Penjajah Israel Membunuh Janin Saya', Kasus Keguguran Ibu Hamil di Gaza Melonjak 300 Persen Selama Perang Genosida

Israel memblokade masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, mengakibatkan kekurangan makanan, air bersih, dan akses kesehatan.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Penjajah Israel Membunuh Janin Saya', Kasus Keguguran Ibu Hamil di Gaza Melonjak 300 Persen Selama Perang Genosida
'Penjajah Israel Membunuh Janin Saya', Kasus Keguguran Ibu Hamil di Gaza Melonjak 300 Persen Selama Perang Genosida (Merdeka.com)

Kementerian Kesehatan Palestina menyampaikan, kasus keguguran ibu hamil di Gaza naik sampai 300 persen akibat blokade bantuan kemanusiaan yang dilakukan penjajah Israel, seperti dilaporkan Al-Akhbar.

Blokade masuknya bantuan kemanusiaan oleh Israel menyebabkan warga Gaza kekurangan makanan, air bersih, obat-obatan, dan akses perawatan kesehatan yang memadai dan hal ini menciptakan kondisi yang sangat berbahaya bagi ibu hamil. Blokade tersebut menyebabkan malnutrisi pada ibu hamil, dehidrasi, dan stres ekstrem akibat konflik berkepanjangan.

Banyak ibu hamil kesulitan mencapai fasilitas kesehatan yang masih berfungsi, karena kerusakan infrastruktur akibat serangan dan minimnya tenaga medis. Kondisi ini meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi, bahkan beberapa laporan menyebutkan peningkatan kasus kematian ibu hamil dan bayi yang meninggal di dalam kandungan.

Ketiadaan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai, ditambah dengan kekurangan obat-obatan penting seperti heparin untuk mengatasi gangguan pembekuan darah, semakin memperparah situasi dan meningkatkan risiko komplikasi yang berujung pada keguguran. Stres psikologis akibat konflik juga menjadi faktor signifikan yang berkontribusi pada peningkatan angka keguguran.

Angka keguguran melonjak setelah Tel Aviv memerintahkan penutupan perbatasan Kerem Shalom awal bulan ini, yang memutus aliran obat-obatan penting, termasuk suntikan heparin yang penting bagi wanita dengan gangguan pembekuan darah.

Dokter kandungan di Gaza, Dr. Suha al-Masri menyampaikan, tanpa obat-obatan atau perlengkapan sanitasi merupakan bencana bagi ibu hamil.

"Karena kekurangan obat-obatan akibat blokade, kami mendapati bahwa banyak dari mereka diam-diam kehilangan janin mereka atau menjalani sisa kehamilan mereka di bawah ancaman terus-menerus kehilangan bayi setiap saat," kata Masri kepada Al-Akhbar.

"Kita tidak hanya kehilangan ibu dan janin, kita kehilangan masa depan yang seharusnya lahir," tambahnya, dikutip dari The Cradle, Sabtu (29/3).

'Penjajah Israel Membunuh Janin Saya'

Kekurangan makanan bergizi menyebabkan malnutrisi, yang dapat berdampak buruk pada perkembangan janin dan meningkatkan risiko keguguran. Dehidrasi akibat terbatasnya akses air bersih juga merupakan faktor risiko yang signifikan.

Rumah sakit di Gaza yang telah mengalami kerusakan akibat serangan, kini juga menghadapi kekurangan pasokan medis dan tenaga kesehatan. Banyak ibu hamil terpaksa melahirkan di luar rumah sakit, meningkatkan risiko komplikasi dan kematian. Selain itu, stres psikologis akibat konflik berkepanjangan juga memberikan dampak negatif terhadap kesehatan ibu hamil. Kecemasan, ketakutan, dan trauma dapat memicu berbagai komplikasi kehamilan, termasuk keguguran. Kondisi ini semakin mempersulit upaya untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi.

"Saya merasa seperti ada bagian dari diri saya yang mati. Anak saya bukan hanya korban dari kondisi kesehatan saya; ia juga korban pengepungan. Penjajah (Israel) membunuh janin saya, bukan dengan rudal, tetapi dengan tidak memberikan saya obat," kata Nisreen Ayyad (29), seorang warga Kota Gaza yang baru-baru ini mengalami keguguran.

"Setiap kali saya mendengar tentang pengeboman yang akan terjadi, saya meletakkan tangan saya di perut dan berkata: Tunggu sebentar. Jangan takut; Ibu bersamamu. Namun, sayalah yang takut. Saya takut dia akan terbunuh sebelum saya melihatnya," kata seorang ibu hamil lainnya, Ruba Masoud (28) kepada Al-Akhbar.

Rekomendasi