TK di Jepang minta maaf usai menulis ujaran kebencian
Merdeka.com - Gara-gara menulis kalimat rasial, sebuah taman kanak-kanak (TK) yang memiliki kedekatan dengan istri Perdana Menteri Shinzo Abe, Akie, dikecam banyak pihak. Tak ingin kasus itu berbuntut panjang, sekolah ini memilih meminta maaf atas kata-kata tersebut.
Dilansir Reuters, Selasa (21/2), TK swasta tersebut bernama Tsukamoto di Osaka, bagian barat Jepang. Sekolah ini pernah dikunjungi Akie Abe atas komentar rasialnya soal etnis Tionghoa dan Korea. Tulisan itu disebut sejumlah media lokal sebagai ujaran kebencian.
Padahal, sekolah ini berencana membuka sekolah dasar pada April mendatang dan telah menunjuk istri dari perdana menteri sebagai kepala sekolah kehormatan. Berdasarkan laporan lembaga berita Kyodo, TK ini langsung meminta maaf setelah menyebut warga Korea Selatan dan Tionghoa sebagai orangtua yang tidak bertanggung jawab.
"Kami meminta maaf atas kesan terkait warga asing yang menyebabkan kesalahpahaman," tulis TK tersebut dalam laman resminya.
Meski begitu, sekolah menyebut artikel-artikel yang beredar di internet terhadap kasus tersebut dinilai tidak adil, memfitnah dan telah mencemarkan nama baik. Para pengurus kepolisian menyatakan akan melawan semua kritik-kritik jahat.
Penduduk Korea dan China mengritik secara umum retorika sayap kanan di Jepang, di mana kesamaan etnis merupakan kebanggaan bagi banyak kaum konservatif. Bahkan, pemerintah perfektur Osaka tengah menimbang melakukan penindakan atas ekspresi kebencian terhadap warga Korea dan China yang tinggal di Jepang.
TK Tsukamoto saat ini masih menanamkan sikap patriotik kepada anak berusia 3 sampai 5 tahun yang difokuskan terhadap tradisi dan kebudayaan Jepang.
Gara-gara kelakuan TK tersebut, Abe dicecar habis atas kemungkinan kaitannya dengan Moritomo Gakuen, termasuk ketahuannya soal penggunaan namanya untuk dipakai acara pengumpulan dana untuk mendirikan sekolah dasar. Abe mengaki dia telah menolak permintaan namanya menggunakan namanya karena pengaju bukan orang yang tepat dan ditakutkan akan menyalahgunakannya untuk mendapatkan uang.
"Ketika muncul pernyataan soal diskriminasi berdasarkan kebangsaan, etnis atau ras, itu tidak bisa ditoleransi dan sangat penting untuk mempertimbangkan mereka dan memiliki pemahaman yang sama," tulis pernyataan Kantor Perdana Menteri Jepang.
Sementara, kepala sekolah TK tersebut sekaligus presiden Moritomo Gakuen Yasunori Kagoike merupakan kepala cabang Nippon Kaigi atau Konferensi Jepang, lembaga lobi nasional yang memiliki kedekatan dengan perdana menteri dan kabinetnya. Pejabat TK tidak memberikan keterangan apapun mengenai tudingan itu.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya