Layanan Hemodialisis RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang Kembali Beroperasi Pascabanjir
Setelah sempat terhenti total akibat bencana banjir, Layanan Hemodialisis RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang kini kembali beroperasi penuh, membawa harapan baru bagi pasien gagal ginjal di wilayah tersebut.
Jakarta, 18 Januari 2026 – Layanan cuci darah atau hemodialisis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Aceh Tamiang telah kembali beroperasi penuh. Pengaktifan kembali layanan vital ini menjadi kabar baik bagi ratusan pasien gagal ginjal yang sangat bergantung pada terapi tersebut. Sebelumnya, operasional layanan sempat terhenti total akibat bencana banjir besar yang melanda wilayah Aceh Tamiang sejak 26 November 2025 lalu.
Kembalinya layanan ini menandai berakhirnya masa sulit bagi banyak pasien yang harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan perawatan. Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Hemodialisis RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, Puji Rahayu, mengonfirmasi bahwa operasional telah berjalan normal. Banjir yang merendam ruang hemodialisis telah menyebabkan kerusakan parah pada mesin dan peralatan medis, sehingga pelayanan tidak dapat dilanjutkan.
Proses pemulihan layanan hemodialisis ini membutuhkan waktu dan upaya besar dari pihak rumah sakit. Setelah air banjir surut, tim medis dan teknisi bekerja keras untuk membersihkan lumpur, memeriksa peralatan, serta melakukan uji coba mesin secara bertahap. Layanan ini resmi dibuka kembali sejak 23 Desember 2025, setelah sistem air bersih dan instalasi Reverse Osmosis (RO) berhasil dipulihkan dan berfungsi optimal.
Dampak Banjir dan Penghentian Layanan Vital
Bencana banjir besar pada 26 November 2025 lalu membawa dampak signifikan terhadap fasilitas kesehatan di Aceh Tamiang, termasuk RSUD Muda Sedia. Ruang hemodialisis terendam air, menyebabkan kerusakan serius pada mesin dan peralatan medis yang krusial. Dokter Puji Rahayu menjelaskan, “Saat banjir pertama, kami masih sempat melayani pasien hingga satu shift. Namun, air terus naik dan akhirnya masuk ke seluruh ruangan, sehingga mesin dan peralatan tidak sempat diselamatkan.”
Penghentian layanan cuci darah ini menciptakan krisis bagi pasien gagal ginjal. Sebagian besar dari mereka terpaksa dirujuk ke rumah sakit lain yang berlokasi lebih jauh, seperti di Aceh Timur dan Medan. Hal ini tidak hanya membebani pasien secara fisik dan psikologis, tetapi juga secara ekonomi, mengingat biaya transportasi dan akomodasi tambahan yang harus ditanggung.
Keterlambatan dalam menjalani terapi cuci darah dapat berakibat fatal. Dokter Puji Rahayu mengungkapkan, “Ada pasien yang tidak sempat menjalani cuci darah hingga beberapa kali dan mengalami kondisi kritis. Bahkan, ada yang meninggal dunia. Kami tidak bisa memastikan apakah itu akibat keterlambatan dialisis atau komplikasi lain.” Situasi ini menggarisbawahi betapa pentingnya akses berkelanjutan terhadap Layanan Hemodialisis Aceh Tamiang bagi kelangsungan hidup pasien.
Perjuangan Pemulihan dan Tantangan Air Bersih
Setelah banjir surut, RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang segera memulai upaya pemulihan. Tahap awal meliputi pembersihan menyeluruh dari lumpur dan sisa-sisa banjir yang mengotori seluruh area rumah sakit, termasuk ruang hemodialisis. Selanjutnya, pemeriksaan mendalam terhadap setiap peralatan medis dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan dan menentukan langkah perbaikan yang diperlukan.
Salah satu tantangan terbesar dalam memulihkan Layanan Hemodialisis Aceh Tamiang adalah ketersediaan air bersih dan sistem Reverse Osmosis (RO). “Hemodialisis sangat bergantung pada air bersih. Mesin sudah tersedia, namun kendala utama saat itu adalah sistem air bersih dan pembuangan limbah,” jelas Dokter Puji Rahayu. Tanpa pasokan air bersih yang memadai dan sistem RO yang berfungsi, mesin hemodialisis tidak dapat digunakan.
Berkat kerja keras tim dan dukungan berbagai pihak, sistem air bersih dan instalasi RO berhasil diperbaiki. Saat ini, lima mesin hemodialisis telah berfungsi optimal dan siap melayani pasien. Sementara itu, mesin-mesin lainnya masih dalam proses perbaikan bertahap, menunjukkan komitmen RSUD Muda Sedia untuk mengembalikan kapasitas layanan sepenuhnya.
Harapan Baru bagi Pasien Gagal Ginjal
Kembalinya Layanan Hemodialisis Aceh Tamiang di RSUD Muda Sedia membawa angin segar bagi pasien dan keluarga. Aisyah, anak dari salah satu pasien, menyampaikan rasa syukurnya. “Sekarang tidak perlu pergi jauh ke rumah sakit lain. RSUD ini paling dekat dari rumah, dan biaya serta tenaga yang dikeluarkan juga jauh lebih ringan,” kata Aisyah. Pernyataan ini mencerminkan betapa besar dampak positif pemulihan layanan ini terhadap kualitas hidup pasien.
Pihak RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang terus berkomitmen untuk mengoptimalkan seluruh layanan kesehatan pascabencana. Upaya percepatan perbaikan mesin yang tersisa dan pemenuhan kebutuhan air bersih secara berkelanjutan menjadi prioritas utama. Hal ini dilakukan demi memastikan bahwa seluruh pasien gagal ginjal di Aceh Tamiang dapat memperoleh perawatan yang mereka butuhkan tanpa hambatan.
Pemulihan ini bukan hanya sekadar pengaktifan kembali sebuah layanan, melainkan juga simbol ketahanan dan dedikasi dalam menghadapi tantangan. RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang bertekad untuk terus memberikan pelayanan kesehatan terbaik, memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan akses yang layak terhadap perawatan medis esensial.
Sumber: AntaraNews