Isu keberlanjutan menjadi perhatian utama dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, ketimpangan sosial, hingga tata kelola yang transparan.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam gelaran Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 yang digelar Prospectus Media di bawah naungan Prospect, Kamis (6/8/2026), di Swiss-Belhotel Solo, Surakarta, Jawa Tengah.
Mengusung tema "Catalyzing Collective Change for Scalable Impact", ISRA 2026 menjadi ruang kolaborasi sekaligus apresiasi bagi perusahaan, akademisi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan yang berkomitmen mendorong praktik bisnis dan pembangunan berkelanjutan.
ISRA merupakan agenda tahunan yang tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga forum diseminasi pengetahuan bagi civitas akademika dan pelaku industri. Kegiatan ini memberikan apresiasi terhadap inovasi, konsistensi, dedikasi, serta komitmen perusahaan dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR).
Sejumlah sektor industri turut berpartisipasi dalam ISRA 2026, di antaranya perkebunan, pembangkit listrik, minyak dan gas, pertambangan, petrokimia, transportasi, teknologi informasi, hingga konstruksi.
Advertisement
Bahas Dekarbonisasi hingga Pengelolaan Sampah
Rangkaian kegiatan ISRA 2026 diawali dengan Plenary Session of ISRA 2026 yang terbagi dalam dua sesi strategis. Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang dan dipandu moderator dari Prospect Institute.
Sesi pertama mengangkat tema "The Carbon Transformation: Monetizing Emissions through Strategic Policy and Innovation".
Pembahasan berfokus pada strategi dekarbonisasi dan transisi energi sebagai bagian penting dalam penguatan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Optimalisasi ekonomi karbon, pajak karbon, dan investasi hijau menjadi sejumlah isu yang dibahas untuk mendorong pengurangan emisi sekaligus menciptakan nilai ekonomi strategis dalam upaya mencapai target Net Zero Emission.
Sementara sesi kedua mengusung tema "Revolutionizing Waste: Turning National Crisis into Strategic Resource Streams".
Sesi ini membahas transformasi pengelolaan sampah menjadi sumber daya bernilai melalui penerapan ekonomi sirkular dan teknologi waste-to-energy.
Kolaborasi multipihak dan inovasi dalam tata kelola limbah juga menjadi perhatian untuk mendukung pembangunan rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Conference Session of ISRA 2026 yang terbagi dalam tiga kategori dan berlangsung di tiga breakout room secara luring.
Advertisement
Apresiasi untuk Pelaku Keberlanjutan
Puncak acara ditandai dengan Awarding of ISRA 2026, yang memberikan penghargaan kepada praktisi dan pelaksana program TJSL yang dinilai memenuhi prinsip keberlanjutan serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Steering Committee ISRA 2026, Miftah Faridl Widhagdha, dalam sambutannya menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menghadapi perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan krisis sumber daya.
"Kita sudah membicarakan karbon, sampah, dan praktik sustainability yang masih mengalami banyak tantangan. Di sisi lain, kita telah mewujudkan aksi nyata dan menumbuhkan optimisme keberlanjutan melalui jumlah risalah yang mencapai 99 program terbaik dari 89 perusahaan tersebar dari Aceh hingga Papua," kata Miftah.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi turut menyampaikan dukungan terhadap para penggerak keberlanjutan. Ia menyoroti sejumlah isu yang menjadi perhatian pemerintah kota, mulai dari persoalan sampah, pendidikan, transformasi posyandu dengan penguatan aspek kesehatan mental, hingga upaya memutus mata rantai kemiskinan melalui program Rumah Siap Kerja.
Menurut Respati, pengembangan ekonomi dan investasi di Solo perlu berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan.
Ia pun mengajak seluruh pihak mewujudkan konsep Solo Berseri, yang tidak hanya bermakna Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah, tetapi juga menjadi Bersih, Sehat, Ramah Investasi.
Advertisement
Penta Helix Dinilai Penting Hadapi Krisis Iklim
Keynote speech disampaikan Prof. Dr. H. Widodo Muktiyo, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret sekaligus Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia.
Widodo menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tiga persoalan besar yang tengah dihadapi Indonesia, yakni perubahan iklim, krisis keanekaragaman hayati, serta pencemaran dan polusi.
Menurut dia, tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat.
"Lebih dari itu, kita hadir untuk merefleksikan arah perjalanan bangsa ini dalam menghadapi salah satu tantangan terbesar abad ke-21: Transisi Energi dan Krisis Iklim. Tugas berat ini tentu tidak bisa dipikul oleh satu pihak saja. Di sinilah letak krusialnya Kerangka Kerja Penta Helix—kolaborasi erat antara Pemerintah, Korporasi/Bisnis, Akademisi, Media dan Masyarakat," ujar Widodo.
Advertisement
Tiga Penghargaan Khusus
Dalam ajang tersebut, ISRA 2026 juga memberikan penghargaan khusus kepada sejumlah tokoh dan organisasi yang dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan praktik tanggung jawab sosial dan keberlanjutan di Indonesia.
Gelar Social Responsibility Leadership of the Year diberikan kepada Bupati Banyumas atas inisiatif keberlanjutan yang terintegrasi dalam lini operasional pemerintahan.
Sementara Social Responsibility Initiative of the Year diberikan kepada Ecoxyztem atas inovasi dan dampaknya dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Adapun penghargaan Social Responsibility Woman Leadership of the Year diberikan kepada VP Sustainability PT KAI Tria Mutiari Meilan atas dedikasinya dalam memperkuat peran perempuan dalam bisnis berkelanjutan.
Advertisement
99 Program dari 89 Perusahaan
ISRA 2026 memberikan penghargaan dalam tujuh kategori, yakni Economic Empowerment, Education, Gender Equality & Social Inclusion, Health Quality Improvement, Biodiversity Conservation, CSR Video Documentation, dan Sustainability Report.
Setiap kategori memiliki empat tingkatan penghargaan, yakni Platinum, Gold, Silver, dan Bronze.
Dari proses kurasi yang dilakukan, sebanyak 17 perusahaan meraih penghargaan Platinum, 34 perusahaan memperoleh Gold, 21 perusahaan meraih Silver, dan 27 perusahaan mendapatkan Bronze.
Secara keseluruhan, terdapat 99 program terbaik dari 89 perusahaan yang berhasil masuk dalam rangkaian penghargaan ISRA 2026.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, pencapaian tersebut juga diwujudkan melalui program CSR Penanaman 99 Pohon di Kabupaten Wonogiri.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya ISRA 2026 untuk tidak hanya memberikan apresiasi terhadap praktik keberlanjutan, tetapi juga menghadirkan aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan dan masyarakat.
ISRA 2026 diharapkan dapat terus menjadi wadah bagi berbagai pihak untuk berbagi pengetahuan, memperkuat kolaborasi, serta mendorong lahirnya inovasi dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan di Indonesia.