Israel Diduga Jadikan Rekaman Serangan Gaza sebagai Alat Promosi Senjata

Negara Barat mengecam operasi Israel di Gaza, namun tetap tergoda membeli sistem senjata dan teknologi militernya yang canggih dan terbukti di medan perang.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Israel Diduga Jadikan Rekaman Serangan Gaza sebagai Alat Promosi Senjata
Penghalangan akses dan birokrasi ini jelas menghambat proses pemulihan dan memperpanjang penderitaan warga sipil Gaza. Tampak dalam foto, pengungsi Palestina berjalan di antara reruntuhan ban (© 2025 Liputan6.com)

Perusahaan-perusahaan pertahanan asal Israel mempromosikan sistem senjata kepada banyak negara di Eropa dan Asia dengan menekankan kontribusi sistem tersebut dalam serangan Israel terhadap warga Palestina di Gaza.

Pekan Teknologi Pertahanan Israel diadakan pada tanggal 1 dan 2 Desember 2025, disponsori oleh kementerian pertahanan dan Universitas Tel Aviv.

Menurut The Wall Street Journal (WSJ), dalam acara tersebut ditampilkan sebuah video yang menunjukkan dua drone serang Israel meluncur ke arah sebuah bangunan di Gaza, diikuti oleh kepulan asap yang terlihat.

Perang antara Israel dan Gaza dimulai setelah serangan yang dilakukan oleh Hamas terhadap wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023. Israel mengklaim bahwa serangan tersebut mengakibatkan kematian sekitar 1.200 orang.

Sebagai respons, Israel meluncurkan operasi militer yang sangat intensif, yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 70.100 warga Palestina.

Operasi ini telah disebut sebagai genosida oleh banyak pakar hak asasi manusia, pemimpin dunia, sejarawan, dan juga oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Acara pertahanan ini menarik lebih dari 2.000 peserta, termasuk delegasi dari luar negeri.

Perwakilan dari negara-negara Asia seperti Uzbekistan, Singapura, dan India hadir dalam acara tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh WSJ, bersama dengan beberapa negara Eropa yang berusaha menunjukkan sikap netral terhadap Israel.

Kehadiran mereka di acara ini menunjukkan bahwa kecaman terhadap Israel tampaknya tidak begitu berpengaruh. Misalnya, pejabat Israel dilarang oleh pemerintah Inggris untuk hadir di pameran senjata utama di London.

Pemerintah Inggris menyatakan bahwa kehadiran mereka tidak diperbolehkan karena serangan Israel yang terus berlangsung di Gaza, meskipun puluhan perusahaan senjata Israel yang terkait dengan pemerintah tetap diizinkan untuk berpartisipasi.

Baru-baru ini, pejabat kedutaan Inggris mengunjungi Pekan Teknologi Pertahanan Israel untuk melihat sistem senjata dan teknologi militer yang dipasarkan, yang sebagian besar didasarkan pada peran teknologi tersebut dalam serangan di Gaza dan Lebanon.

Kedutaan Inggris di Israel mengonfirmasi kepada WSJ bahwa para pejabatnya memang menghadiri acara tersebut. Contoh lain adalah Norwegia, di mana pejabatnya juga menghadiri pameran senjata tersebut.

Pada bulan Agustus, pengelola dana kekayaan negara Norwegia, yang merupakan dana pemerintah terbesar di dunia, mengumumkan penarikan seluruh investasi dari perusahaan alat berat Amerika, Caterpillar Inc, serta dari lima bank Israel.

Keputusan ini diambil karena perusahaan-perusahaan tersebut dianggap terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia di Gaza.

Pihak pengelola dana kekayaan negara Norwegia, yang memiliki nilai USD 1,9 triliun, menjelaskan bahwa keputusan untuk menarik investasi diambil setelah rekomendasi dari dewan etik.

Dewan etik menilai bahwa semua perusahaan tersebut berkontribusi pada pelanggaran serius terhadap hak-hak individu dalam situasi perang dan konflik. Namun, menurut WSJ, pejabat Norwegia tetap menghadiri Pekan Teknologi Pertahanan Israel.

Dunia Mulai Memandang Negatif Israel

Israel Pakai Video Serangan Gaza untuk Promosi Penjualan Senjata
Penghalangan akses dan birokrasi ini jelas menghambat proses pemulihan dan memperpanjang penderitaan warga sipil Gaza. Tampak dalam foto, pengungsi Palestina berjalan di antara reruntuhan ban © 2025 Liputan6.com

Sejak dimulainya perang di Gaza, popularitas Israel mengalami penurunan yang signifikan. Menurut jajak pendapat yang dirilis oleh Pew pada bulan Juni, masyarakat di berbagai negara, mulai dari Italia hingga Jepang, kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel.

Perubahan ini juga terlihat di Amerika Serikat, terutama di kalangan generasi muda dari berbagai spektrum politik.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan Pew pada bulan April, terungkap bahwa di kalangan pemuda Partai Republik yang berusia di bawah 50 tahun, 50 persen menunjukkan ketidaksukaan terhadap Israel.

Sementara itu, dukungan dari pemilih Demokrat sudah rendah bahkan sebelum peristiwa yang terjadi pada 7 Oktober 2023.

Meskipun citra internasional Israel menurun, pemerintah di banyak negara tetap menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap teknologi dan perlengkapan militer yang ditawarkan oleh Israel.

Kementerian Pertahanan Israel melaporkan bahwa nilai ekspor senjata negara tersebut mencapai angka tertinggi, yaitu USD 14,7 miliar pada tahun 2024.

Lonjakan ini mencakup peningkatan besar dalam kesepakatan dengan negara-negara Arab. Sekitar 57 persen kontrak yang ditandatangani pada tahun 2024 merupakan "mega-deal" yang bernilai setidaknya USD 100 juta.

Kementerian tersebut menjelaskan dalam pernyataannya pada bulan Juni bahwa "pencapaian operasional" Israel dalam konflik di Gaza berperan penting dalam meningkatkan permintaan.

Penjualan senjata kepada negara-negara Arab yang telah menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel, yang dikenal sebagai Abraham Accords, meningkat dari tiga persen pada tahun 2023 menjadi 12 persen pada tahun berikutnya.

Namun, Eropa tetap menjadi pasar terbesar bagi Israel, menyerap 54 persen dari total ekspor. Pada minggu ini, Israel secara simbolis menyerahkan sistem pertahanan rudal jarak jauh Arrow 3 kepada Angkatan Udara Jerman dalam sebuah upacara di pangkalan udara di selatan Berlin.

Pembelian sistem pencegat rudal tersebut, yang bernilai USD 4,6 miliar, adalah kesepakatan ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah Israel, setelah perjanjian awal ditandatangani pada bulan September 2023.

Di Eropa Timur dan Tengah, banyak negara mulai memperkuat kembali persenjataan mereka akibat invasi Rusia ke Ukraina. Pada bulan Juli, Rumania mengumumkan rencana untuk membeli sistem pertahanan udara senilai USD 2 miliar dari Rafael, perusahaan pertahanan Israel.

Di kawasan yang lebih dekat, Yunani juga telah melakukan pembelian perlengkapan militer dari Israel senilai jutaan dolar.

Meskipun secara historis memiliki kedekatan dengan Palestina, hubungan antara Yunani dan Israel dalam beberapa tahun terakhir semakin menguat, yang dipicu oleh kekhawatiran bersama terhadap Turki.

Pada Kamis malam (4/12), sebagaimana dilaporkan oleh Reuters, parlemen Yunani menyetujui pembelian 36 sistem peluncur roket PULS dengan nilai USD 757,84 juta dari Israel.

Rekomendasi