Peluncuran roket Long March 7A yang membawa satelit Zhongxing-4B dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang, Hainan, berakhir gagal pada Senin (10/8/2026) malam. Roket meledak sesaat setelah lepas landas, menjadi salah satu kegagalan yang jarang pada program antariksa China.
Menurut CNN, roket berubah menjadi bola api besar sekitar 85 detik setelah peluncuran.
Kantor berita pemerintah Xinhua mengonfirmasi sekitar tiga jam setelah peluncuran bahwa roket mengalami masalah saat mengudara. Penyebab kegagalan masih diselidiki dan tidak ada keterangan lanjutan dari Xinhua.
Advertisement
Video Warga dan Minimnya Pemberitaan Resmi
Tidak seperti peluncuran yang biasanya diliput luas, insiden kali ini hanya muncul terbatas di media pemerintah China.
Di media sosial China, rekaman peluncuran yang beredar sebagian besar berasal dari akun terafiliasi pemerintah. Video unggahan pengguna tampak dihapus atau tidak banyak muncul dalam hasil pencarian di Xiaohongshu dan Douyin.
Dalam salah satu video yang beredar setelah kegagalan pada Senin, terdengar suara orang-orang terkejut ketika roket tampak pecah di udara sesaat setelah pukul 20.00 waktu setempat.
Wenchang merupakan salah satu tujuan wisata antariksa. Wisatawan dan warga setempat kerap berkumpul di Wenchang Space Launch Viewing Center serta titik-titik lain yang memiliki pandangan terbuka ke lokasi peluncuran.
Advertisement
Long March 7A dan Muatan Zhongxing-4B
Long March 7A dikembangkan China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT), anak perusahaan China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), kontraktor milik negara utama dalam program antariksa China.
Sejak dikembangkan, roket ini baru sekali gagal, yakni pada penerbangan perdananya pada 2020. Peluncuran kedua pada Maret 2021 berlangsung sukses, dengan foto-foto yang memperlihatkan banyak warga menyaksikan dari sekitar lokasi.
Roket tersebut membawa Zhongxing-4B atau ChinaSat-4B, satelit yang menurut media pemerintah China dipersiapkan untuk menyediakan layanan radio, televisi, dan komunikasi lainnya bagi pengguna di berbagai negara.
Berbeda dengan upaya roket yang dapat digunakan kembali, Long March 7A adalah roket tiga tahap yang tidak dirancang untuk dipakai ulang.
Advertisement
Penundaan Peluncuran Zhuque-3 Usai Insiden
Setelah kegagalan Long March 7A, peluncuran Zhuque-3 yang dijadwalkan Selasa pagi di Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan ditunda, menurut Yicai yang mengutip sumber mengetahui rencana tersebut.
Zhuque-3 dikembangkan oleh perusahaan roket swasta China, LandSpace, sebagai salah satu upaya paling serius negara itu mengembangkan roket peluncur yang dapat digunakan kembali.
Roket tersebut menjalani penerbangan perdana pada Desember 2025, namun bagian tahap pertamanya terbakar sebelum jatuh di dekat lokasi yang ditargetkan sebagai tempat pendaratan kembali.
Bulan lalu, China berhasil mendaratkan kembali tahap pertama roket dalam uji coba berikutnya. Menurut stasiun televisi pemerintah CCTV, pendorong tahap pertama kembali ke sebuah platform terapung sekitar enam menit setelah terpisah dari bagian atas roket.
"Misi ini menandai terobosan bersejarah dalam teknologi roket yang dapat digunakan kembali China dan menjadi fondasi yang kuat untuk mempercepat peningkatan kemampuan China dalam mengakses ruang angkasa," tulis China Aerospace Science and Technology Corporation di media sosial saat itu.
Advertisement
Ambisi 2050 dan Komentar dari Industri
Pemimpin China Xi Jinping menargetkan negaranya menjadi salah satu pemimpin dunia dalam ilmu antariksa pada 2050.
China saat ini bersaing dengan Amerika Serikat di berbagai bidang, mulai dari teknologi roket yang dapat digunakan kembali, penelitian Bulan, hingga peluncuran satelit.
"Roket memang sangat sulit," tulis Musk.
Secara teknis, Long March 7A memiliki panjang hampir 60 meter dengan empat roket pendorong. Roket ini mampu membawa muatan hingga tujuh metrik ton ke orbit transfer geostasioner (GTO), lintasan yang digunakan untuk mengantarkan satelit menuju orbit geostasioner sekitar 35.405 kilometer di atas permukaan Bumi.