Pengakuan Langka di Forum Militer, Ameriak Serikat Akui Punya Senjata di Orbit

Menteri AU AS Troy Meink mengakui Ameriak Serikat menempatkan senjata di luar angkasa. Ia tak memerinci jenis maupun waktunya. Ini konteks dan dampaknya.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Pengakuan Langka di Forum Militer, Ameriak Serikat Akui Punya Senjata di Orbit
Roket Atlas V United Launch Alliance yang mengangkut Mars Perseverance milik NASA diluncurkan dari Kompleks Peluncuran Antariksa 41 di Pangkalan AU Tanjung Canaveral, Florida, AS, 30 Juli 2020. Peluncuran ini untuk mencari tanda-tanda kehidupan masa lampau di Planet Merah. (Xinhua/NASA/Joel Kowsky)

Ameriak Serikat mengakui telah menempatkan senjata di luar angkasa dan menyatakan siap menggunakannya untuk melindungi pasukan Amerika. Pengumuman itu disampaikan Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink pada Senin, menjadi pernyataan publik pertama terkait kemampuan persenjataan di orbit.

Dikutip dari CNN, Rabu (16/9/2026), pengakuan tersebut juga dipandang sebagai sinyal kepada pihak-pihak yang berpotensi menimbulkan ancaman di ranah antariksa.

Pernyataan Meink disampaikan dalam konferensi Air, Space and Cyber, pertemuan tahunan Air & Space Forces Association di National Harbor, Maryland.

“Saat ini, kami terus memastikan kesiapan kami dalam menghadapi tantangan ancaman yang terus berkembang, di mana pun ancaman tersebut berada,” kata Meink. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki senjata pengendali ruang angkasa yang berada di orbit untuk melindungi pasukan gabungan dari tindakan bermusuhan.

Meink tidak memerinci jenis sistem yang dimaksud dan menolak memberikan keterangan tambahan saat diminta. Hingga kini, belum diketahui kapan persenjataan itu ditempatkan di orbit.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump sebelumnya menonjolkan berdirinya US Space Force pada 2019 sebagai bagian dari Angkatan Udara AS. Ia menggambarkannya sebagai langkah bersejarah untuk memperkuat pertahanan Amerika Serikat di tengah perlombaan senjata ketika China dan Rusia menantang dominasi AS di luar angkasa.

US Space Force menilai China tengah mengembangkan dan mengoperasikan kemampuan ruang angkasa serta kontra-ruang angkasa sebagai bagian dari modernisasi militernya. Rusia disebut memandang luar angkasa sebagai wilayah peperangan dan meyakini supremasi di sana akan menentukan konflik masa depan. Pejabat militer AS berulang kali memperingatkan kedua negara itu sedang menguji kemampuan ofensif baru di orbit.

Salah satu yang disorot Washington adalah misi pelatihan konstelasi satelit Rusia yang dinilai dapat menunjukkan kapabilitas “menyerang dan bertahan” dalam pertempuran mendatang. China juga disebut mengembangkan rudal hipersonik berkemampuan nuklir yang dapat melakukan penerbangan sebagian mengorbit.

Pada 2024, CNN melaporkan intelijen AS menduga Rusia berupaya mengembangkan senjata nuklir berbasis luar angkasa yang mampu menghasilkan gelombang energi besar atau electromagnetic pulse (EMP) untuk melumpuhkan banyak satelit komersial dan pemerintah. Moskow membantah klaim tersebut.

Dampak Senjata Antariksa Bisa Meluas, Peringatan Pejabat Ameriak Serikat

Senjata semacam itu berpotensi menimbulkan dampak luas dan menghancurkan. Salah satu konsekuensinya adalah terganggunya satelit yang digunakan dunia untuk memprediksi cuaca dan merespons bencana.

Sistem navigasi global juga berisiko terdampak. Layanan ini menopang banyak aktivitas, mulai dari perbankan dan pengiriman barang hingga transportasi daring dan pengiriman ambulans.

“Penting sekali bagi kita untuk mempertahankan dominasi, bukan hanya di udara tetapi juga di luar angkasa,” ujar Meink pada Senin.

Menurutnya, Amerika Serikat perlu mengambil langkah untuk memastikan bahwa ketika menghadapi ancaman, negaranya memiliki kemampuan untuk mengatasinya.

Rekomendasi