Guru mesum malapetaka masa depan anak bangsa

Rabu, 28 Februari 2018 09:21 Reporter : Lia Harahap
Guru mesum malapetaka masa depan anak bangsa pelaku pencabulan di surabaya. ©2017 Merdeka.com/Bruriy Susanto

Merdeka.com - Ada apa dengan dunia pendidikan Tanah Air? Guru yang sejatinya menjadi tenaga pendidik malah berbuat asusila pada anak didiknya.

Beberapa bulan terakhir, peristiwa semacam ini sering kali ramai diberitakan. Bikin miris lagi, murid yang menjadi korban kejahatan seksual para guru mesum sampai puluhan orang.

Terbaru dan saat ini masih diselidiki Polda Jatim adalah 65 murid dicabuli seorang guru SD di Surabaya. Kejadian ini jelas mengejutkan. Bagaimana mungkin tujuan orangtua menyekolahkan anak agar kelak menjadi kebanggaan, malah dirusak jiwanya oleh kelakuan guru mesum. Sebuah malapetaka.

Beberapa pekan sebelumnya, 27 murid SMP di Jombang juga dicabuli gurunya. Bahkan cerita kelam serupa juga menimpa sejumlah murid di sebuah pesantren di Nganjuk.

Ragam temuan kasus itu mungkin juga terjadi di pelosok daerah Indonesia lainnya. Dalam catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), di sepanjang tahun 2016 sebanyak 716 anak-anak menjadi korban kejahatan seksual. Kemudian di tahun 2017, memang terjadi penurunan signifikann 93 anak. Namun tetap saja tak seharusnya seorang anak menjadi pelampiasan ulah bejat orang dewasa, apalagi itu orangtua dan guru.

"Karena anak yang menjadi korban akan memiliki potensi menjadi pelaku. Besar potensinya," kata Komisioner KPAI, Retno Listyarti, saat ditemui di Mapolda Jawa Timur pada Selasa (27/2) kemarin.

Menanggapi maraknya kasus pelecehan seksual yang dilakuan seorang guru terhadap murid membuat pengamat pendidikan, Darmaningtyas, sangat prihatin.

"Karena sebetulnya, kalau di Tamansiswa dulu Ki Hajar punya prinsip 3 pantang, salah satunya adalah tidak boleh bertindak asusila terhadap murid. Pelecehan itu bagian dari itu. Nah rupanya pantangan seperti itu sudah tidak diikuti para guru sekarang, mungkin juga efek dari perkembangan teknologi informasi memungkinkan guru berinteraksi secara egaliter dengan murid, misal bisa melakukan WA atau SMS jadi kayak temen. Padahal seharusnya moralitas guru tetap ada, yakni harus jarak jarak dengan murid," katanya saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (28/2).

"Jarak dalam arti positif ya, jadi murid dan guru itu harus ada moral barrier. Sedekat apapun guru itu harus ada pagar dari murid," jelasnya.

Dulu, kata dia, tenaga pendidik yang mengenyam pendidikan di SPG dan IKIP diberikan ilmu tentang dikdaktikmetodik. Yakni metode bagaimanan seorang guru. "Nah kalau sekarang saya kurang tau, mungkin itu sebab guru tidak tahu bagaimana membangun relasi dengan murid," katanya.

Terlepas dari apapun itu, dia meminta tenaga pendidik yang melakukan kejahatan seksual pada muridnya langsung dipecat sekalipun dia seorang PNS.

"Tidak ada toleransi, apalagi kalau itu guru negeri. Saya saran begitu. Mudah-mudahkan kalau diterapkan, apalagi di sekolah negeri bisa jadi efek jera, krena mereka tahu guru sudah sejahtera sekarang sehingga tidak mau mengambil risiki yang berujung kehilangan pekerjaan," harap dia.

"Jadi pemerintah harus buat peratuan tegas. Kalau guru lakukan pelecehan seksual harus keluar, tapi memang kalau di swasta ada aturannya sendiri. Tapi guru PNS bisa itu harusnya, tapi masalahnya UU ASN ada gak, keran setahu saya dulu itu enggak ada. Tapi ssaya rasa itu harus ada tegas diatur," jelasnya menutup perbincangan. [ded]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini