Mahasiswa KKN IPB Kenalkan PGPR dan Pestisida Nabati untuk Pertanian Berkelanjutan di Blora

Mahasiswa KKN IPB University memperkenalkan pembuatan PGPR dan pestisida nabati kepada petani Blora, mendukung pertanian organik dan kesehatan tanah secara berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mahasiswa KKN IPB Kenalkan PGPR dan Pestisida Nabati untuk Pertanian Berkelanjutan di Blora
Mahasiswa KKN IPB University memperkenalkan pembuatan PGPR dan pestisida nabati kepada petani Blora, mendukung pertanian organik dan kesehatan tanah secara berkelanjutan. (AntaraNews)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pertanian Bogor (IPB University) telah memperkenalkan teknologi pertanian inovatif kepada para petani di Desa Gempolrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kegiatan ini berfokus pada pengenalan pembuatan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan pestisida nabati. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat kesehatan tanah dan mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara organik.

Daffa, perwakilan mahasiswa KKN IPB, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengenalkan teknologi sederhana yang mudah diterapkan oleh petani. Pemanfaatan sumber daya lokal di lingkungan sekitar menjadi kunci utama dalam inovasi ini. Tujuannya adalah memberikan dampak nyata dan keterampilan baru bagi petani.

PGPR dan pestisida nabati dipilih karena sejalan dengan upaya mendorong pertanian yang lebih berkelanjutan, khususnya pertanian organik. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan bersama sembilan kelompok tani setempat.

Inovasi PGPR dan Pestisida Nabati untuk Pertanian Organik

Mahasiswa KKN IPB University memperkenalkan PGPR, kelompok bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman, berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Inovasi ini menjadi solusi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada input sintetis.

Selain PGPR, pestisida nabati juga diperkenalkan sebagai metode pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) berbasis organik. Daffa, perwakilan mahasiswa KKN IPB, menegaskan bahwa kedua teknologi ini bertujuan untuk penguatan kesehatan tanah dan pengendalian OPT secara berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk menghadirkan inovasi yang memberikan dampak nyata dan menjadi keterampilan yang dapat diterapkan oleh petani. Hal ini sejalan dengan visi pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan di Desa Gempolrejo.

Pemanfaatan Sumber Daya Lokal dalam Pembuatan PGPR dan Pestisida Nabati

Dalam pelatihan yang diberikan, mahasiswa KKN IPB mendemonstrasikan pembuatan PGPR dengan memanfaatkan akar bambu sebagai bahan utama. Akar bambu tersebut difermentasi bersama gula merah, terasi, dedak, dan air steril. Proses ini menunjukkan bagaimana bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi solusi pertanian yang efektif.

Untuk pengendalian hama, mahasiswa memperkenalkan pembuatan pestisida nabati yang berbahan dasar daun pepaya dan bawang putih. Bahan-bahan ini kemudian dicampur dengan air steril dan sabun sebagai perekat, sebelum diaplikasikan pada tanaman.

Pemanfaatan bahan-bahan lokal ini menunjukkan bahwa inovasi pertanian dapat dikembangkan dari sumber daya yang tersedia di desa. Dengan demikian, petani tidak perlu sepenuhnya bergantung pada input sintetis maupun kimia yang seringkali mahal dan berdampak negatif pada lingkungan.

Respon Positif Petani dan Harapan Keberlanjutan

Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan PGPR dan pestisida nabati ini disambut antusias oleh sembilan kelompok tani di Desa Gempolrejo. Para petani dapat melihat langsung proses pembuatannya dan berdiskusi mengenai penerapannya di lahan mereka.

Wawan, salah seorang ketua kelompok tani, mengaku memperoleh pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. "Ini merupakan hal baru bagi kami, karena sebelumnya belum pernah ada sosialisasi seperti ini," ujarnya. Ia berharap PGPR dan pestisida nabati dapat dikenalkan dan dimanfaatkan oleh lebih banyak petani.

Petani lainnya, Sumindar, juga menunjukkan ketertarikan mendalam setelah mengikuti sosialisasi. "Setelah mendengar penjelasan tentang PGPR, saya mencoba mencari informasi lagi di internet. Ternyata manfaatnya sangat baik dan bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kesuburan tanah, terutama saat menghadapi kondisi kekeringan," kata Sumindar.

Mahasiswa KKN IPB berharap pengetahuan tentang PGPR dan pestisida nabati ini dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh petani setelah program KKN berakhir. Hal ini diharapkan dapat mewujudkan pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan di Desa Gempolrejo.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi