Fakta Unik: Mengapa Kepercayaan Polri Masih Jadi PR Besar? Pengamat Ungkap Kesenjangan Persepsi!

Pengamat kebijakan publik menyoroti rapuhnya kepercayaan masyarakat kepada Polri sebagai PR besar. Meski kinerja meningkat, persepsi publik sering tertinggal dari realita faktual, memicu rasa penasaran.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Mengapa Kepercayaan Polri Masih Jadi PR Besar? Pengamat Ungkap Kesenjangan Persepsi!
Pendiri Haidar Alwi Institute mempertanyakan motivasi di balik revisi UU Kejaksaan dan KUHAP, khawatir revisi tersebut justru melindungi kepentingan tertentu dan bukan untuk penegakan hukum yang lebih baik. (Planet Merdeka)

Pengamat kebijakan publik, Haidar Alwi, baru-baru ini menyoroti sebuah pekerjaan rumah besar yang masih dihadapi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Menurutnya, rapuhnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi ini menjadi tantangan utama yang perlu segera diatasi. Hal ini disampaikan Haidar Alwi di Jakarta pada hari Rabu.

Meskipun banyak indikator objektif menunjukkan peningkatan efektivitas Polri dalam penegakan hukum dan pelayanan publik, persepsi masyarakat justru seringkali tertinggal. Kesenjangan ini menciptakan paradoks antara realita faktual dan pandangan publik yang ada. Situasi ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Institute, menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat masih terpaku pada citra masa lalu Polri. Mereka cenderung cepat menilai berdasarkan kasus viral, mengabaikan ribuan kinerja positif anggota Polri lainnya yang tidak terekspos luas. Ini menjadi akar masalah utama rapuhnya kepercayaan Polri.

Haidar Alwi menggarisbawahi adanya kesenjangan persepsi yang signifikan antara kinerja faktual Polri dan pandangan masyarakat. Ia menyebutnya sebagai "paradoks" di mana peningkatan efektivitas institusi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepercayaan publik. Persepsi ini seringkali bias dan sensasional, dipicu oleh ekosistem informasi yang ada.

Menurutnya, masyarakat cenderung melihat Polri melalui "kacamata masa lalu" dan terlalu cepat menghakimi berdasarkan kasus-kasus viral. Padahal, di balik sorotan negatif tersebut, terdapat ribuan kinerja senyap anggota Polri yang patut diapresiasi. Kinerja positif ini jarang mendapat perhatian media atau publik secara luas.

Satu kesalahan kecil yang dilakukan oleh seorang anggota dapat dengan mudah menghancurkan reputasi seluruh institusi. Sementara itu, capaian positif yang telah diraih seringkali luput dari pantauan dan apresiasi publik. Ini menunjukkan betapa rapuhnya citra dan kepercayaan Polri di mata masyarakat saat ini.

Di era digital saat ini, informasi menyebar dengan sangat cepat, baik itu fakta maupun distorsi. Haidar Alwi menilai bahwa ekosistem informasi yang bias dan sensasional seringkali menjadi pemicu utama kesenjangan persepsi ini. Hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya membangun kembali kepercayaan Polri.

Kinerja Polri yang baik adalah capaian yang dapat diukur secara objektif melalui berbagai indikator. Namun, tingkat kepercayaan publik adalah refleksi yang bersifat subjektif dan mudah dipengaruhi oleh narasi negatif. Jika masyarakat terus menilai Polri berdasarkan distorsi informasi, institusi ini akan terus "dihukum" atas kesalahannya.

Oleh karena itu, Haidar Alwi menekankan pentingnya peran masyarakat dalam proses ini. Ia mengajak publik untuk beralih dari keraguan menuju pengakuan atas kinerja Polri. "Sebab kepercayaan tidak akan tumbuh bila hanya satu pihak yang bekerja keras membangunnya," kutipnya, menegaskan bahwa ini adalah tanggung jawab bersama untuk meningkatkan kepercayaan Polri.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi