Iran menegaskan tidak akan menyerah dan mundur atas gertakan juga ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal itu menyusul ancaman Trump yang mengeluarkan perintah blokade Selat Hormuz.
Demikian dikatakan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf usai tiba di Teheran. Seperti diketahui, Ghalibaf ikut dalam perundingan Iran-AS yang digelar di Islamabad, Pakistan yang berakhir tanpa kesepakatan.
Menurut laporan dari sejumlah kantor berita Iran pada Minggu (12/4), Ghalibaf menyatakan, "Jika mereka berperang, kami akan berperang. Jika mereka datang dengan logika, kami akan merespons dengan logika.
Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi agar kami dapat memberi mereka pelajaran yang lebih besar," seperti dikutip dari Al Arabiya.
Di sisi lain, Kepala Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, mengungkapkan bahwa Angkatan Laut Iran terus memantau setiap pergerakan militer AS di kawasan. Ia menilai ancaman blokade laut yang disampaikan oleh Trump tidak serius.
"Ancaman presiden AS untuk memblokade Iran di laut sangat konyol dan menggelikan," seperti yang dilaporkan oleh televisi pemerintah Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga memberikan peringatan bahwa setiap kapal militer yang berusaha mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dua minggu dengan AS dan akan ditindak tegas.
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan oleh media pemerintah, IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali dan "manajemen cerdas" Angkatan Laut Iran, dan tetap membuka jalur tersebut bagi kapal non-militer yang mematuhi aturan tertentu.
Trump sendiri sesumbar bahwa ia memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz karena Iran menolak untuk menghentikan ambisi nuklirnya.
"Jadi, begitulah adanya, pertemuan berjalan baik, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu poin yang paling penting, NUKLIR, tidak," ujar Trump merujuk pada perundingan di Pakistan.
Ia menambahkan, "Mulai saat ini, Angkatan Laut AS, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz."
Advertisement
Ancaman Trump ke Iran jadi Sorotan
Dalam wawancara dengan Fox News yang disiarkan pada Minggu, Trump kembali mengancam infrastruktur energi Iran. Ia bahkan menyatakan bahwa AS mampu melumpuhkan seluruh fasilitas energi Iran dalam satu hari. Selain itu, ia mengancam akan mengenakan tarif 50 persen terhadap impor China jika Beijing membantu militer Iran.
Ketegangan meningkat setelah perundingan tingkat tinggi antara kedua negara yang merupakan pertemuan paling signifikan sejak Revolusi Islam 1979 gagal mencapai kesepakatan. Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance bersama utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
"Saya selalu mengatakan, sejak awal, dan bertahun-tahun lalu, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujarnya.
Ia menyebut bahwa blokade akan segera dimulai dan melibatkan negara-negara lain, meski tidak merinci pihak-pihak tersebut.
Setelah perundingan, Vance menyatakan bahwa Washington telah memberikan "penawaran terakhir dan terbaik" kepada Teheran dan kini menunggu apakah Iran akan menerimanya.
Adapun Ghalibaf menanggapi bahwa ia telah mengajukan inisiatif konstruktif dalam perundingan, namun pihak AS tidak mampu membangun kepercayaan Iran.
Kegagalan perundingan ini meningkatkan kekhawatiran akan kembalinya konflik bersenjata, yang dapat mendorong kenaikan harga energi global serta mengganggu sektor pelayaran dan fasilitas minyak serta gas.
Selaku mediator, Pakistan mendesak kedua negara untuk terus menghormati gencatan senjata yang telah disepakati.
Advertisement
Blokade Dimulai 13 April
Komando Pusat AS, yang dikenal dengan nama United States Central Command (CENTCOM), mengumumkan pada hari Minggu bahwa mereka akan memulai blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang berangkat dari dan menuju pelabuhan Iran, efektif mulai 13 April.
"CENTCOM akan mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada 13 April pukul 10.00 waktu Timur AS, sesuai dengan proklamasi presiden," demikian pernyataan resmi yang disampaikan oleh CENTCOM melalui platform X. Dengan konversi waktu, blokade ini akan dimulai pada pukul 21.00 Wib hari ini.
Menurut pernyataan tersebut, CENTCOM menegaskan bahwa blokade ini akan diterapkan secara netral terhadap kapal-kapal dari semua negara yang beroperasi di pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Blokade ini mencakup seluruh pelabuhan di Iran yang terletak di Teluk Arab dan Teluk Oman.
"Pasukan CENTCOM tidak akan menghambat kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan non-Iran," tambah mereka.
Selain itu, CENTCOM juga menyampaikan bahwa mereka akan memberikan pemberitahuan kepada kapal-kapal komersial sebelum blokade dimulai, dan semua kapal di Teluk Oman serta Selat Hormuz diharapkan untuk memantau siaran maritim serta menghubungi Angkatan Laut AS jika diperlukan.