Seorang pelari perempuan berusia 24 tahun meninggal dunia setelah pingsan saat mengikuti Maraton New York pada Minggu. Ia kolaps sekitar dua mil atau 3,2 kilometer sebelum garis finis dan dinyatakan meninggal pada malam harinya, dikutip dari BBC, Rabu (4/11/2026).
Pelari tersebut bernama Rachel Apa dari Lewisberry, Pennsylvania. Ini adalah maraton pertamanya. Ia berlari bersama tim Parkinson's Foundation Champions untuk menggalang dana sekaligus mengenang kakeknya yang mengidap penyakit Parkinson. Menurut ayahnya, Steve Apa, Rachel adalah atlet yang telah berlatih berbulan-bulan sebelum lomba, sebagaimana disampaikannya kepada The New York Times.
Rachel dilaporkan pingsan di Central Park, di sekitar penanda jarak mil ke-24. Seorang warga sempat memberikan resusitasi jantung paru (CPR) sebelum petugas medis perlombaan tiba. Penyelenggara, New York Road Runners (NYRR), menyampaikan informasi tersebut kepada CBS News, mitra BBC di Amerika Serikat.
Departemen Kepolisian New York (NYPD) menyebut seorang pelari dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis, tanpa menyebut identitas. Rachel kemudian meninggal pada malam harinya. Kantor pemeriksa medis Kota New York masih menyelidiki penyebab kematiannya.
Steve Apa mengatakan putrinya meninggal akibat rhabdomyolysis, kondisi langka saat jaringan otot mengalami kerusakan dan melepaskan zat beracun ke aliran darah. Kondisi ini dapat dipicu oleh aktivitas fisik yang berlebihan.
Menurut The New York Times, Rachel sempat mengirim pesan singkat kepada ayahnya selama lomba. Sekitar mil ke-18 ia menulis "Ow", satu mil kemudian ia mengirim "Ow ow", dan pada mil ke-23 ia menulis "final stretch" atau lintasan terakhir.
"Kami sangat berduka atas meninggalnya Rachel setelah mengikuti perlombaan hari Minggu. Pikiran dan simpati tulus kami sampaikan kepada keluarga, teman-teman, serta seluruh komunitas pelari," tulis New York Road Runners kepada CBS News.
Advertisement
Rachel Apa, Lulusan Bucknell yang Berlari di Maraton New York
Rachel merupakan lulusan Bucknell University, Pennsylvania, pada 2024 dengan gelar di bidang bisnis. Selama masa kuliah, ia juga bermain hoki lapangan.
Berdasarkan profil LinkedIn-nya, setelah lulus Rachel bekerja sebagai manajer produk di sebuah perusahaan teknologi industri.
Sebelum mengikuti maraton, Rachel menuliskan peran besar sang kakek dalam hidupnya melalui halaman penggalangan dana yang ia buat.
"Kakek saya adalah panutan saya saat tumbuh dewasa. Ia mengajari saya untuk tetap aktif, melampaui batas kemampuan, dan menerima tantangan. Hal itu membentuk kecintaan saya terhadap olahraga dan aktivitas fisik," tulis Rachel.
Ia juga menceritakan bagaimana penyakit Parkinson mengurangi kebebasan bergerak yang dahulu dinikmati kakeknya.
"Saya menyaksikan penyakit itu perlahan-lahan merenggut kebebasan bergerak yang dahulu sangat ia cintai," tulisnya.
"Pelajaran yang diajarkannya terus mendorong saya untuk melangkah maju."
Lebih dari 61.000 orang mengikuti New York City Marathon tahun ini. Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, ajang tersebut memecahkan rekor dunia sebagai maraton dengan jumlah peserta terbesar.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402117/original/027535500_1762237566-AP25306524115089.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546390/original/066861500_1775294100-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9316786/original/087225900_1785989372-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2405289/original/014245500_1541910595-vota.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567303/original/005078600_1777274692-dinesh-bhusal-ipxrJXeKzn4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546340/original/050246100_1775287307-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9389317/original/045133900_1793705217-WhatsApp_Image_2026-11-03_at_17.51.58.jpeg)