7 Jenis Tikus yang Sering Berkeliaran di Rumah, Penting untuk Pengendalian Maksimal

Tikus berkeliaran di rumah tidak hanya menjadi gangguan, tetapi juga dapat menimbulkan bahaya. Penting untuk mengenali jenis-jenis tikus yang sering muncul.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
7 Jenis Tikus yang Sering Berkeliaran di Rumah, Penting untuk Pengendalian Maksimal
Ilustrasi Tikus (/Photo by Doina Gavrilov on Unsplash)

Kehadiran tikus di area rumah adalah masalah yang umum dan sering menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang. Selain mengganggu kenyamanan, hewan pengerat ini juga dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi penghuni rumah serta menyebabkan kerusakan pada properti. Di Indonesia, terdapat beberapa spesies tikus yang sering ditemukan di rumah, masing-masing dengan ciri-ciri, habitat, dan perilaku yang berbeda. Oleh karena itu, mengenali berbagai jenis tikus ini sangat penting agar upaya pengendalian dapat dilakukan dengan tepat dan efektif. Dengan melakukan identifikasi yang akurat, pemilik rumah dapat memilih strategi pencegahan dan penanganan yang paling sesuai, sehingga rumah tetap terjaga dari ancaman. Kewaspadaan dan tindakan pencegahan menjadi hal yang sangat penting untuk menghadapi risiko dari hama pengerat ini.

1.  Tikus Atap (Rattus rattus) 

Ilustrasi Tikus
Ilustrasi Tikus /Gemini AI

Tikus atap memiliki ciri tubuh yang ramping dengan ekor yang lebih panjang dibandingkan tubuhnya, sering kali mencapai panjang lebih dari 40 cm. Warna bulu tikus atap umumnya hitam atau cokelat gelap, sehingga memungkinkan mereka untuk berkamuflase di area yang gelap. Selain itu, mereka adalah pemanjat yang sangat terampil dan lincah, dengan ekor panjang yang berfungsi sebagai penyeimbang saat bergerak di ketinggian. Sesuai dengan namanya, tikus atap biasanya tinggal di bagian atas bangunan, seperti plafon, loteng, atap rumah, dan langit-langit. Di daerah pedesaan, mereka juga dapat ditemukan di lumbung atau gudang penyimpanan makanan.

Hewan ini termasuk dalam kategori nokturnal, yang berarti mereka aktif di malam hari dan memiliki pola makan omnivora, yang mencakup biji-bijian, buah-buahan, dan juga sampah rumah tangga. Tikus atap sering kali menggigit berbagai benda untuk mempertajam giginya yang terus tumbuh, dan hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada kabel listrik serta struktur bangunan. Bahaya utama yang ditimbulkan oleh tikus atap adalah kerusakan properti akibat gigitan pada kabel, yang dapat berpotensi menyebabkan korsleting dan kebakaran. Selain itu, mereka juga dapat menjadi penyebar lebih dari 45 jenis penyakit, serta mencemari makanan dan lingkungan dengan kotoran dan urinenya.

2. Tikus Got (Rattus norvegicus) 

Tikus got memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan berotot jika dibandingkan dengan tikus atap, dengan panjang tubuh berkisar antara 20 hingga 25 cm dan ekor yang lebih pendek daripada tubuhnya. Bulu tikus got umumnya berwarna cokelat keabu-abuan, sehingga mereka dapat dengan mudah berkamuflase di lingkungan yang lembap dan gelap, seperti selokan atau got. Selain itu, tikus ini dikenal sebagai penggali yang handal dan sering membuat sarang di dekat sumber air. Mereka biasanya dapat ditemukan di berbagai tempat, seperti saluran air, selokan, gudang, dan bahkan dapur rumah.

Tikus got merupakan hewan omnivora yang mengonsumsi hampir semua jenis makanan, termasuk sampah organik. Karena ukuran tubuhnya yang lebih besar, tikus ini dapat menyebabkan kerusakan yang lebih signifikan pada properti dibandingkan tikus atap, seperti merusak kabel listrik, pintu, atau panel kayu. Bahaya utama yang ditimbulkan oleh tikus got adalah penyebaran berbagai penyakit, termasuk leptospirosis, salmonella, dan infeksi bakteri lainnya. Selain itu, mereka juga dapat mencemari makanan dan air, sehingga menjaga kebersihan lingkungan sangat penting untuk mencegah terjadinya infestasi tikus got.

3. Tikus Sawah (Bandicota indica) 

9 Cara Mencegah Tikus Kembali ke Rumah Setelah Diusir, Dijamin Efektif
Ilustrasi Tikus (Sipa/Pixabay). © 2026 Liputan6.com

Tikus sawah memiliki ukuran tubuh yang besar dan ekor yang relatif pendek, dengan bulu berwarna cokelat muda hingga abu-abu. Mereka terkenal karena sifat agresif dan kelincahan yang memungkinkan mereka bergerak cepat saat mencari makanan, baik di sawah maupun di rumah-rumah yang berdekatan dengan ladang. Selain itu, tikus sawah juga sering menggali lubang sebagai tempat berlindung. Umumnya, tikus ini akan memasuki rumah-rumah yang berada dekat dengan area persawahan atau kebun, terutama pada saat musim panen. Makanan mereka terdiri dari berbagai jenis biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Kebiasaan menggigit dan menggali tikus sawah dapat menyebabkan kerusakan pada makanan dan bahan bangunan.

Risiko yang ditimbulkan oleh tikus sawah tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik, tetapi juga mencakup potensi penularan penyakit melalui kotoran dan urin mereka. Kehadiran tikus sawah di dalam rumah atau gudang dapat mengganggu kenyamanan penghuni dan sekaligus membahayakan kesehatan mereka. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi masalah ini agar lingkungan tetap bersih dan aman dari gangguan tikus. Dengan memahami perilaku dan kebiasaan tikus sawah, kita dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

4. Tikus Belanda (Cricetomys gambianus)

Tikus belanda, yang memiliki ukuran tubuh cukup besar dan ekor yang panjang, sering kali dijadikan sebagai hewan peliharaan. Namun, ada juga yang hidup liar dan dapat berkeliaran di sekitar rumah. Ciri-ciri fisiknya meliputi tubuh yang kuat, kaki yang panjang, serta bulu berwarna cokelat hingga abu-abu. Hewan ini aktif di malam hari dan bersifat omnivora, sehingga mereka mampu memanjat perabotan untuk mencari makanan. Meskipun tikus belanda cenderung pemalu dan jarang menyerang manusia, mereka tetap berpotensi menjadi hama jika memiliki akses ke sumber makanan atau tempat berlindung.

Makanan mereka terdiri dari biji-bijian, buah-buahan, serta sisa makanan yang ada di rumah. Untuk tempat berlindung, tikus belanda membangun sarang dari bahan-bahan yang lembut. Salah satu bahaya yang dapat ditimbulkan oleh tikus belanda adalah potensi penularan penyakit, terutama jika terjadi kontak yang tidak higienis dengan manusia. Oleh karena itu, pencegahan menjadi sangat penting. Menjaga kebersihan rumah, menutup akses makanan, dan menutup celah-celah masuk adalah langkah-langkah utama yang harus diambil untuk menghindari infestasi tikus belanda.

5. Tikus Got Kecil (Mus musculus)

9 Cara Mencegah Tikus Kembali ke Rumah Setelah Diusir, Dijamin Efektif
Ilustrasi Tikus (Sipa/Pixabay). © 2026 Liputan6.com

Tikus got kecil memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, dengan panjang sekitar 6 hingga 9 cm dan ekor yang sebanding dengan tubuhnya. Dengan bulu berwarna abu-abu atau cokelat muda, mereka dapat dengan mudah berkamuflase di berbagai tempat seperti dapur, gudang, atau area lain di rumah. Hewan ini sangat gesit dan dapat masuk melalui celah sekecil 0,5 cm, serta aktif pada malam hari. Makanan yang dikonsumsi oleh tikus got kecil sangat beragam, mulai dari biji-bijian, sisa makanan manusia, hingga sampah organik yang ada di sekitar mereka.

Tikus got kecil sering kali membuat sarang dari berbagai bahan seperti kain, kertas, atau material lunak lainnya di tempat-tempat yang tersembunyi, yang berfungsi sebagai tempat berlindung dan berkembang biak. Namun, keberadaan mereka membawa sejumlah risiko, termasuk pencemaran makanan, kerusakan pada kabel dan peralatan rumah tangga, serta potensi penyebaran penyakit. Oleh karena itu, langkah pencegahan yang paling efektif adalah menjaga kebersihan lingkungan, menutup makanan dengan baik, dan menyegel celah-celah yang dapat menjadi akses masuk bagi tikus, sehingga mereka tidak dapat memasuki rumah.

6. Tikus Tanah (Meriones unguiculatus)

9 Cara Mencegah Tikus Kembali ke Rumah Setelah Diusir, Dijamin Efektif
Ilustrasi Tikus (Sipa/Pixabay). © 2026 Liputan6.com

Tikus tanah umumnya dapat ditemukan di kawasan kering dan berpasir, namun mereka juga sering memasuki rumah yang berdekatan dengan kebun atau lahan kosong. Dengan ukuran tubuh yang sedang, tikus ini aktif baik di siang maupun malam hari, serta memiliki kebiasaan menggali lubang untuk dijadikan sarang dan perlindungan. Bulu mereka berwarna cokelat muda, dan ekor yang panjang berfungsi untuk menjaga keseimbangan saat bergerak di permukaan tanah.

Dalam hal makanan, tikus tanah mengonsumsi biji-bijian, sisa makanan dari manusia, serta bahan organik lainnya. Kebiasaan menggali mereka dapat menyebabkan kerusakan pada halaman, taman, dan struktur tanah, bahkan bisa membuat mereka masuk ke rumah untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Bahaya yang ditimbulkan oleh tikus tanah meliputi kerusakan pada makanan, properti, serta halaman. Untuk mencegah masalah ini, penting untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti membuat penghalang fisik, mengelola lingkungan, dan menjaga kebersihan agar tikus tanah tidak menjadi hama di rumah.

8. Tikus Kecil Putih (Fancy Mouse / Albino Mouse)

Ilustrasi Tikus
Ilustrasi Tikus /Photo by Doina Gavrilov on Unsplash

Tikus kecil putih sebenarnya lebih sering dipelihara sebagai hewan laboratorium atau peliharaan, tetapi dapat lepas dan berkeliaran di lingkungan rumah. Ciri khasnya adalah tubuh kecil, bulu putih, dan mata merah. Tikus ini memiliki perilaku yang lincah dan cepat.Habitatnya bisa berupa ruang penyimpanan, rak buku, atau area hangat di dalam rumah. Karena jinak, tikus putih biasanya tidak sewaspada tikus liar dan lebih mudah masuk ke ruangan yang terbuka. Mereka mencari makanan dalam jumlah kecil tetapi sering.Bahaya tikus putih lebih rendah dibandingkan tikus liar lainnya, namun tetap dapat mengkontaminasi makanan atau membawa bakteri dari lingkungan sekitar. Selain itu, keberadaannya bisa berkembang menjadi masalah jika dibiarkan berkembang biak. Tindakan penanganan segera tetap diperlukan.

Risiko yang Ditimbulkan oleh Kehadiran Tikus di Dalam Rumah

Kehadiran tikus di dalam rumah dapat menimbulkan berbagai risiko serius yang tidak seharusnya diabaikan, baik untuk kesehatan penghuni maupun untuk integritas bangunan. Memahami ancaman ini secara mendalam sangat penting agar dapat mendorong langkah-langkah pencegahan yang efektif. Salah satu risiko terbesar yang ditimbulkan adalah penyebaran penyakit. Tikus dikenal sebagai pembawa lebih dari 35 penyakit berbahaya yang dapat menular kepada manusia. Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui kontak langsung, urine, kotoran, air liur, gigitan, atau kutu yang menumpang pada tikus. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan antara lain:

  1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Penyakit pernapasan serius yang disebabkan oleh hantavirus, menyebar melalui partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup.
  2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Penyakit ini juga disebabkan oleh hantavirus, gejala awalnya meliputi demam dan nyeri, yang dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut.
  3. Leptospirosis: Infeksi bakteri yang berasal dari urine tikus yang mencemari air atau tanah, dapat masuk melalui luka pada kulit atau selaput lendir.
  4. Penyakit Pes (Plague): Disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang ditularkan oleh kutu dari tikus, menyebabkan demam dan pembengkakan kelenjar getah bening.
  5. Rat Bite Fever (Demam Gigitan Tikus): Infeksi bakteri yang terjadi akibat gigitan tikus.
  6. Lymphocytic Choriomeningitis (LCM): Penyakit ini disebabkan oleh kontak dengan kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi, dapat menyebabkan meningitis.
  7. Salmonellosis: Infeksi bakteri yang dapat ditularkan oleh tikus, menyebabkan gangguan pencernaan.
  8. Histoplasmosis: Penyakit pernapasan yang disebabkan oleh jamur yang berasal dari kotoran tikus.
  9. Alergi dan Masalah Pernapasan: Kotoran tikus dapat memicu reaksi alergi dan masalah asma, terutama pada anak-anak.

Selain masalah kesehatan, keberadaan tikus juga dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan pada properti. Gigi seri tikus yang terus tumbuh mendorong mereka untuk menggerogoti berbagai benda. Mereka dapat merusak kabel listrik yang berpotensi menyebabkan korsleting dan kebakaran, serta merusak plastik, kayu, logam, bahkan struktur bangunan itu sendiri. Kontaminasi makanan dan minuman juga menjadi masalah yang sangat serius. Tikus dapat mencemari persediaan makanan dengan urine, feses, dan air liur mereka. Mereka dapat menghasilkan hingga 80 kotoran per hari, yang tidak hanya merugikan secara langsung tetapi juga merusak kemasan dan rantai pasokan makanan. Lingkungan rumah pun menjadi kotor dan berbau akibat jejak kaki, urine, dan kotoran tikus yang menyengat.

Akhirnya, kemampuan tikus untuk berkembang biak dengan cepat semakin memperburuk situasi ini. Dengan masa kehamilan yang singkat (19-23 hari) dan kemampuan untuk melahirkan 4-10 anak dalam sekali beranak, populasi tikus dapat meningkat menjadi 52-100 ekor dalam setahun jika makanan dan habitat tersedia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian yang konsisten.

Rekomendasi