Banyak dari pengungsi yang nekat balik ke desa untuk melaksanakan upacara persembahyangan. Namun banyak juga yang takut pulang ke kampung halamannya dan memilih bertahan di tempat pengungsian.Seperti yang dialami pasutri Putu Yasa (28) dan istrinya Putu Widiani (25) pengungsi asal Batugede Desa Selat Duda, Karangasem Bali. Karena desanya sangat rawan dari ancaman erupsi Gunung Agung, mereka terpaksa menggelar upacara tiga bulanan anaknya di pengungsian.Upacara ini tidak boleh tidak dilaksanakan tatkala si jabang bayi genap berumur tiga bulan berdasarkan hitungan tanggalan Bali.Putra pertamanya yang diberi nama, I Gede Mahendra Putra terpaksa upacaranya digelar di tempat pengungsian Bekas Kantor Desa Pemecutan Kaja Denpasar Utara, Kamis (5/10) sore.Selain karena situasi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan upacara ini di desanya, keterbatasan biaya juga jadi pertimbangan bila digelar di desa. Terlebih ancaman Gunung Agung yang tidak bisa diprediksi kapan akan erupsi.Ia yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan tentu akan kesuitan mencari biaya upacara untuk buah hatinya di lokasi pengungsian."Kami berterima kasih karena sudah ada banyak bantuan. Bahkan untuk upacara tiga bulanan juga difasilitasi. Kami laksanakan upacara di sini karena kalau di kampung situasinya tidak memungkinan," ujar Putu Widiani di sela-sela upacara tiga bulanan anaknya.Untuk upacara ini, kedua orang tua Mahendra mengaku banyak dibantu oleh para pengungsi dan keluarga besar. Selain itu juga mendapat perhatian dari pihak desa setempat. "Untuk perlengkapan sarana upacara, kami buat sendiri seperti pejati. Apa yang bisa kami buat, itu kami buat sendiri, sisanya dibantu," ujar ibu muda yang baru berusia 25 tahun ini sambil mengusap air matanya seakan meratap kesedihan akan bencana ini.Meski berjalan secara sederhana, namun pihaknya tetap bersyukur bisa menunaikan kewajibannya untuk pelaksanaan upacara ini sebagai bentuk hutang pertama kepada sang buah hati. "Intinya tiang hanya bisa mengucapkan terimakasih karena sudah diperhatian dan dibantu," tandasnya.
Takut pulang ke desa, warga gelar tiga bulanan anak di pengungsian
Takut pulang ke desa, warga gelar tiga bulanan anak di pengungsian. Upacara ini tidak boleh tidak dilaksanakan tatkala si jabang bayi genap berumur tiga bulan berdasarkan hitungan tanggalan Bali.
Rekomendasi