Seorang dokter senior di Kompleks Medis Nasser mengatakan bahwa saat ini Gaza tengah menghadapi bencana kesehatan parah, terutama di kalangan anak-anak.
“Setiap 40 menit kami menerima satu jasad anak yang dibunuh, dan satu jasad perempuan setiap jamnya,” kata Dr. Ahmad Al-Farra, direktur departemen pediatrik di Rumah Sakit Nasser kepada Al Jazeera.
Dr. Al-Farra mengonfirmasi otoritas Israel terus memblokir pasokan medis yang bersifat penting, termasuk vaksin dan perawatan untuk anak-anak.
Dikutip dari Quds News Network, Senin (2/6), dokter tersebut mengatakan “penjajah ini mencegah masuknya vaksin rotavirus,” katanya, seraya menambahkan, “Ruang rawat anak kami penuh. Kami kewalahan dengan kasus diare parah dan gastroenteritis.”
Fasilitas kesehatan Gaza telah runtuh akibat bombardir Israel. Menurut Al-Farra, 75 persen kapasitas tempat tidur rumah sakit di Gaza telah hancur oleh serangan udara zionis.
“Tidak ada susu bebas laktosa, tidak ada susu terapi, tidak ada vaksin. Sejauh ini belum ada bantuan medis yang sampai ke kami,” imbuhnya.
Karena kurangnya vaksinasi, anak-anak di Gaza kini menderita penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Ribuan bayi berisiko terkena infeksi yang mematikan. Malnutrisi meningkat, dan air bersih sangat langka.
Genosida Israel di Gaza menghancurkan sistem kesehatan. Rumah sakit dibom, dan ambulans dihancurkan. Parahnya, tenaga medis dibunuh, ditangkap, atau diusir paksa oleh para pasukan zionis itu.
Lembaga seperti Doctor Without Borders, WHO, dan lembaga lainnya sudah berulang kali memperingatkan bahwa Israel secara sistematis menargetkan sistem layanan kesehatan Gaza.
Setidaknya 493 tenaga medis telah syahid sejak Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan. Rumah sakit besar di Gaza utara seperti Al-Shifa dan Kamal Adwan, diserbu atau dibom. Di selatan, Rumah Sakit Nasser kini tengah berjuang untuk beroperasi dengan sumber daya yang terbatas dan banyaknya staf yang terluka.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey