"Kami Ditembaki Seperti Guyuran Hujan, Orang-Orang Dibunuh dengan Cara yang Tak Pernah Saya Bayangkan"

Pasukan penjaga perbatasan Arab Saudi terlibat dalam kematian "ratusan" migran dan pencari suaka asal Ethiopia di perbatasan Yaman.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
"Kami Ditembaki Seperti Guyuran Hujan, Orang-Orang Dibunuh dengan Cara yang Tak Pernah Saya Bayangkan"
"Kami Ditembaki Seperti Guyuran Hujan, Orang-Orang Dibunuh dengan Cara yang Tak Pernah Saya Bayangkan" (Merdeka.com)

'Kami Ditembaki Seperti Guyuran Hujan, Orang-Orang Dibunuh dengan Cara yang Tak Pernah Saya Bayangkan'

Laporan organisasi pembela hak asasi HRW menyebut pasukan penjaga perbatasan Arab Saudi terlibat dalam kematian 'ratusan' migran dan pencari suaka asal Ethiopiap.

'Kami ditembaki berulang kali. Saya melihat orang-orang dibunuh dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan. Saya melihat 30 orang terbunuh di tempat. Saya menyelipkan diri di bawah batu dan tidur di sana. 'Saya bisa merasakan orang tidur di sekitar saya. Saya sadar apa yang saya kira orang tidur di sekitar saya sebenarnya adalah mayat. Saya bangun dan saya sendirian.'


Kisah mengerikan itu disampaikan remaja 14 tahun Hamdiya (bukan nama sebenarnya), seorang migran dari Ethiopia.

Dalam laporan yang dipublikasikan organisasi pembela hak asasi Human Rights Watch (HRW), pasukan penjaga perbatasan Arab Saudi terlibat dalam kematian 'ratusan' migran dan pencari suaka asal Ethiopia yang mencoba menyebrangi perbatasan Yaman-Arab Saudi antara Maret 2022 dan Juni 2023. 
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dalam laporan yang dirilis Senin lalu, HRW mengungkapkan temuan dari hasil wawancara dengan 42 migran dan pencari suaka serta analisis lebih dari 350 video, foto, dan citra satelit.

Temuan ini menyoroti para migran yang tewas dan terluka di jalan setapak, di kamp-kamp, dan di fasilitas-fasilitas medis serta bagaimana lokasi pemakaman di dekat kamp-kamp migran bertambah besar, dan infrastruktur keamanan perbatasan Arab Saudi yang semakin luas. 


Video yang diunggah di media sosial, termasuk TikTok dan Facebook, diakui oleh HRW sebagai bukti visual serangkaian kematian tersebut telah terjadi. Menurut analisis seorang ahli patologi forensik, luka-luka pada tubuh migran juga sesuai dengan cedera akibat ledakan bahan peledak atau tembakan senjata api.

Mayat di mana-mana

Sepuluh orang yang diwawancarai mengatakan, 11 percobaan penyeberangan perbatasan yang melibatkan 1.278 migran mengakibatkan setidaknya 655 kematian. Sembilan percobaan lainnya hanya menyisakan 281 orang yang selamat. 


Salah seorang narasumber mengatakan kepada HRW bahwa 'dari 150 orang, hanya 7 orang yang selamat pada hari itu. Sisa-sisa mayat orang ada di mana-mana, berserakan di mana-mana.'
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

HRW juga menyoroti peran kelompok militan Houthi yang didukung oleh Iran dalam penyalahgunaan migran di sepanjang rute migrasi, termasuk pemerasan, penahanan sewenang-wenang, dan perdagangan manusia.

Kejahatan kemanusiaan

'Pasukan penjaga perbatasan Arab Saudi menggunakan senjata peledak secara membabi-buta dan menembak orang dari jarak dekat, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam pola yang merata dan sistematis. 


Jika tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah Saudi untuk membunuh migran, maka pembunuhan-pembunuhan ini bisa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan,' demikian diutarakan oleh HRW dalam laporannya. Kekerasan ini tampaknya masih berlanjut hingga kini.
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Namun, sumber anonim dari pemerintah Arab Saudi yang dihubungi oleh CNN menolak klaim tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.

HRW juga mencatat bahwa konflik baru-baru ini di wilayah Tigray, Ethiopia, telah mendorong sejumlah migran untuk mencari perlindungan di luar negara mereka. Para migran ini melakukan perjalanan melintasi rute berbahaya dari Tanduk Afrika melewati Teluk Aden ke Yaman dan kemudian Arab Saudi


Laporan juga menggambarkan pengalaman traumatis para migran yang sering kali mengalami penganiayaan, serangan seksual, dan pemerasan dari para penyelundup. 

Migran yang tidak memiliki dana untuk membayar para penyelundup sering kali dihadapkan pada situasi penahanan yang penuh sesak di pusat tahanan Houthi di Yaman, tempat mereka mengalami pelecehan dan pemerasan.
Dok. Istimewa
merdeka.com

HRW mengatakan mereka mewawancarai penyintas yang ditanya oleh penjaga perbatasan Saudi, bagian mana dari tubuh mereka yang ingin ditembak, sebelum mereka menembak dari jarak dekat.

"Mereka menembak kaki kami. Penjaga itu memakai seragam militer Saudi, warnanya campuran hijau dan cokelat," kata seorang migran 23 tahun kepada HRW.

"Orang-orang ditembak di bagian lain tubuh mereka. Peluru itu mengenai mulut dan tembus keluar leher. Saya ditembak dengan brutal."

Laporan HRW ini muncul sekitar setahun setelah kelompok ahli PBB mencatat tuduhan serupa, dengan mengklaim bahwa pasukan keamanan Saudi telah terlibat dalam kematian 430 migran dan melukai 650 orang dalam serangan dan penembakan lintas perbatasan antara 1 Januari hingga 30 April 2022.

Sumber: CNN

HRW mendesak PBB untuk membentuk penyelidikan independen terhadap kasus ini.

Upaya untuk melintasi perbatasan sering kali berakhir tragis dengan pembunuhan dan luka-luka akibat serangan senjata api.

HRW mendesak PBB untuk membentuk penyelidikan independen terhadap kasus ini.<div><br></div><div>Upaya untuk melintasi perbatasan sering kali berakhir tragis dengan pembunuhan dan luka-luka akibat serangan senjata api.<br></div>
merdeka.com

Video penjaga perbatasan Saudi diduga terlibat penembakan terhadap migran Ethiopia di perbatasan Yaman.

Rekomendasi