Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal-kapal internasional.
Pengecualian bagi Amerika Serikat dan Negara-negara sekutunya. Kebijakan ini dilakukan lantaran meningkatkan eskalasi di kawasan tersebut.
Mengutip Middle East Monitor, Rabu (18/3/2026), dalam konferensi pers di Teheran, Araghchi mengatakan Iran saat ini menjalankan haknya untuk membela diri. Ini dilakukannya sebagai respons atas agresi militer dari Amerika Serikat dan Israel.
“Dari sudut pandang kami, selat itu tetap terbuka. Namun bagi musuh-musuh kami dan sekutu mereka, selat tersebut tertutup,” ujar Araghchi.
Ia menambahkan bahwa Iran akan terus bertahan dan melawan. Dia juga menepis anggapan bahwa pemerintah Iran telah meminta gencatan senjata. Menurutnya, Teheran tidak pernah mengirim pesan ataupun permintaan untuk menghentikan konflik.
“Kami tidak pernah mengirim pesan apa pun dan tidak pernah meminta gencatan senjata. Namun perang ini harus berakhir dengan cara yang membuat para musuh berpikir seribu kali sebelum kembali melakukan agresi,” katanya.
Advertisement
Ia menegaskan Iran siap melanjutkan perlawanan selama diperlukan dan tidak akan ragu untuk mempertahankan kedaulatan negaranya.
Dalam kesempatan itu, Araghchi juga mengungkapkan bahwa pada awal konflik Amerika Serikat sempat menuntut Iran untuk menyerah tanpa syarat. Namun, menurutnya, posisi tersebut kemudian berubah seiring perkembangan situasi.
Pernyataan Araghchi muncul di tengah meningkatnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ketegangan di kawasan semakin memanas, terutama karena Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia, menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik tersebut.