Fenomena Warga Lawan Polisi saat Penggerebekan Narkoba di Kampung Bahari

Peredaran narkoba di Kampung Bahari seperti masalah yang tak kunjung berakhir.Wilayah di Utara Ibu Kota itu bahkan sampai mendapat stigma sebagai kampung narkoba.

Bachtiarudin Alam
Oleh Bachtiarudin Alam - Reporter
Fenomena Warga Lawan Polisi saat Penggerebekan Narkoba di Kampung Bahari
Kampung Bahari digerebek. ©2015 Merdeka.com

Peredaran narkoba di Kampung Bahari seperti masalah yang tak kunjung berakhir.Wilayah di Utara Ibu Kota itu bahkan sampai mendapat stigma sebagai kampung narkoba.

Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso memandang persoalan narkoba di Kampung Bahari adalah masalah yang telah mengakar di masyarakat.

"Bahwa jaringan narkoba telah masuk ke dalam struktur masyarakat telah bisa mempengaruhi mereka," kata Sugeng saat dihubungi merdeka.com, Kamis (11/5).

Keyakinan itu, lanjut Sugeng, didapat dari insiden penyerangan yang dialami polisi saat menggerebek terkait kasus narkoba Kampung Bahari III Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (8/5).

"Bahkan untuk melakukan perlawanan ke petugas. Kedua, perlawanan kepada petugas mungkin juga muncul karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap oknum-oknum polisi," sebutnya.

Ketidakpercayaan masyarakat itu terkait dugaan permainan bandar narkoba dengan aparat keamanan. Warga akhirnya terpengaruhi untuk bekerja sama dengan para bandar.

"Yang memang melakukan penyalahgunaan kewenangan dalam penanganan kasus narkoba misalnya 86 kemudian menyisihkan barang bukti. Itu diketahui masyarakat yang terpapar oleh jaringan narkoba," kata dia.

"Sehingga mereka berani melawan. Oleh karena itu dalam kaitan hal tersebut perlu dilakukan proses penegakan hukum yang bersih. Tidak boleh ada petugas kepolisian yang coba-coba bermain-main menyalahgunakan kewenangan yang bisa menimbulkan antipati ketidakpercayaan, bahkan pelecehan dan penyerangan kepada petugas," tambahnya.

Di samping itu, Sugeng juga menyarankan agar setiap penggerebekan polisi harus menyiapkan diri sedemikian rupa dengan bantuan yang cukup. Supaya tidak timbul jatuhnya korban polisi atau masyarakat sekitar yang tidak bersalah.

"Polisi harus bertindak tegas terhadap orang-orang yang diduga melakukan penyerangan. Menangkap mereka, memproses pidana sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegasnya.

Sugeng mengatakan langkah tegas harus dilakukan agar memberikan efek jera kepada pihak-pihak yang berkomplot dengan para bandar narkoba, seperti dalam insiden penyerangan anggota saat penggerebekan di Kampung Bahari.

"Menyerang petugas melawan petugas yang adalah tindak pidana. Agar dibuat efek jera dan mengingatkan warga lain tidak coba-coba melawan petugas," katanya.

Dugaan Faktor Ekonomi

Sebelumnya, Kasat Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Utara Kompol Slamet Riyanto mengungkap, dari hasil penelusuran selama ini, faktor ekonomi membuat banyak orang tergiur dengan bisnis narkoba.

"Itu kan gimana ya. Faktor ekonomi. Kalau dari keterangan yang kita tangkap faktor ekonomi lebih cepat lah dapat untung," ungkap saat dihubungi, Rabu (10/5).

Berdasarkan hasil dokumentasi, penyerangan terhadap anggota Polri saat penggerebekan di Kampung Bahari dilakukan oleh sejumlah pria. Mereka berjumlah 6 hingga 8 orang yang terlihat melempar sesuatu ke arah yang dituju.

Aksi itu dilakukan dari jalan sambil menutupi wajah. Aksi komplotan yang menyerang petugas saat operasi penggerebekan pun terekam CCTV. Mereka berada di jalan permukiman yang tampak sepi.

Kronologi Penyerangan

Slamet menyatakan jika pihak-pihak yang menyerang saat penggerebekan Kompleks A7 Kampung Bahari. Ia menduga serangan itu datang dari komplotan bandar dan bukan warga sekitar.

"Ya kalau ada pasti kita tangkap. Rata-rata bukan warga asli situ mereka banyak pendatang, lalu pengedar. Dan bukan orang situ," kata Slamet.

Namun, Slamet menyampaikan pihaknya memang acap kali mendapat serangan kita melakukan penggerebekan peredaran narkoba. Namun, sayangnya ketika target operasi (TO) berhasil diamankan para penyerang itu telah hilang melarikan diri.

"Kalau di situ sudah sering kalau kita gerebek, sering diserang kita. Ada beberapa kali juga ada perlawanan. Ya kalau ada orangnya ya kita tangkap. Masalahnya, begitu kita razia semua sudah pada kabur, semua kosong lapak-lapaknya," ujar Slamet.

Slamet menyampaikan kronologi penyerangan itu berawal dari Polsek Tanjung Priok yang hendak melakukan penggerebekan. Namun, tiba-tiba munculnya serangan kepada petugas dari komplotan bandar.

"Kan pertama kita tangkap dulu TO-nya, pas kita ini mereka datang (komplotan penyerang)," ujarnya.

Sadar akan kekuatan personel yang kurang, kata Slamet, jajaran Polsek Tanjung Priok pun meminta bantuan kepada Polres Metro Jakarta Pusat untuk penebalan kekuatan personel.

"Iya mereka kan datang (komplotan penyerang). Terus kekuatan kan kurang (personel). Makanya kita minta bantuan dari Reskrim dan Sabhara," kata dia.

"Kan butuh waktu kurang lebih setengah jam, mereka datang baru kita gerebek lapak-lapak, kita razia semuanya. Pas itu sudah kosong semua orang-orang (komplotan penyerang kabur)," sambungnya.

Dalam penggerebekan kali ini, polisi berhasil mengamankan seorang pengedar berinisial RR, dua pemakai masing-masing berinisial PP dan AS. Selain mengamankan pengedar, tim gabungan juga turut menyita barang bukti sabu seberat 25,32 gram, 1 timbangan digital, 35 bong, dan 33 cangklong.

Rekomendasi