perlu diketahui masyarakat luas terutama para mahasiswa dan pelajar, sebagai generasi penerus bangsa. Ini yang menjadi alasan diselenggarakan acara tersebut," ujar Ketua Yayasan UIA Prof Dailami Firdaus yang juga sebagai Anggota DPD RI asal DKI Jakarta.

Sebelum melakukan nonton bareng, didahului dengan diskusi mengenai peristiwa G 30 S/PKI, dengan menghadirkan Babeh Ridwan Saidi sebagai nara sumbernya.

"Bahwa ada sebuah pemaksaan ideologi pada saat itu. Di mana ideologi Komunis ingin masuk ke dalam tatanan kenegaraan kita juga tatanan bermasyarakat dan menggantikan ideologi Pancasila yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa," tambahnya lagi.

Menurut Ridwan Saidi, Film G 30 S harus dilihat secara utuh dan seksama. Menurut budayawan ini, film tersebut harus dilihat bagaimna mereka melakukan segala hal, memperdayai, tipu muslihat, memutar balikan fakta, bahkan tak segan untuk menghabisi mereka yang tetap ingin mempertahankan Pancasila sebagai Ideologi Bangsa.

"Korbannya banyak dari kalangan ulama, para jenderal TNI yang dikenal dengan Pahlawan Revolusi, serta keluarga dan tidak sedikit masyarakat umum menjadi korban kebiadaban mereka," ujarnya.

Sebagai Civitas akademi UIA, Dailami Firdaus melihat kegiatan menonton bareng ini sangatlah baik agar para generasi penerus dapat terus menjaga ideologi Pancasila dan menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, bangsa yang besar adalah mereka yang tidak melupakan sejarahnya.

"Untuk seluruh mahasiswa dan para pelajar, isilah perjuangan dengan prestasi dan kreasi nyata yang konstruktif, serta point utamanya adalah bertaqwa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana disepakati dalam Sila Pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa," tutup pria yang akrab disapa Bang Dailami ini.

Rekomendasi