Pengamat Sarankan Revisi Target Penjualan Mobil Nasional 2025 Jadi 750 Ribu Unit
Pengamat industri otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menyarankan revisi target penjualan mobil nasional 2025 dari 900.000 unit menjadi 750.000-850.000 unit karena kondisi pasar yang tidak realistis.
Pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyarankan agar target penjualan mobil baru nasional untuk tahun 2025 direvisi. Target awal 900.000 unit dinilai tidak realistis mengingat kondisi pasar saat ini. Revisi target penjualan mobil nasional ini diusulkan menjadi kisaran 750.000 hingga 850.000 unit.
Usulan revisi ini muncul setelah melihat data penjualan mobil Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) hingga Oktober 2025. Data tersebut menunjukkan angka penjualan wholesales baru mencapai 635.844 unit. Angka ini masih jauh dari proyeksi tahunan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Yannes menegaskan bahwa target 900.000 unit sulit tercapai. Untuk mencapainya, dibutuhkan rata-rata penjualan 132.078 unit per bulan di sisa dua bulan terakhir. Angka penjualan sebesar itu belum pernah dicapai oleh pasar otomotif nasional.
Penjualan Mobil Jauh dari Proyeksi Awal
Data Gaikindo menunjukkan bahwa rata-rata penjualan mobil nasional sepanjang Januari hingga Oktober 2025 hanya sekitar 63.584 unit per bulan. Angka ini jauh di bawah rata-rata yang dibutuhkan untuk mencapai target 900.000 unit. Tidak ada tanda-tanda peningkatan daya beli masyarakat kelas menengah, yang merupakan pasar terbesar bagi industri otomotif.
Menurut Yannes, “Secara logika target 900.000 unit itu tidak akan tercapai. Untuk mencapainya, dibutuhkan rata-rata penjualan 132.078 unit per bulan di sisa dua bulan dari November sampai Desember, angka yang belum pernah disentuh pasar kita.” Pernyataan ini mengindikasikan perlunya penyesuaian ekspektasi terhadap penjualan mobil nasional.
Kesenjangan antara target dan realisasi penjualan menunjukkan adanya tantangan signifikan. Industri otomotif perlu menghadapi kenyataan bahwa kondisi pasar tidak mendukung pencapaian target ambisius tersebut. Oleh karena itu, revisi target penjualan mobil nasional menjadi langkah yang lebih bijak.
Dampak Ekonomi Makro dan Suku Bunga Tinggi
Kondisi ekonomi makro yang lemah menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kemampuan beli masyarakat. Suku bunga kredit yang tinggi juga turut memukul daya beli, terutama di segmen pasar utama seperti Low Cost Green Car (LCGC) dan Low MPV. Segmen ini merupakan penyerap volume terbesar pasar mobil nasional.
Yannes menjelaskan bahwa “Segmen ini adalah penyerap volume terbesar pasar mobil nasional. Saat suku bunga tinggi, mereka paling terpukul karena hampir seluruh pembelian dilakukan lewat kredit.” Hal ini secara langsung berdampak pada penurunan penjualan mobil di segmen yang sangat vital bagi industri.
Lemahnya daya beli masyarakat kelas menengah, yang menjadi tulang punggung pasar otomotif, menghambat pertumbuhan penjualan. Tanpa adanya perbaikan kondisi ekonomi yang signifikan, sulit bagi pasar untuk bangkit dan mencapai target penjualan yang tinggi.
Kontribusi Mobil Listrik dan Insentif Hybrid
Meskipun penjualan mobil listrik (EV) menunjukkan lonjakan signifikan hingga kisaran 65.000 unit pada Oktober 2025, kontribusinya belum cukup kuat. Penjualan EV belum mampu menutupi pelemahan yang terjadi di segmen konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE) yang jauh lebih besar. Ini menunjukkan bahwa pasar EV masih belum menjadi penopang utama.
Dengan mempertimbangkan tren pasar yang masih konservatif dan lemahnya faktor pendorong ekonomi, Yannes menilai revisi target penjualan mobil nasional menjadi 750.000-850.000 unit akan lebih mencerminkan kondisi riil. Angka ini dianggap lebih realistis dan dapat dicapai hingga akhir tahun.
Yannes juga menekankan pentingnya insentif tambahan bagi kendaraan hybrid, terutama di kelas harga bawah Rp300 juta. “Tentunya dengan tambahan insentif setelah LCGC dan LMPV entry-level tersebut mendapatkan dukungan insentif kendaraan hybrid. Ini adalah pendorong utama bagi peningkatan penjualan di segmen yang didominasi oleh kelas menengah,” kata Yannes. Dukungan semacam itu diyakini mampu memperkuat daya saing produsen dan memperluas pasar.
Sumber: AntaraNews