Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz masih terbuka.
Namun, menurutnya, banyak kapal memilih tidak melintas karena kekhawatiran terhadap konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran.
“Selat Hormuz tidak ditutup. Kapal-kapal ragu melintas karena perusahaan asuransi khawatir terhadap perang yang Anda mulai bukan Iran,” ujar Araghchi melalui platform media sosial X dikutip Middle East Monitor, Senin (23/3/2026).
Ia juga menegaskan bahwa ancaman tambahan tidak akan memengaruhi sikap Iran maupun perusahaan asuransi internasional.
“Tidak ada perusahaan asuransi dan tidak ada rakyat Iran yang akan terpengaruh oleh ancaman. Cobalah menghormati,” katanya.
“Kebebasan navigasi tidak bisa ada tanpa kebebasan perdagangan. Hormati keduanya, atau Anda tidak akan mendapatkan keduanya,” tambah dia.
Advertisement
Dalam pernyataan terpisah di platform yang sama, Kementerian Luar Negeri Iran kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz “tidak diblokir”.
Namun demikian, Iran memperingatkan bahwa kapal-kapal yang berasal dari pihak yang dianggap sebagai agresor tidak akan diperlakukan sebagai pelayaran normal.
“Kapal-kapal milik pihak agresor tidak dapat dianggap sebagai pelayaran biasa dan tidak bermusuhan, dan akan diperlakukan sesuai kerangka hukum yang berlaku dalam situasi konflik,” demikian pernyataan tersebut.
Advertisement
Sejak awal Maret, Iran secara efektif membatasi akses Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal.
Jalur ini merupakan salah satu rute energi terpenting dunia, dengan kapasitas sekitar 20 juta barel minyak per hari serta sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global.
Pembatasan tersebut menyebabkan lonjakan biaya pengiriman dan asuransi, serta mendorong kenaikan harga minyak dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.