Fakta Unik: Tirakat Malam Suro Jadi Bagian Healing di Royal Surakarta Wellness Festival, Intip 5 Aktivitas Kebugaran ala Ningrat!

Royal Surakarta Wellness Festival (RSWF) hadirkan pengalaman unik budaya Keraton Surakarta untuk healing, termasuk tirakat malam Suro. Penasaran dengan aktivitas kebugaran ala ningrat ini?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Tirakat Malam Suro Jadi Bagian Healing di Royal Surakarta Wellness Festival, Intip 5 Aktivitas Kebugaran ala Ningrat!
Royal Surakarta Wellness Festival (RSWF) hadirkan pengalaman unik budaya Keraton Surakarta untuk healing, termasuk tirakat malam Suro. Penasaran dengan aktivitas kebugaran ala ningrat ini? (Merdeka.com)

Royal Surakarta Wellness Festival (RSWF) siap menyapa para pencari ketenangan dan pengalaman budaya unik pada 1 hingga 30 November 2025. Festival ini akan digelar di Surakarta, menghadirkan serangkaian kegiatan yang erat kaitannya dengan kearifan lokal serta kekayaan budaya Keraton Surakarta.

Inisiatif ini bertujuan untuk mengubah pandangan masyarakat tentang liburan, dari sekadar kunjungan ke tempat wisata menjadi sebuah perjalanan 'healing' atau penyembuhan diri. Project Leader RSWF, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Putri Purnaningrum, menjelaskan bahwa festival ini berupaya mengintegrasikan budaya sebagai bagian dari proses penyembuhan.

Salah satu contoh kegiatan unik yang akan ditawarkan adalah tirakat pada malam satu Suro, di mana peserta akan berjalan kaki mengitari Benteng Keraton Surakarta. Konsep ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur baru dalam menjadikan budaya sebagai sarana penyembuhan diri yang mendalam.

Menyelami Kearifan Lokal dalam Kebugaran Jiwa

Royal Surakarta Wellness Festival (RSWF) tidak hanya sekadar festival kebugaran biasa, melainkan sebuah platform untuk memperkenalkan kekayaan budaya Keraton Surakarta sebagai medium penyembuhan. Gusti Raden Ajeng (GRAj) Putri Purnaningrum, Project Leader RSWF, menegaskan bahwa festival ini bukan hanya tentang yoga atau semangat orang Jawa dalam industri wisata kebugaran.

Lebih dari itu, RSWF ingin menjadikan rangkaian acaranya sebagai tolak ukur bagaimana budaya dapat menjadi bagian integral dari penyembuhan diri. Konsep "healing" yang diusung festival ini sangat lekat dengan tradisi dan ritual yang telah lama hidup di lingkungan Keraton Surakarta.

"Jadi kita tidak hanya mengubah segmen kegiatan liburan kunjungan ke tempat wisata-wisata saja, tetapi kita ubah untuk menjadikan mereka ikut serta kegiatan healing (penyembuhan)," kata Gusti Raden Ajeng (GRAj) Putri Purnaningrum. Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa warisan budaya memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan mental dan spiritual.

Salah satu contoh nyata adalah kegiatan tirakat pada malam satu Suro, yang melibatkan ritual berjalan kaki mengitari Benteng Keraton Surakarta. Aktivitas ini mencerminkan bagaimana kearifan lokal dapat dimanfaatkan untuk mencapai ketenangan batin dan kesejahteraan spiritual.

Lima Rangkaian Aktivitas Unik RSWF

Festival kebugaran ini akan dibagi menjadi lima kegiatan utama yang dirancang untuk memberikan pengalaman budaya yang intim dan mendalam. Setiap kegiatan dibatasi hanya untuk 20 orang peserta, memastikan kualitas interaksi dan pembelajaran yang maksimal.

Kegiatan pertama adalah "Javanese Wisdom Immersion", yang mencakup pengalaman mengenal teori dan atribut abdi dalem, mempelajari cara mengenakan busana tradisional abdi dalem, hingga merangkai bunga sesaji dan menatanya di tempat sakral. Ini memberikan pemahaman langsung tentang kehidupan dan filosofi Keraton.

Selanjutnya, ada "Gendhing for Therapy" yang mengajak peserta belajar tembang (puisi tradisional Jawa), mengenal instrumen gamelan, dan menyelami notasi gamelan. Aktivitas ini menyoroti peran musik tradisional dalam terapi suara dan relaksasi.

Dua kegiatan lainnya adalah "Royal Dance Symphony" yang menawarkan lokakarya tari tradisional gaya Surakarta, serta "A Holy Journey" yang melibatkan berjalan menyusuri dinding Keraton dan meditasi di Tugu Pamandengan. Terakhir, "Javanese Secret Recipe" akan menjadi lokakarya jamu tradisional dan lulur tubuh, diakhiri dengan pertunjukan wayang kertas.

Setiap kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman berharga, di mana budaya yang dikenalkan dapat melekat dan menjadi bagian dari perjalanan penyembuhan diri peserta. Untuk mengikuti satu kegiatan, peserta dikenakan biaya sebesar Rp1,5 juta.

Kebugaran Ala Ningrat untuk Generasi Milenial dan Gen Z

Kanjeng Raden Aryo Rizki Baruna Ajidiningrat, Director of Event Royal Surakarta Wellness Festival, menyatakan bahwa festival ini sangat spesial karena masyarakat akan merasakan langsung pengalaman kebugaran seorang ningrat di Solo. Konsep ini diharapkan menarik minat berbagai kalangan.

Kegiatan yang ditawarkan juga sangat cocok diikuti oleh generasi muda, seperti Gen Z atau milenial, karena pengalaman budaya tersebut telah dimodernisasi. Hal ini memastikan bahwa festival tidak akan terasa seperti lokakarya yang kaku, melainkan pengalaman yang relevan dan menarik.

Menurut Kanjeng Raden Aryo Rizki Baruna Ajidiningrat, "Jadi bagaimana kita mengajarkan orang-orang luar sana bagaimana menjadi seorang Jawa yang jangkep atau lengkap, di sana tagline-nya mas-mas atau mbak-mbak Jawa premium." Ini menunjukkan upaya untuk mengemas budaya secara menarik dan kontemporer.

Modernisasi ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara tradisi kuno dan gaya hidup modern, sehingga warisan budaya dapat terus relevan dan diminati oleh generasi penerus. Festival ini menjadi ajang untuk memperkenalkan identitas Jawa yang "jangkep" atau lengkap kepada khalayak luas.

Gamelan sebagai Terapi Suara dan Kolaborasi Pariwisata

Salah satu aspek menarik dari Royal Surakarta Wellness Festival adalah dimasukkannya gamelan dalam rangkaian kegiatan. Kanjeng Raden Aryo Rizki Baruna Ajidiningrat menjelaskan bahwa gamelan dihadirkan agar masyarakat menyadari potensi suara sebagai bagian dari penyembuhan.

Melalui "Gendhing for Therapy", festival ini berupaya menghilangkan stigma bahwa gamelan identik dengan hal-hal mistis atau mengundang kedatangan makhluk halus. Sebaliknya, gamelan diperkenalkan sebagai alat terapi yang dapat memberikan ketenangan dan keseimbangan batin.

Selain fokus pada pengalaman budaya, RSWF juga melibatkan berbagai pelaku wisata sekitar dan stakeholder penting. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) turut serta dalam mendukung festival ini.

Kolaborasi ini menunjukkan komitmen RSWF untuk tidak hanya mempromosikan budaya, tetapi juga memberdayakan industri pariwisata lokal. Setelah konferensi pers bersama Kementerian Pariwisata, panitia akan segera kembali ke Solo untuk memantau animo masyarakat dan memastikan kesuksesan acara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi