700 Penerima MBG di Batang Diduga Keracunan, SPPG Bawang Dievaluasi

Pemeriksaan sampel makanan, air, dan spesimen pasien dilakukan untuk memastikan sumber kejadian.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
700 Penerima MBG di Batang Diduga Keracunan, SPPG Bawang Dievaluasi
 Pelajar mengalami keracunan usai menyantap MBG di Batang. (merdeka.com/istimewa).

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih menelusuri penyebab munculnya gejala dialami para penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Pemeriksaan sampel makanan, air, dan spesimen pasien dilakukan untuk memastikan sumber kejadian.

Berdasarkan data per Minggu (27/9) pukul 07.00 WIB, tercatat sebanyak 700 penerima manfaat MBG di Batang mengalami gejala dugaan keracunan. Sebagian besar pasien sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Sedangkan 34 pasien masih dirawat di RSUD Batang, RSUD Limpung, dan Puskesmas Bawang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab mengatakan, evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi bagian penting dalam penanganan kejadian tersebut. Evaluasi meliputi ketersediaan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), hingga pelatihan bagi penjamah makanan.

"SPPG-nya harus dievaluasi, ketersediaan SLHS, sudah pernah ada inspeksi IKL, dan kursus pada penjamah makanan yang bekerja di sana,” kata Zulfachmi saat kunjungan pasien terdampak di Kabupaten Batang, Senin (28/9).

Dia menyebut ketika muncul dugaan keracunan, puskesmas terdekat langsung melakukan kunjungan ke lokasi terdampak dan SPPG. Petugas mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.

"Pemeriksaan juga mencakup sampel air serta spesimen pasien, seperti muntahan dan feses bagi mereka yang mengalami diare," ujar Zulfachmi.

Selain itu, petugas melakukan inspeksi sanitasi lingkungan, memeriksa dokumen, penggunaan alat pelindung diri, hingga peralatan kerja di SPPG. Terkait, penjamah makanan pada umumnya telah mendapatkan pelatihan terkait pengolahan makanan dan pencegahan keracunan. Namun, penyebab pasti kejadian di Batang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

"Sampel airnya, makanan dan bahan makanan yang disajikan. Kalau ada muntahan, kita periksa pula muntahannya,” ujar dia.

Kondisi Pasien Dirawat

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Ayu mengatakan, penerima manfaat MBG yang terdampak berasal dari berbagai kelompok, mulai dari peserta didik jenjang PAUD hingga SMA, serta kelompok lainnya, termasuk balita dan ibu hamil. Hingga saat ini, kondisi pasien yang masih dirawat terus menunjukkan perkembangan positif.

"Dari laporan semua fasilitas kesehatan yang saat ini sedang merawat, semua pasien dalam kondisi terhidrasi dan sudah dalam pemulihan,” kata Ida.

Meski demikian, pasien tetap menjalani evaluasi oleh dokter penanggung jawab untuk menentukan apakah kondisi mereka telah memungkinkan untuk dipulangkan.

"Rata-rata keluhan yang dialami para penerima manfaat antara lain pusing, mual, diare, hingga sakit perut," ujar Ida.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah melakukan penelusuran dan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium.

Hasil pemeriksaan di laboratorium Yogyakarta masih ditunggu untuk memastikan penyebab kejadian. Sebagai langkah penanganan sementara, operasional SPPG Bawang dihentikan selama 30 hari sembari menunggu proses investigasi. Adapun penanganan terkait operasional SPPG menjadi kewenangan Badan Gizi Nasional.

Rekomendasi