Kalau dilihat dari bangku penonton, kostum para penampil mungkin terlihat sebagai satu kesatuan visual yang indah. Tapi di balik itu, ada banyak hal-hal kecil yang harus dipikirkan oleh para perancangnya. Motifnya apa, warnanya bagaimana, bahannya cukup nyaman atau tidak, sampai seberapa kuat identitas daerahnya masih terasa ketika kostum dibawa ke panggung sebesar Indonesia Arena.
Bagi Ghea Panggabean, ada beberapa elemen yang menjadi benang merah dalam kostum rancangannya untuk Pagelaran Sabang Merauke - Hanya Indonesia yang Punya “Hikayat Srikandi Nusantara” 2026, mulai dari aksen prada atau emas, teknik bordir, hingga permainan motif. Semua elemen itu kemudian diterapkan dengan menyesuaikan karakter masing-masing daerah yang dibawa ke atas panggung.
Ghea sendiri menangani kostum dari beberapa wilayah, termasuk Sumatra Utara, Riau, dan Bali. Untuk Sumatra Utara, ia banyak menggunakan inspirasi ulos, termasuk ulos songket dengan benang emas. Sementara untuk Riau, inspirasinya datang dari songket Sumatra yang dekat dengan karakter Melayu. Untuk Bali, Ghea juga menggunakan songket dengan benang emas sebagai bagian dari kostum yang dirancangnya.
Di sinilah proses desain jadi menarik. Ghea tidak hanya memilih kain yang terlihat bagus, tetapi juga menyesuaikannya dengan tema yang sudah ditentukan oleh tim kreatif pertunjukan. Warna, motif, hingga material perlu diolah agar tetap terasa sesuai dengan daerah yang direpresentasikan, tetapi juga harmonis ketika bertemu kostum lain di atas panggung.
Artinya, motif tradisional tidak selalu cukup jika hanya dipindahkan begitu saja ke kostum. Proporsi dan penempatannya juga perlu dipikirkan ulang. Motif yang terlalu kecil mungkin tidak terbaca dari jauh, sementara detail yang terlalu ramai bisa membuat kostum kehilangan fokus. Karena itu, desain perlu diterjemahkan kembali agar tetap kuat secara visual saat dilihat dalam skala besar.
Namun, bagi Ghea, estetika bukan satu-satunya tantangan. Ada satu hal lain yang sama pentingnya, yaitu fungsi.
Advertisement
Wakili Budaya Daerah Asal
Kostum harus tetap mampu mewakili budaya dari daerah asalnya, tetapi pada saat yang sama harus nyaman dipakai oleh penyanyi maupun penari. Mereka perlu bergerak, berpindah posisi, dan tampil dalam durasi yang cukup panjang. Jadi, sebuah busana tidak bisa hanya terlihat indah saat diam.
Itulah yang membuat proses merancang kostum panggung berbeda dari sekadar membuat busana untuk dipajang. Desainer perlu mempertemukan banyak hal sekaligus: warisan budaya, kebutuhan cerita, tampilan visual, dan kenyamanan penampil.
Lewat rancangan Ghea Panggabean, kain-kain seperti ulos dan songket akhirnya hadir bukan hanya sebagai elemen dekoratif. Benang emas, bordir, motif, dan materialnya menjadi cara untuk membawa identitas Sumatra dan Bali ke dalam dunia “Hikayat Srikandi Nusantara”.
Jadi, ketika nanti kostum-kostum tersebut terlihat menyatu dengan musik dan koreografi, ada proses panjang di baliknya.