Usai 12 Jam di Dalam Pesawat, Pemerintah Afrika Selatan Izinkan 153 Warga Palestina Turun

Persoalannya karena mereka tidak memiliki stempel keberangkatan da tidak dapat menjelaskan rencana tinggal.

Teddy Tri Setio Berty
Oleh Teddy Tri Setio Berty - Reporter
Usai 12 Jam di Dalam Pesawat, Pemerintah Afrika Selatan Izinkan 153 Warga Palestina Turun
Ilustrasi pesawat jet. (Photo by Pixabay) (© 2025 Liputan6.com)

Afrika Selatan akhirnya memberikan izin kepada lebih dari 150 penumpang asal Palestina untuk turun dari pesawat, setelah mereka terjebak hampir 12 jam di dalam kabin oleh pihak otoritas perbatasan.

Keputusan ini diambil pada Kamis malam, setelah sebuah organisasi kemanusiaan lokal bersedia menjamin tempat tinggal bagi para penumpang selama mereka berada di Afrika Selatan, sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera pada Sabtu (15/11).

Pesawat carteran yang membawa 153 warga Palestina tersebut mendarat di Bandara Internasional OR Tambo, Johannesburg, sekitar pukul 08.00 waktu setempat.

Namun, mereka diminta untuk tetap berada di dalam pesawat karena tidak memiliki stempel keberangkatan dari Israel pada paspor mereka.

Otoritas Manajemen Perbatasan Afrika Selatan (BMA) menjelaskan bahwa para penumpang akhirnya diproses sesuai dengan prosedur perjalanan bebas visa 90 hari yang berlaku bagi warga Palestina, sehingga mereka diperbolehkan memasuki negara tersebut.

Menurut informasi dari kantor berita AFP, pesawat itu dioperasikan oleh maskapai Global Airways dan sempat transit di Nairobi, Kenya.

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mengungkapkan bahwa pihaknya akan menyelidiki asal penerbangan tersebut serta alasan di balik kedatangan para penumpang tanpa dokumen yang lengkap.

Ia menyatakan bahwa kelompok tersebut diterima "atas dasar belas kasihan," tetapi menduga bahwa mereka "diusir" dari Gaza.

Berita mengenai penumpang Palestina yang harus menunggu berjam-jam di landasan pacu memicu reaksi keras dari publik Afrika Selatan, yang selama ini dikenal sebagai pendukung setia perjuangan rakyat Palestina.

Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya solidaritas internasional terhadap nasib rakyat Palestina yang sering kali terpinggirkan dalam konflik yang berkepanjangan.

500.000 Tiket Penerbangan Warga China ke Jepang Dibatalkan Imbas Ketegangan Dua Negara
Para pelancong yang mengenakan masker menunggu penerbangan mereka di Bandara Internasional Hong Kong di Hong Kong, Selasa (21/1/2020). Masker terjual habis dan pemeriksaan suhu di bandara dan © 2025 Liputan6.com

BMA menjelaskan bahwa penumpang awalnya ditolak untuk masuk karena mereka tidak memiliki stempel keberangkatan, tidak dapat menjelaskan rencana tinggal, serta tidak menyatakan niat untuk mengajukan suaka. Namun, situasi berubah setelah organisasi kemanusiaan Gift of the Givers menawarkan jaminan akomodasi untuk mereka.

Akibatnya, sebanyak 130 warga Palestina berhasil masuk secara resmi ke Afrika Selatan, sedangkan 23 orang lainnya melanjutkan perjalanan ke negara tujuan yang berbeda.

Koresponden Al Jazeera, Fahmida Miller, melaporkan bahwa beberapa penumpang tidak mengetahui ke mana mereka akan dibawa setelah meninggalkan Israel, dan banyak dari mereka diperkirakan akan mengajukan suaka di negara baru mereka.

Imtiaz Sooliman, pendiri Gift of the Givers, menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui identitas penyewa pesawat yang membawa para penumpang tersebut.

Ia juga menginformasikan bahwa pesawat pertama yang mengangkut 176 warga Palestina tiba di Johannesburg pada 28 Oktober yang lalu.

Menurut informasi yang diterimanya dari para penumpang, Sooliman berpendapat bahwa Israel memindahkan warga Gaza menggunakan pesawat carteran tanpa memberikan cap paspor, yang membuat mereka kesulitan saat memasuki negara lain.

Israel sengaja tidak memberikan stempel untuk menambah penderitaan mereka di negara asing, ujarnya, menyoroti tindakan tersebut sebagai langkah yang tidak manusiawi.

Rekomendasi