Mahasiswa Undip Raih Juara dengan Inovasi Biocleaner Minyak Jelantah Berbasis Ekstrak Kemangi

Mahasiswa SV Undip, Sigit Pramana, berhasil meraih juara dua dalam kompetisi nasional berkat inovasi biocleaner minyak jelantah yang ramah lingkungan, memanfaatkan ekstrak daun kemangi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mahasiswa Undip Raih Juara dengan Inovasi Biocleaner Minyak Jelantah Berbasis Ekstrak Kemangi
Mahasiswa SV Undip berhasil meraih juara kedua berkat Inovasi Limbah Jelantah Kemangi. Ia mengubah minyak bekas pakai menjadi biocleaner ramah lingkungan, solusi cerdas atasi polusi. (AntaraNews)

Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi (SV) Universitas Diponegoro (Undip), Sigit Pramana, menorehkan prestasi gemilang. Ia berhasil meraih juara kedua dalam ajang "Essay Kopsi Competition" yang diselenggarakan oleh KOPSI FEB Universitas Airlangga Surabaya pada awal November lalu. Kompetisi ini mempertemukan berbagai gagasan inovatif dari mahasiswa seluruh Indonesia.

Inovasi yang diusung Sigit berfokus pada pengolahan limbah minyak jelantah yang kerap menjadi masalah lingkungan. Ia berhasil mengubah limbah tersebut menjadi produk pembersih ramah lingkungan, atau biocleaner, dengan memanfaatkan ekstrak daun kemangi. Penemuan ini menunjukkan potensi besar dalam mengatasi pencemaran dan menciptakan solusi berkelanjutan.

Proses pengolahan ini menggunakan metode canggih bernama Microwave-Assisted Extraction (MAE) untuk mengekstrak senyawa bioaktif dari daun kemangi. Hasilnya adalah biocleaner yang tidak hanya efektif membersihkan, tetapi juga aman bagi lingkungan. Prestasi Sigit ini menjadi bukti nyata penerapan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan lingkungan.

Sigit Pramana menjelaskan bahwa inovasinya berakar pada pemanfaatan kembali minyak jelantah yang seringkali dibuang begitu saja. Padahal, limbah minyak jelantah masih memiliki potensi sebagai bahan baku produk pembersih. Pendekatan ini menawarkan solusi cerdas untuk mengurangi limbah rumah tangga dan industri.

Kunci dari inovasi biocleaner minyak jelantah ini terletak pada penambahan ekstrak daun kemangi. Daun kemangi, yang umumnya dikenal sebagai bumbu dapur, ternyata menyimpan senyawa bioaktif penting. Senyawa seperti fenolik dan flavonoid dalam kemangi memiliki sifat antibakteri yang kuat, menjadikannya agen pembersih alami yang efektif.

"Daun kemangi bukan sekadar bumbu dapur, tetapi sumber senyawa bioaktif," ungkap Sigit. Ia menambahkan bahwa melalui metode MAE, senyawa-senyawa tersebut dapat diekstraksi lebih cepat dan kualitasnya tetap terjaga. Ini memastikan bahwa potensi antibakteri dari kemangi dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam produk biocleaner.

Metode Microwave-Assisted Extraction (MAE) menjadi tulang punggung efisiensi dalam inovasi ini. MAE adalah teknik ekstraksi modern yang memanfaatkan gelombang mikro untuk memanaskan pelarut dan sampel secara cepat dan merata. Pemanasan yang merata ini mempercepat proses ekstraksi senyawa aktif.

Proses MAE memungkinkan dinding sel tanaman, dalam hal ini daun kemangi, lebih mudah pecah. Akibatnya, senyawa bioaktif seperti fenolik dan flavonoid dapat diekstraksi lebih efisien dan cepat dibandingkan metode konvensional. Keunggulan MAE ini memastikan hasil ekstraksi yang optimal dengan waktu yang lebih singkat.

Dengan kombinasi minyak jelantah dan ekstrak kemangi yang diekstraksi secara efisien, produk biocleaner yang dihasilkan tidak hanya ramah lingkungan. Produk ini juga memiliki daya bersih yang efektif, menawarkan alternatif yang lebih aman dibandingkan pembersih kimia konvensional. Inovasi ini menjawab kebutuhan akan produk yang berkelanjutan.

Inovasi Sigit Pramana ini tidak hanya sekadar meraih penghargaan, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan. Produk biocleaner dari minyak jelantah dan ekstrak kemangi ini menjadi solusi nyata terhadap masalah pencemaran lingkungan. Terutama yang disebabkan oleh pembuangan limbah minyak jelantah secara sembarangan.

Dr. Mohamad Endy Julianto, selaku pembimbing Sigit dan Kepala Prodi TRKI SV Undip, memberikan apresiasi tinggi terhadap penelitian ini. Ia menilai bahwa penelitian tersebut merupakan bentuk penerapan sains terapan yang sangat bermanfaat dan relevan dengan kondisi saat ini. Ini menunjukkan kualitas pendidikan vokasi yang berorientasi pada solusi praktis.

"Penelitian ini menarik karena mampu mengubah limbah menjadi produk bermanfaat melalui metode yang efisien seperti MAE. Ini contoh penerapan ilmu pengetahuan yang langsung menjawab kebutuhan lingkungan," kata Dr. Mohamad Endy Julianto. Pernyataan ini menegaskan pentingnya inovasi dalam menciptakan keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi