Longsor salju menerjang jalur pendakian Broad Peak di Pegunungan Karakoram, Pakistan, dan menewaskan Nirmal 'Nims' Purja bersama sembilan pendaki lain. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh perusahaan ekspedisinya, Elite Expeditions.
Musibah terjadi saat rombongan pendaki internasional yang dipimpin Nirmal Purja sedang bergerak di ketinggian. Operasi pencarian dan penyelamatan digelar, namun akses medan yang ekstrem membuat upaya evakuasi terkendala.
Pemerintah Nepal menyampaikan belasungkawa atas peristiwa ini, seperti dikutip dari BBC. Dari Inggris, penghormatan juga datang kepada Purja yang dikenal luas berkat pencapaiannya di dunia pendakian.
Advertisement
Operasi SAR di Broad Peak dan Medan Sulit
Juru bicara Alpine Club of Pakistan, Naila Kiani, yang ikut dalam operasi, menyebut Purja sebagai pemimpin ekspedisi yang berpengalaman dan pemberani. Ia menuturkan tim penyelamat telah melihat sejumlah jenazah dari udara, tetapi belum dapat menjangkaunya karena kondisi medan yang sangat sulit.
Pencarian berlangsung di Broad Peak, gunung setinggi 8.047 meter di Pegunungan Karakoram. Puncak ini merupakan gunung tertinggi ke-12 di dunia dan dikenal menantang karena cuaca cepat berubah serta jalur bersalju yang rawan longsor.
Pendakian pertama yang berhasil mencapai puncak Broad Peak dilakukan tim Austria pada 1957. Sejak itu, ratusan pendaki telah menapakkan kaki di puncak, namun puluhan lainnya kehilangan nyawa. Salah satu tahun paling mematikan terjadi pada 2013, ketika sedikitnya enam pendaki tewas.
Advertisement
Komposisi Korban dan Ucapan Duka Resmi
Pemerintah Nepal menyatakan enam pendaki Nepal dan empat pendaki asing menjadi korban dalam musibah longsor di Broad Peak. Otoritas Pakistan sebelumnya mengonfirmasi penemuan jenazah tiga anggota ekspedisi Purja: Mallory Geis dari Amerika Serikat, Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy dari Oman, dan Pur Bahadur Gurung dari Nepal.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyampaikan belasungkawa atas wafatnya para pendaki, termasuk Purja. "Kematian tragis enam warga Nepal dan empat pendaki asing, termasuk pemegang rekor dunia Nirmal Purja, mengejutkan kami. Keberanian, dedikasi, dan kontribusi mereka akan selalu menjadi inspirasi," ujar Shah, seperti dikutip dari BBC, Minggu (2/8/2026).
Dari pihak keluarga, pesan perpisahan turut disampaikan. "Kami akan merindukanmu setiap hari," tulis Kamal Purja, kakak mendiang. Dalam unggahan lain, ia menambahkan, "Meskipun hati kami hancur, kami sangat bangga kepadamu. Warisanmu akan hidup selamanya," tulis kakak Nirmal Purja menegaskan kebanggaan keluarga.
Dari Inggris, Menteri Pertahanan Wes Streeting mengenang Purja sebagai sosok inspiratif yang mengabdi bertahun-tahun di Angkatan Bersenjata Inggris dan dikenal luas berkat capaian besarnya di dunia pendakian.
Advertisement
Rekor 14 Puncak 8.000 Meter Nirmal Purja
Nirmal Purja dikenal sebagai salah satu pendaki terbaik dunia. Pada 2019, ia menuntaskan pendakian seluruh 14 gunung berketinggian di atas 8.000 meter hanya dalam 189 hari (enam bulan enam hari), mematahkan rekor sebelumnya dengan selisih lebih dari tujuh tahun. Kisahnya diabadikan dalam film dokumenter Netflix berjudul 14 Peaks: Nothing Is Impossible.
Sebelum berfokus pada pendakian, pria kelahiran Nepal ini bertugas selama 16 tahun di militer Inggris, termasuk 10 tahun di Pasukan Khusus. Rekor 2019-nya didokumentasikan luas oleh berbagai media internasional, termasuk Reuters.
Seperti dikutip dari Reuters (30/10/2019), Purja menaklukkan Shishapangma (8.027 meter) di Tibet beberapa hari setelah menyelesaikan rangkaian puncak sebelumnya. "Misi berhasil," tulis Purja. Ia menambahkan pencapaiannya sebagai tonggak penting, "Ini rekor dunia," kata dia.
Rangkaian pendakian cepatnya dimulai dari Annapurna I pada 23 April, lalu disusul Dhaulagiri, Kanchenjunga, Everest, Lhotse, dan Makalu pada bulan berikutnya. Ia kemudian bergerak ke Pakistan untuk menuntaskan Nanga Parbat, Gasherbrum I, Gasherbrum II, K2, dan Broad Peak. Setelah itu, ia kembali ke Nepal untuk Cho Oyu dan Manaslu, sebelum menutup dengan Shishapangma di Tibet. Delapan dari 14 puncak berada di Nepal, lima di Pakistan, dan satu di Tibet.
Para pakar menyebut hanya sekitar tiga puluh pendaki yang sejauh ini telah menaklukkan seluruh 14 puncak 8.000 meter. Rekor tercepat sebelum Purja dipegang Kim Chang-ho dari Korea Selatan dengan waktu tujuh tahun, 10 bulan, dan enam hari.
Pada Mei 2019, Purja memotret antrean panjang pendaki di Puncak Everest. Foto itu viral dan memicu kritik soal keselamatan, hingga pemerintah Nepal menyusun aturan baru untuk mengurangi antrean. Pemerintah Nepal akan mengizinkan pendaki bila sudah membayar 11 ribu dolar AS.
Advertisement
Misi Terakhir di Karakoram dan Pesan Nims
Dalam unggahan terakhir di platform X pada Senin (27/7/2026), Purja mengungkapkan awalnya ia hanya berencana mendaki Gasherbrum II (G2), namun kemudian menambahkan Broad Peak ke dalam misinya. "Ini bukan rencana awal. Namun kesempatan tidak berteriak, melainkan berbisik kepada mereka yang terus bekerja dalam diam," tulis Purja.
Apabila berhasil mencapai puncak Broad Peak, Purja hanya tinggal menaklukkan satu gunung lagi untuk menjadi orang pertama yang berhasil mendaki seluruh 14 puncak 8.000 meter sebanyak dua kali tanpa bantuan oksigen tambahan.
Menjelang pendakian terakhirnya itu, ia menuliskan doa singkat: "Broad Peak, aku tidak meminta apa pun selain perjalanan yang aman saat naik dan turun. Aku tidak pernah menganggap remeh satu pun gunung."