Pengalaman Spiritual Mualaf asal Papua saat Naik Haji: Orang Arab Cium Badan Saya

Rabu, 10 Agustus 2022 15:14 Reporter : Ihwan Fajar
Pengalaman Spiritual Mualaf asal Papua saat Naik Haji: Orang Arab Cium Badan Saya Hasan Adadikam. ©2022 Merdeka.com/Ihwan Fajar

Merdeka.com - Pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi telah berakhir dan sejumlah jemaah telah kembali ke Tanah Air. Seorang jemaah haji asal Papua, Hasan Adadikam (65) mempunyai pengalaman spiritual saat menjalankan Rukun Islam kelima.

Mengenakan sorban dan jubah putih, Hasan Adadikam mengucapkan syukur bisa kembali ke Tanah Air seusai menjalankan ibadah haji. Apalagi, dirinya adalah seorang mualaf.

"Kami bersyukur kepada Allah karena perjalanan haji ini luar biasa. Petugas di Makassar ini mulai dari Gubernur, Wali Kota, sampai petugasnya semua luar biasa. Karena yang berkesan di ibadah haji kami ini semuanya tidak ada merasa keberatan," ujarnya saat ditemui di Asrama Haji Sudiang Makassar, Rabu (10/8).

2 dari 3 halaman

Sempat Khawatirkan Cuaca Ekstrem

Jemaah haji kelompok terbang (kloter) 15 ini mengaku sebelum berangkat dirinya khawatir dengan cuaca ekstrem yang terjadi di Arab Saudi. Apalagi, saat itu dirinya mendengar berita bahwa suhu di Arab Saudi mencapai 40-50 derajat celsius.

"Ternyata saat tiba di sana tidak seperti itu. Akhirnya doa kami, masyarakat, dan umat Islam ini yang berkesan di pribadi kami, kemarin kami salat di Masjidil Nabawi itu hujan lebat luar biasa," kata dia.

Hasan mengaku mendapatkan pengalaman spiritual saat menjalankan ibadah haji selama 40 hari di Arab Saudi. Salah satunya, saat dirinya dicium orang Arab.

"Orang Arab sendiri cium-cium badan saya, semua itu karena begitu berkesan di mereka. Saya tidak tahu bahwa apa kehadiran saya selaku mualaf ini dapat diterima atau tidak," ungkapnya.

Kondisi tersebut, membuat teman satu kloter Hasan pun terharu. Apalagi saat pengurusan paspor saat tiba di Arab Saudi tidak mengalami kesulitan sama sekali.

"Awal mula semua jemaah haji ini heran, kenapa sampai bapak haji ini kok disenangi orang Arab. Sampai di pelabuhan juga kemarin saya mau masuk paspornya, mereka datang ambil pergi cium-cium badanku. Sampai mereka atur saya punya sorban. Semuanya membuat saya bangga dengan itu kehadiran menjalankan ibadah haji," kata pria asal Timika, Papua ini.

3 dari 3 halaman

Minta Kuota Haji Ditambah

Hasan juga mengapresiasi petugas haji yang memberikan fasilitas dan pelayanan cukup baik mulai dari makan dan minum hingga hotel. Ia berharap pelaksanaan haji tahun depan tidak ada lagi pembatasan akibat pandemi Covid-19.

"Saya sampaikan ke Menteri Agama saat bertemu di Mekkah, salah satu yang ditingkatkan adalah jemaah haji Indonesia harus ditambah. Tidak usah ragu-ragu dengan covid, karena di Arab itu tidak ada. Cuma di Indonesia selalu menjaga kemungkinan, sehingga tahun berikutnya jemaah haji harus bertambah," tegasnya.

Sekadar diketahui, Hasan Adadikam merupakan satu-satunya jemaah haji asal Papua dari total 491 orang jemaah pada kloter 15 Makassar. Sebanyak 490 orang lainnya berasal dari Sulsel dan provinsi lain.

Hasan menceritakan dirinya menjadi mualaf sejak berusia 30 tahun. Ia mengungkapkan sebelumnya dirinya memeluk agama Kristen Protestan.

"Bapak dan adik saya pendeta. Saya mualaf sejak umur 30-an. Alhamdulillah Islam ini di hadapan Allah Rahmatan Lil Alamin," tuturnya.

Untuk keberangkatan haji tahun ini, dirinya berangkat ke Tanah Suci tidak bersama keluarganya. Ia mengaku istrinya sudah terlebih dahulu berangkat haji tahun 2004.

"Saya sendiri, karena istri sejak tahun 2004 sudah naik haji. Saya berangkatkan dia lebih dahulu. Sekarang baru saya dapat kesempatan dan alhamdulillah," bebernya.

Sosok Hasan sendiri merupakan tokoh masyarakat dan agama di Kabupaten Timika, Papua. Bahkan, Hasan adalah salah satu koordinator pemekaran Provinsi Papua Tengah.

"Sekarang kita sudah masuk Provinsi Papua Tengah. Kebetulan saya salah satu koordinator pemekaran itu," ungkapnya.

[yan]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini