Komisi V DPR Minta Pemerintah Tidak Malu Minta Bantuan untuk Atasi Bencana Sumatra
Menurut Komisi V DPR pemerintah daerah punya keterbatasan APDB dalam menangani bencana.
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus meminta pemerintah untuk gerak cepat menangani bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ia meminta pemerintah tak malu untuk meminta bantuan jika memang tak mampu menangani bencana Sumatra.
Hal itu disampaikan Lasarus saat rapat kerja bersama Kemenhub, KemenPU, Basarnas, BMKG, dan Korlantas di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/12/2025).
Awalnya, Lasarus menyebut bahwa keterbatasan APBD telah menjadi kendala serius bagi pemerintah daerah dalam menanggulangi dampak bencana.
Keterbatasan kemampuan fiskal daerah
"Kami seluruh pimpinan dan anggota Komisi V mendapatkan informasi dari daerah, bahwa keterbatasan biaya APBD daerah sangat mempengaruhi kekuatan mereka dalam menangani bencana ini," kata Lasarus dalam rapat.
"Keterbatasan kemampuan fiskal daerah ini, mau tidak mau harus ada inisiatif dari pemerintah pusat, supaya bencana ini segera bisa kita tangani," sambungnya.
Lasarus menyebut, saat ini masih ada titik-titik daerah yang belum terjangkau atau terisolasi. Ia berharap kurangnya anggaran tidak menjadi kendala dalam penanganan bencana Sumatra.
"Hari ini kami masih menerima laporan, bahwa masih ada titik-titik yang belum bisa dijangkau penuh oleh tim yang ada di lapangan, oleh karenanya kami berharap sektor pembiayaan ini atau pendanaan ini, bukanlah menjadi kendala utama, sehingga kita bisa menangani bencana ini dengan baik," ujarnya.
Masyarakat membutuhkan kehadiran cepat negara
Lasarus juga menyerahkan kepada pemerintah terkait penetapan status bencana nasional. Namun, ia mengingatkan pemerintah tak malu jika merasa kesulitan dalam menangani bencana tersebut.
"Silakan pemerintah mau menetapkan status ini seperti apa, yang penting bagi kami adalah tangani dengan cepat," ujarnya.
"Bantu masyarakat ini dengan cepat, kalau kita tidak mampu nggak usah malu kita minta pertolongan dari pihak manapun, karena masyarakat di lokasi bencana pasti membutuhkan kehadiran cepat negara di sekitar ketidakmampuan mereka menghadapi kondisi yang ada sekarang ini," pungkasnya.