Fakta Unik: Limbah Cangkang Kerang Jadi Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK, Lolos Pendanaan PKM 2025

Mahasiswa USK Aceh berhasil menciptakan Inovasi Pelindung Pangan CIPECO dari limbah cangkang kerang hijau, lolos pendanaan PKM 2025 Kemendiktisaintek. Penasaran bagaimana cara kerjanya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Limbah Cangkang Kerang Jadi Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK, Lolos Pendanaan PKM 2025
Mahasiswa USK Aceh berhasil menciptakan Inovasi Pelindung Pangan CIPECO dari limbah cangkang kerang hijau, lolos pendanaan PKM 2025 Kemendiktisaintek. Penasaran bagaimana cara kerjanya? (Merdeka.com)

Banda Aceh, sebuah kota yang kaya akan potensi maritim, kembali menorehkan prestasi gemilang melalui tangan-tangan inovatif mahasiswanya. Universitas Syiah Kuala (USK) dengan bangga mengumumkan keberhasilan tim mahasiswanya dalam meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2025 dari Kemendiktisaintek. Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK menjadi sorotan utama, sebuah terobosan yang menjanjikan solusi berkelanjutan bagi ketahanan pangan.

Inovasi ini, yang dikenal sebagai Circular Processing Edible Coating (CIPECO), dikembangkan oleh tim multidisipliner dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK. Mereka berhasil menciptakan lapisan pelindung pangan alami yang dirancang khusus untuk memperpanjang masa simpan produk protein. Pengumuman ini disampaikan di Banda Aceh pada Sabtu, 27 September, menandai langkah maju dalam riset aplikatif.

CIPECO tidak hanya sekadar pengawet; ia adalah jawaban atas tantangan besar dalam pengelolaan limbah laut dan kebutuhan akan pangan yang lebih awet. Dengan memanfaatkan limbah cangkang kerang hijau yang melimpah di pesisir Aceh, inovasi ini menawarkan solusi pengawet alami yang aman. Produk ini praktis, dan sangat ramah lingkungan, bukti nyata bahwa riset lokal dapat memberikan dampak global.

Detail Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK

Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK digagas oleh M Abdul Hamid sebagai Ketua Tim, bersama M Zacky Barsya dan M Abidzar dari program studi teknologi pangan dan hasil pertanian. Mereka berkolaborasi dengan Dara Apriani dan Azid Ramadhan dari program studi manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK. Tim ini berhasil menyatukan keahlian dari berbagai disiplin ilmu untuk menciptakan solusi yang komprehensif.

Abdul Hamid menjelaskan bahwa CIPECO merupakan lapisan pelindung pangan berbahan alami yang dirancang khusus untuk berbagai produk protein. Produk-produk seperti daging, ayam, dan ikan dapat terlindungi lebih baik. Keunggulan utama inovasi ini terletak pada pemanfaatan kitosan dari limbah cangkang kerang hijau. Limbah ini sangat melimpah di pesisir Aceh, sehingga mendukung konsep ekonomi sirkular.

Selain kitosan, CIPECO juga dipadukan dengan minyak atsiri biji pala sebagai agen antibakteri alami. Kombinasi bahan-bahan ini menjadikan CIPECO sebagai pengawet alami yang aman dikonsumsi dan efektif. Produk ini hadir sebagai solusi yang praktis digunakan serta ramah lingkungan. Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK secara signifikan mengurangi laju pembusukan pangan.

Dengan teknologi edible coating, CIPECO mampu memperpanjang umur simpan produk hingga beberapa hari lebih lama dibandingkan metode konvensional. Ini menjadikannya alternatif yang sangat tepat bagi rumah tangga, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner, serta industri pengolahan hasil laut. Keberadaan inovasi ini diharapkan dapat mengurangi limbah pangan secara drastis.

Prospek Komersial dan Dampak Sosial CIPECO

Kolaborasi multidisipliner dalam pengembangan Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK tidak hanya berfokus pada aspek riset teknologi pangan. Tim juga menyertakan perencanaan bisnis dan strategi pemasaran yang mendalam. Pendekatan ini memastikan bahwa CIPECO tidak hanya memiliki landasan ilmiah yang kuat, tetapi juga menawarkan prospek komersial yang sangat menjanjikan di pasar.

Setelah berhasil lolos pendanaan PKM 2025, CIPECO kini memasuki tahapan krusial, yaitu uji pasar dan produksi awal. Produk cair siap pakai ini ditawarkan dengan harga Rp65 ribu per 500 ml. Harga tersebut dirancang agar terjangkau dan praktis untuk penggunaan rumah tangga, usaha kuliner, maupun industri skala menengah. Ini menunjukkan keseriusan tim dalam menghadirkan produk yang siap pakai.

Dara Apriani, anggota tim dari program studi Manajemen, menegaskan bahwa mereka tidak hanya menciptakan inovasi semata. Tim juga aktif melakukan sosialisasi dan pemasaran produk untuk memastikan risetnya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas. Upaya ini penting agar Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK dapat diadopsi secara maksimal oleh berbagai kalangan.

Selain itu, Tim CIPECO juga aktif dalam mengedukasi pelaku UMKM dan pedagang pasar tradisional di Banda Aceh. Mereka menunjukkan cara pemakaian CIPECO yang sederhana namun sangat efektif dalam mempertahankan kualitas pangan segar. Edukasi ini menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengawetan alami dan mengurangi kerugian akibat pembusukan.

Mendukung Ketahanan Pangan Nasional dan Ekonomi Sirkular

Dosen pembimbing tim, Asmawati M Sail, menyoroti bahwa PKM Inkubator merupakan ajang bergengsi yang mendorong mahasiswa mengembangkan gagasan berbasis riset dan teknologi. Keberhasilan Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK lolos ke tahap pendanaan ini membuktikan kapasitas mahasiswa USK. Mereka siap menghadirkan solusi inovatif yang selaras dengan agenda ketahanan pangan nasional.

Asmawati M Sail menambahkan, "Capaian tim CIPECO membuktikan bahwa riset mahasiswa dapat melahirkan produk yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat." Pernyataan ini menegaskan pentingnya penelitian aplikatif yang berorientasi pada solusi nyata. Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK adalah contoh bagaimana akademisi dapat berkontribusi langsung pada pembangunan.

Lebih lanjut, Asmawati berharap CIPECO dapat menjadi model bisnis ramah lingkungan yang mendukung visi ekonomi sirkular Aceh. Pemanfaatan limbah kerang hijau dalam produk ini memiliki potensi besar. Ini dapat membantu nelayan dan pelaku industri perikanan meningkatkan nilai jual hasil samping mereka. Pada akhirnya, inovasi ini juga akan memperkuat rantai pasok pangan berkelanjutan di daerah.

Dengan demikian, Inovasi Pelindung Pangan CIPECO USK tidak hanya sekadar produk. Ia adalah simbol kolaborasi, keberlanjutan, dan potensi besar mahasiswa Indonesia. Keberhasilan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak inovasi serupa. Tujuannya adalah untuk memecahkan masalah lokal dengan dampak yang signifikan secara nasional.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi