Harapan menemukan titik terang dalam pencarian kapal cepat Arupadhatu 1 membawa lima jurnalis dan tiga awak muncul setelah mayat ABK Arupadhatu ditemukan di pesisir Pulau Enggano, Bengkulu Utara. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri memastikan jenazah tersebut adalah Surakman melalui pemeriksaan DNA.
Kapolda Banten Irjen Hengki menyebut informasi penemuan jenazah diterima pada hari kelima operasi di perairan Sawah Bengkok, Pulau Enggano, Sabtu (12/9).
"Pada Sabtu, hari kelima pencarian kita mendapat informasi dari Polda Bengkulu, bahwa di pulau Enggano, Bengkulu utara, ditemukan jenazah Mr. X. Dengan penemuan tersebut, berdasarkan pengalaman, pernah juga tiga penyelam, salah satunya ditemukan di Bengkulu," tutur Hengki dalam jumpa pers di Polda Banten, Serang, Rabu (23/9).
Menurut Hengki, Polda Banten berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk mengevakuasi jenazah ke RS Bhayangkara Bengkulu menggunakan pesawat Cessna. Tim juga mengumpulkan data ante mortem dari delapan keluarga untuk dicocokkan dengan data post mortem korban ditemukan, dan seluruh proses ditangani Pusdokkes Polri.
"Kemudian kita berkoordinasi jenazah itu untuk diamankan dari Enggano, dibawa menggunakan Cessna menuju RS Bhayangkara Bengkulu. Hasil koordinasi Kabid Dokes Polda Banten dan Bengkulu, mengirimkan Antemortem dan Posmortem, dari delapan keluarga, ada satu jenazah Mr. X tadi dilakukan pemeriksaan Pusdokkes Polri," ujar dia.
Hasil identifikasi DNA kemudian mengungkap identitas jenazah tersebut sebagai Surakman, salah satu dari tiga kru Arupadhatu 1.
"Pada Sabtu, 12 September 2026, di perairan Sawah Bengkok, Enggano. Proses identifikasi mayat, disepakati untuk dilakukan identifikasi dan pencocokan oleh tim DVI. Hasil identifikasi pemeriksaan DNA, secara kemiripan, jenazah Mr. X tadi teridentifikasi sebagai Surakman, ayah biologis dari Yayat, putra kandung Surakman, ABK Arupadhatu 1," jelas Hengki.
Advertisement
Rentetan Pencarian dan Temuan di Laut
Penemuan jenazah di Enggano pada awalnya belum dapat dihubungkan dengan hilangnya Arupadhatu 1. Kondisi wajah korban yang tidak dikenali membuat tim harus melakukan pemeriksaan forensik sebelum identitasnya dipastikan.
Pusdokkes Polri kemudian menemukan kecocokan antara data post mortem jenazah dan data ante mortem salah satu dari delapan orang yang masih dinyatakan hilang. Lokasi penemuan juga cukup jauh, sekitar 380 kilometer dari titik awal rombongan jurnalis dilaporkan hilang.
Sebelum penemuan di Enggano, operasi pencarian berlangsung berhari-hari dengan cakupan yang terus diperluas. Pada tahap awal, tim gabungan menyisir jalur yang diperkirakan dilalui rombongan menuju Gunung Anak Krakatau, meliputi perairan dari Carita hingga kawasan sekitar Anak Krakatau serta sejumlah pulau di sekitarnya.
Tim dibagi dalam lima Search and Rescue Unit (SRU). SRU pertama menggunakan KN SAR Tetuka dengan area pencarian 68 nautical mile (NM). SRU kedua mengerahkan KAL Anyer milik TNI AL dengan jarak pencarian 69 NM. SRU ketiga dari Basarnas Lampung menggunakan RIB 01 dan RIB 03 untuk area 67 NM. Adapun SRU 5 mengoperasikan KP Sanjaya milik Polairud Polda Banten dengan jarak pencarian 67 NM.
Seiring berjalannya operasi, area pencarian diperluas mengikuti perkembangan di lapangan. "Untuk pencarian kita perluas," ujar Kasie Ops Basarnas Banten Riski Dwi, Rabu (9/9).
Pada 10 September, KAL Anyer menemukan sebuah jaket pelampung berwarna oranye dan buoy di sekitar wilayah pencarian. Meski berada di area operasi, TNI AL belum dapat memastikan keterkaitan benda tersebut dengan rombongan Arupadhatu 1.
Pada hari-hari berikutnya, tim kembali menemukan sejumlah benda lain, di antaranya dua jaket pelampung, helm proyek, dan jeriken. Kendati ditemukan di tengah operasi, belum ada kepastian bahwa barang-barang itu berasal dari speedboat yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal.
Advertisement
Cuaca Menghambat, Pencarian Mayat ABK Arupadhatu Diatur Ulang
Memasuki hari ketujuh, cuaca menjadi salah satu kendala utama. Tim SAR Lampung yang menggunakan KN SAR Basudewa belum dapat menyisir secara maksimal sejumlah wilayah, termasuk Teluk Semangka hingga sekitar Pulau Tabuan, karena kecepatan angin yang cukup tinggi.
Meski demikian, operasi pencarian tetap dilanjutkan. Setelah evaluasi dari hari pertama hingga hari ketujuh, tim memutuskan memperpanjang operasi selama tiga hari, hingga Kamis, 17 September 2026.
Kekuatan personel dan peralatan tetap dikerahkan dengan menyesuaikan kondisi cuaca. Pemantauan dari udara juga menjadi opsi, namun pengerahan helikopter mempertimbangkan kecepatan angin serta keberadaan debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
Pada hari ke-10, tepatnya 17 September 2026, cakupan pencarian kembali diperluas hingga sekitar 8.508 mil laut persegi. Sebanyak 24 kapal dikerahkan dan wilayah operasi dibagi menjadi 10 sektor.
Armada tersebut terdiri dari delapan kapal TNI AL, delapan kapal Polairud, tujuh kapal Basarnas, dan satu kapal KPLP. Pencarian juga dilakukan di daratan dengan menyisir pesisir Carita hingga Pantai Anyer.
Hingga batas waktu operasi yang ditetapkan, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan para korban maupun kapal Arupadhatu 1.
"Aturan kami di Basarnas ini, operasi SAR tujuh hari, ketujuh juga kita lakukan pencarian tidak ada tanda-tanda, objek juga, tadi sudah disampaikan Polair dan TNI AL juga. Kalau kami mengacu pada peraturan kami tersebut, seharusnya kita sudah closed," ujar Kepala Basarnas Banten Al Amrad, Kamis (17/9/2026).
Basarnas kemudian menutup operasi pencarian. Kendati demikian, operasi dapat kembali dibuka apabila terdapat informasi mengenai temuan material yang berkaitan dengan Arupadhatu 1 maupun para penumpangnya.