Seekor burung Kasuari terlihat di pinggir jalan Kota Etty Bay, Pantai Kasuari, Queensland, Australia, pada 7 April 2024. Kasuari, burung purba yang tak bisa terbang, merupakan burung endemik hutan hujan Papua dan Australia. Sudah ada sejak puluhan juta tahun lalu, kini populasi burung Kasuari mengkhawatirkan. Foto: David Gray/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9188444/original/073824500_1783099421-1718103052656-r29vp.jpg)
Advertisement
Pemerintah Australia menempatkan burung Kasuari sebagai satwa terancam punah. Menurutnya, hanya tersisa sekitar 4.500 ekor di alam liar. Foto: David Gray/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9188445/original/025689100_1783099422-1718102349072-avg0h.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9188446/original/053682500_1783099422-1718102427604-hvv1p.jpg)
Meskipun tak bisa terbang, Kasuari merupakan pelari ulung. Kakinya yang kuat mampu membawanya berlari hingga 50 km per jam, menerobos hutan lebat dengan lincah. Foto: David Gray/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9188447/original/099251000_1783099422-1718102606555-vbki4.jpg)
Selain itu, cakarnya yang tajam pun siap menjadi senjata pertahanan diri yang ampuh. Maka tak heran jika burung Kasuari menjadi satwa yang ditakuti. Foto: David Gray/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9188448/original/036603100_1783099423-1718103012715-2bx7xl.jpg)
Meski demikian, burung Kasuari memiliki tampilan yang menawan dengan bulu hitam pekat dipadu leher biru cerah yang mencolok, serta lipatan kulit merah yang tergandung di bagian lehernya. Foto: David Gray/AFP
Advertisement
Advertisement
Kemudian, burung ini punya mahkota mirip tanduk yang menonjol di atas kepalanya. Foto: David Gray/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9188449/original/015686100_1783099424-1718103041536-ofem9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9188450/original/017997100_1783099424-1718103396681-qobhp.jpg)
Sayangnya, populasi burung Kasuari kini semakin menurun, terancam oleh penebangan hutan dan perburuan liar. Foto: David Gray/AFP
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9188443/original/037671900_1783099421-1718103637758-yh8rm.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5215146/original/082316400_1746794162-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9379444/original/037729800_1792627796-Demo_pelajar_di_Yunani.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376198/original/070880000_1792312230-AP26290534189154.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319019/original/009271200_1755502147-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9374231/original/061210200_1792040969-000_D3A22KE.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9371109/original/032008900_1791759069-download__1_.jpg)