Cingcowong, Ritual Memanggil Hujan ala Warga Kuningan yang Gunakan Boneka Cantik

Ritual Cingcowong merupakan sebuah kebiasaan turun temurun yang dilakukan oleh warga Desa Luragung, Kuningan, Jawa Barat ketika berbulan-bulan di wilayah mereka tidak turun hujan sehingga terjadi dampak yang signifikan.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Cingcowong, Ritual Memanggil Hujan ala Warga Kuningan yang Gunakan Boneka Cantik
Ritual Boneka Cingcowong. www.infobudaya.net ©2020 Merdeka.com

Indonesia merupakan negara yang kaya akan tradisi unik. Salah satunya adalah tradisi memanggil hujan yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Luragung, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat melalui ritual Cingcowong.

Sebuah kebiasaan turun-temurun yang dilakukan saat di wilayah tersebut tidak diguyur hujan dalam waktu yang lama. Mengingat kebutuhan air akan berdampak signifikan bagi kehidupan masyarakat setempat.

Asal Usul Cingcowong

Di masa lalu, kegiatan pemanggilan hujan ala masyarakat Desa Luragung ini dikomandoi oleh seorang tokoh wanita bernama Rantasih. Ia berupaya mengajak warga sekitar untuk berusaha mengatasi keadaan yang sedang dialami masyarakat setempat (keadaan kemarau panjang) namun gagal.

Menurut informasi yang dikutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, Rantasih lantas terus mencoba dengan mengajak masyarakat melalui penabuhan ceneng (alat pemukul tradisional khas Sunda) dan usahanya mengumpulkan warga pun berhasil.

Ketika itu Rantasih menyampaikan petunjuk yang datang pada saat tirakat, yaitu dengan cara tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur selama tiga hari tiga malam, bahwa cara meminta hujan adalah dengan melakukan upacara ritual melalui media Cingcowong.

Boneka Putih Cantik

Ritual Cingcowong tak pernah lepas dari sebuah boneka berwarna putih yang mirip Jaelangkung dan terbuat dari susunan bambu dan batok kelapa.

Boneka tersebut didandani layaknya seorang wanita cantik plus aksesoris baju dan sampur serta diberi kalung yang terbuat dari melati.

Pelaksanaan Cingcowong


Dalam setiap pelaksanaannya, ritual cingcowong dimainkan oleh satu orang pemandu bernama Punduh yang dianggap memiliki kemampuan khusus di bidang spiritual menurut kepercayaan setempat.

Biasanya seseorang dianggap Punduh karena dia memiliki inisiatif yang kuat, dan dianggap bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.

Hal wajib yang perlu ada selain boneka cantik dan punduh perlu juga disediakan taraje (tangga bambu) dan satu buah tikar, serta alat pendukung lainnya adalah sesajen seperti: menyan, kaca, sisir, dan ember.

Selanjutnya dua orang pemegang tikar ketika digerakkan (gerakkan yang mirip jaelangkung), dua orang penabuh buyung yang dipukul oleh kipas, dan satu orangnya lagi memainkan alat musik ceneng yang terbuat dari bahan kuningan.

Nawita selaku punduh pun membawa boneka cantik tersebut untuk diajak melangkah diatas tangga bambu sebanyak tiga kali, dan ditahap inti boneka tersebut dipangku serta dirasuki lelembut sambil didoakan dan dinyanyikan lagu Cingcowong:

Lagu Cingcowong

Cingcowong-cingcowong

Bil guna bil lembayu

Shalala lala lenggut

Lenggute anggedani

Aya panganten anyar

Aya panganten anyar

Lili lili pring

Denok simpring ngaliro

Mas borojol gedog

Mas borojol gedog

Lilir guling gulinge sukma katon

Gelang-gelang layone

Layoni putra maukung

Maukung mangundang dewa

Anging Dewa anging sukma

Bidadari lagi teka

Bidadari lagi teka

Jak rujak ranti

kami junjang kami loko

Pajulo-julo

temu bumiring mandiloko

Huja….. Hujan…..Hujan……

Rekomendasi