Polusi Jakarta Terburuk di Dunia, Pemprov DKI Ajak Warga Beralih ke Transportasi Umum

Perpindahan ke transportasi publik menjadi salah satu opsi untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

Lydia Fransisca
Oleh Lydia Fransisca - Reporter
Polusi Jakarta Terburuk di Dunia, Pemprov DKI Ajak Warga Beralih ke Transportasi Umum
Polusi udara Jakarta jadi terburuk di dunia saat hujan seharian. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk menggunakan transportasi umum guna mengurangi polusi udara di Ibu Kota. Kepala Dinas LH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, sumber polusi terbesar berasal dari sektor transportasi.

Maka dari itu, perpindahan ke transportasi publik menjadi salah satu opsi untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

"Sumber polusi udara terbesar di Jakarta dari kendaraan bermotor, sektor transpertasi hampir 67 persen. Kalau memang dimungkinkan, masyarakat pindah ke sarana transportasi publik karena memang sudah cukup memadai," kata Asep kepada wartawan di Jakarta Selatan, Sabtu (17/6).

Pemprov DKI telah bekerjasama dengan pemerintah pusat untuk memperbaiki transportasi umum di Jakarta. Dia berharap warga memiliki keinginan untuk segera beralih ke transportasi umum.

"Kita kerja sama dengan pemerintag pusat untuk memperbaiki transportasi di Jakarta sehingga mudah-mudahan ke depannya kesadaran masyarakat menggunakan transportasi publik juga semakin banyak," tambah Asep.

Selain beralih ke transportasi umum, Asep juga mengimbau warga Jakarta untuk melakukan uji emisi secara rutin.

"Seharusnya warga Jakarta aware terhadap kondisi kendaraannya baik itu menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan ataupun melakukan uji emisi secara rutin," ujar Asep.

Diberitakan sebelumnya, Jakarta berulang kali berada di peringkat pertama sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia berdasarkan data yang dilansir situs IQAir beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan dan bukan guyonan.

Pemprov DKI sendiri mengakui bahwa kualitas udara di Ibu Kota memburuk dalam beberapa waktu terakhir ini. Mereka menjelaskan, penurunan kualitas udara ini diakibatkan Indonesia sudah memasuki musim kemarau.

"Secara periodik kualitas udara Jakarta akan mengalami peningkatan konsentrasi polutan udara ketika memasuki musim kemarau, yaitu bulan Mei hingga Agustus," kata Subkoordinator Kelompok Pemantauan Lingkungan Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas LH DKI Jakarta Rahmawati ketika dihubungi, Kamis (8/6).

Menanggapi kondisi ini, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi untuk mengentaskan permasalahan tersebut.

Pertama, Pemprov DKI akan menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan menanam pohon. Kemudian, Heru mengimbau masyarakat untuk melakukan uji emisi pada kendaraannya.

"Pemda DKI akan berkenan menambah RTH, kita semua menanam pohon. Di sisi lain mengurangi emisi itu misalnya dengan uji emisi kendaraan," katanya.

Pengurangan emisi juga bisa dilakukan dengan peralihan ke kendaraan listrik.
"Tentunya peralihan bahan bakar kendaraan alternatif juga diusahakan. Termasuk juga Trans jakarta untuk berkenan menggunakan bus listrik kira-kira seperti itu," ujar Heru.

Namun, pekan ini, Heru justru melempar candaan saat ditanyai kembali soal solusi mengatasi kualitas udara yang buruk di Ibu Kota.

Dia berkelakar bakal meniup polusi dari kawasan industri yang menyumbang buruknya kualitas udara di Jakarta.

"Iya, saya tiup saja," kata Heru di kawasan Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Senin (12/6).

Seusai berkelakar, Heru bahkan tidak menjelaskan upaya penanganan yang akan dia lakukan untuk mengatasi polusi udara ini.

Rekomendasi