Christopher Rungkat Dirikan Akademi Tenis IOTC, Fokus Pembinaan Usia Dini untuk Masa Depan Olahraga Nasional
Petenis nasional Christopher Rungkat mendirikan akademi tenis Inside Out Tennis Club (IOTC), berfokus pada pembinaan usia dini untuk mencetak talenta baru dan membuka peluang karier internasional.
Petenis nasional Christopher Rungkat mengambil langkah signifikan dalam pengembangan olahraga tenis Indonesia dengan mendirikan akademi Inside Out Tennis Club (IOTC). Inisiatif ini merupakan wujud kontribusi Christo, sapaan akrabnya, terhadap pembinaan atlet tenis, khususnya pada kelompok usia dini. Akademi ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi generasi muda untuk menapaki jenjang karier di dunia tenis.
IOTC dirancang khusus untuk membangun dasar kemampuan pemain sejak usia 4-5 tahun, dengan program awal yang berfokus pada kategori under-10. Christo memiliki visi jangka panjang untuk mengembangkan program ini hingga kategori under-14 dan under-16 pada tahun-tahun mendatang. Melalui pembinaan yang terstruktur dan komprehensif, IOTC berupaya membuka berbagai kesempatan bagi para atlet muda.
Visi Christopher Rungkat ini tidak hanya terbatas pada jalur profesional, tetapi juga mencakup peluang meraih beasiswa universitas di Amerika Serikat. Dengan demikian, akademi tenis IOTC diharapkan dapat menjadi jembatan bagi para talenta muda Indonesia untuk meraih impian mereka di kancah nasional maupun internasional, baik sebagai atlet maupun melalui jalur pendidikan.
Visi Christopher Rungkat untuk Pembinaan Tenis Indonesia
Pendirian akademi tenis IOTC berawal dari kecintaan mendalam Christopher Rungkat terhadap olahraga ini. "Latar belakangnya memang karena saya sangat passionate dengan tenis. Hampir seluruh hidup saya di tenis, dan ini salah satu cara saya berkontribusi setelah karier nanti," kata Christo kepada ANTARA, menunjukkan dedikasinya. Pengalaman panjangnya di dunia tenis menjadi modal utama dalam merancang program pembinaan yang efektif.
IOTC secara spesifik menargetkan pembinaan fondasi pemain sejak usia sangat muda, yaitu 4-5 tahun. Fokus awal akademi tenis ini adalah program under-10, yang dirancang untuk menanamkan dasar-dasar teknik dan strategi tenis. Pendekatan ini penting untuk memastikan perkembangan atlet yang holistik dan berkelanjutan.
Christo menjelaskan rencana ekspansi program akademi tenis IOTC di masa depan. "Untuk sekarang saya fokuskan ke program under-10. Tahun depan kami mulai masuk ke under-14 dan under-16," ujarnya. Pengembangan kategori usia ini menunjukkan komitmen IOTC untuk membimbing atlet melalui berbagai tahapan perkembangan, mempersiapkan mereka untuk kompetisi yang lebih tinggi.
Kolaborasi Regional dan Keterlibatan Internasional
Christopher Rungkat memiliki ambisi besar untuk menjadikan IOTC sebagai pusat latihan bersama bagi pemain-pemain terbaik di Asia Tenggara. Ide ini muncul dari keyakinannya bahwa kolaborasi regional dapat meningkatkan kualitas tenis di kawasan. Dengan mengumpulkan talenta dari berbagai negara, IOTC bisa menjadi wadah pertukaran ilmu dan pengalaman yang berharga.
Ia menyebutkan beberapa nama atlet Indonesia seperti Rifqi Fitriadi, Aldila Sutjiadi, dan Rafa Valentino sebagai contoh pemain yang dapat terlibat dalam kolaborasi tersebut. "Kalau best players dari Thailand dan Malaysia bisa bergabung, saya kira kita bisa maju bersama," kata Christo. Ini menunjukkan harapannya untuk menciptakan ekosistem tenis yang kompetitif dan saling mendukung di Asia Tenggara.
Untuk memastikan kualitas program, IOTC menggandeng pelatih-pelatih internasional berpengalaman. Robert Davis dari Amerika Serikat dan Sharin Jamal dari Singapura terlibat dalam penyusunan kurikulum Red Ball dan Orange Ball. Keterlibatan pelatih asing ini diharapkan dapat membawa standar pelatihan global ke akademi tenis IOTC, memberikan keuntungan kompetitif bagi para atlet.
Komitmen Christo: Antara Karier Atlet dan Pengembangan Akademi
Meskipun telah mendirikan akademi tenis, Christopher Rungkat menegaskan bahwa dirinya masih akan aktif sebagai atlet. Ia berencana untuk terus berkompetisi hingga Asian Games 2026 dan masih memiliki keinginan untuk mengikuti SEA Games 2027. Komitmen ini menunjukkan dedikasinya yang tak luntur terhadap kariernya sebagai pemain profesional.
Namun, Christo juga memastikan akan tetap memantau perkembangan kegiatan akademi IOTC. Ia menyatakan akan meningkatkan keterlibatan langsungnya dalam program setelah mengevaluasi kondisi fisiknya usai Asian Games. "Saya masih fokus di tenis, tapi we'll see after Asian Games, saya lihat bagaimana kondisi fisik saya, apakah saya masih mampu. Kalau misalkan iya saya akan kejar terus, tapi kalau misalkan ya mungkin sudah waktu, ya saya akan lebih involve lagi ke akademinya," ujar peraih hattrick emas ganda campuran SEA Games tersebut.
Secara menarik, Christo memilih untuk tidak menggunakan namanya sebagai identitas akademi. Keputusan ini diambil untuk menekankan kualitas program yang ditawarkan, bukan figur pendirinya. "Saya ingin orang tertarik karena programnya, bukan karena nama Christopher Rungkat," kata peraih medali emas ganda campuran Asian Games 2018 itu, menunjukkan fokusnya pada substansi.
Peluang Uji Coba dan Program Reguler IOTC
Saat ini, akademi tenis IOTC membuka kesempatan bagi calon atlet untuk mengikuti sesi uji coba gratis (free trial). Ini adalah kesempatan bagus bagi orang tua dan anak-anak untuk merasakan langsung program pelatihan yang ditawarkan. Sesi uji coba ini tersedia di dua lokasi strategis di Jakarta.
Lokasi sesi uji coba gratis IOTC berada di Lebak Bulus dan Bintaro. Program reguler akademi tenis ini telah berjalan di Bintaro, menunjukkan kesiapan operasionalnya. Sementara itu, lokasi Lebak Bulus masih dalam masa uji coba hingga pertengahan bulan ini, dengan rencana untuk beralih sepenuhnya ke kelas reguler pada Januari tahun depan. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi masyarakat yang ingin bergabung.
Sumber: AntaraNews