Trump Garap Pabrik Baja Terbesar AS, Nilainya Tembus US$ 15 Miliar

Di Gedung Putih, Trump mengumumkan rencana pabrik baja baru di Iowa. Mesabi Metallics menyiapkan investasi besar dan target produksi. Simak detailnya.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Trump Garap Pabrik Baja Terbesar AS, Nilainya Tembus US$ 15 Miliar
<p>Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Ruang Oval, Gedung Putih, pada 19 September 2025. (Dok. AP/Alex Brandon)</p>

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana Mesabi Metallics untuk membangun pabrik baja yang diklaim akan menjadi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Proyek yang dipaparkan di Ruang Oval Gedung Putih itu bernilai sekitar US$ 15 miliar dan ditargetkan mulai berproduksi pada 2030 di Iowa.

Perusahaan menyebut seluruh rantai pasok akan berbasis domestik. Mesabi Metallics menyatakan, “100% baja Amerika: ditambang, dilebur, dan dicetak di Minnesota dan Iowa.” Bahan baku bijih besi akan dipasok dari tambang Mesabi di Iron Range, Minnesota. Proyek tambang senilai lebih dari US$ 2,5 miliar tersebut mulai berproduksi setelah pengembangan yang berlangsung sekitar dua dekade.

Pada tahap awal, pabrik baja di Iowa diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 7,5 juta ton per tahun dan mendukung hingga 6.000 lapangan kerja konstruksi. Kapasitas ditargetkan meningkat menjadi 10 juta ton per tahun, dengan sedikitnya 1.750 pekerjaan permanen yang tercipta.

Tarif Baja dan Respons Industri

Dalam pengumuman di Ruang Oval itu, Trump didampingi CEO Mesabi Metallics Joe Broking dan Chairman Rewant Ruia. Sejumlah pejabat pemerintah AS dan pejabat terpilih dari Iowa juga hadir.

Rencana investasi muncul setelah Trump menerapkan tarif 25% terhadap impor baja dan aluminium pada awal masa jabatan keduanya, yang kemudian dinaikkan menjadi 50%. Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong manufaktur dalam negeri.

Para pengkritik menilai tarif tersebut ikut mendorong harga baja AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun sejumlah kelompok perdagangan baja AS mendukung kebijakan itu. Dalam surat kepada Trump pada Jumat, mereka menyebut tarif baja telah mendorong investasi yang diumumkan dan sedang berjalan senilai US$ 47 miliar.

Kelompok industri itu juga meminta agar tarif tidak dilemahkan karena dinilai dapat membahayakan perkembangan investasi sektor baja AS. Di Ruang Oval, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan rencana pembangunan pabrik tersebut merupakan “kesepakatan yang sudah selesai”.

Proyek Jangka Panjang dan Janji Penguatan Industri

Proyek konstruksi jangka panjang berpotensi menghadapi perubahan maupun hambatan selama pembangunan. Tambang bijih besi Mesabi di Minnesota, misalnya, semula ditargetkan selesai pada 2016, namun perusahaan di balik proyek tersebut kemudian mengajukan kebangkrutan.

Trump juga pernah mendukung proyek besar yang tidak mencapai target awal. Pada masa jabatan pertamanya, ia menghadiri peletakan batu pertama pabrik Foxconn senilai US$ 10 miliar di Wisconsin dan menyebut proyek itu sebagai “keajaiban dunia kedelapan”.

Pada 2021, Foxconn memangkas rencana investasinya menjadi US$ 672 juta dan mengurangi target lapangan kerja baru menjadi 1.454 dari sebelumnya 13.000.

Juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menyebut rencana pabrik baja tersebut selaras dengan agenda penguatan industri dalam negeri. “Presiden Trump memenuhi janjinya untuk membangun kembali industri Amerika, mengembalikan manufaktur ke dalam negeri, dan menciptakan lapangan kerja baru,” kata Rogers.

“Pengumuman hari ini menegaskan upaya bersejarah Presiden untuk menghidupkan kembali industri baja AS, mendukung masyarakat lokal, memperkuat rantai pasok, dan melindungi keamanan nasional,” lanjutnya.

Rekomendasi