Sekolah di China Paksa Wali Murid Setujui Aturan Hukuman Fisik Untuk Siswa

Keputusan sekolah ini menuai kontroversi dan kecaman.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Sekolah di China Paksa Wali Murid Setujui Aturan Hukuman Fisik Untuk Siswa
Sekolah di China Paksa Wali Murid Setujui Aturan Hukuman Fisik Untuk Siswa (Merdeka.com)

Sebuah sekolah swasta di Yangjiang, Provinsi Guangdong, China, menjadi pusat kontroversi setelah meminta orang tua siswa untuk menyetujui aturan yang mengizinkan hukuman fisik bagi murid-muridnya. Sekolah Longyuan Experimental School tersebut, yang memiliki 2.500 siswa dari kelas 1 hingga 9, memperbolehkan guru untuk memukul telapak tangan siswa hingga 10 kali dan membuat mereka berdiri selama maksimal dua jam.

Kebijakan ini, yang terungkap pertengahan Februari 2025, langsung memicu kecaman publik di China dan menimbulkan perdebatan sengit terkait disiplin siswa. Pihak sekolah berdalih kebijakan hukuman fisik ini bertujuan untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada siswa. Mereka berharap, dengan adanya hukuman tersebut, siswa akan lebih berhati-hati dan menghindari kesalahan di masa mendatang.

Namun, alasan ini dinilai tidak cukup untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan dekrit kementerian yang melarang hukuman fisik di sekolah-sekolah di China. Aturan mengenai hukuman berdiri pun dibatasi maksimal 45 menit, jauh lebih sedikit dari yang diterapkan oleh Longyuan Experimental School.

Kontroversi ini tidak hanya mengenai hukuman fisik. Sekolah juga memberlakukan aturan ketat mengenai penampilan siswa. Siswa laki-laki dilarang memiliki rambut panjang, sementara siswi perempuan dilarang menggunakan lipstik, cat kuku, atau perhiasan. Lebih lanjut, sekolah mewajibkan siswa untuk mengenakan pakaian dan sepatu dengan harga di bawah 100 yuan (Rp220.000) dan 80 yuan (Rp175.000) untuk menanamkan kebiasaan hemat. Aturan-aturan ini dianggap terlalu ketat dan tidak sesuai dengan perkembangan anak-anak di usia sekolah.

Kecaman Publik

Kebijakan kontroversial Longyuan Experimental School ini langsung menuai kecaman dari berbagai pihak. Banyak orang tua dan masyarakat umum mengecam tindakan sekolah yang dianggap melanggar hak-hak anak. Mereka menilai hukuman fisik tidak hanya tidak efektif, tetapi juga dapat berdampak buruk pada perkembangan psikologis anak.

"Memukul telapak tangan anak hingga 10 kali dan membuat mereka berdiri berjam-jam adalah tindakan yang tidak manusiawi," ujar seorang warga yang dikutip oleh media lokal, seperti dilaporkan sejumlah sumber.

Kecaman ini semakin meluas setelah berita tersebut tersebar di media sosial.Selain hukuman fisik, aturan ketat mengenai penampilan dan pengeluaran siswa juga menjadi sorotan. Banyak yang menilai aturan tersebut terlalu berlebihan dan tidak relevan dengan proses pembelajaran. Mereka khawatir aturan-aturan ini dapat menciptakan tekanan psikologis pada siswa dan mengganggu konsentrasi belajar mereka.

"Sekolah seharusnya fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, bukan pada hal-hal yang tidak penting seperti penampilan dan pengeluaran siswa," kata seorang pakar pendidikan.

Departemen pendidikan setempat telah turun tangan meninjau kebijakan sekolah tersebut. Mereka menyatakan akan mengambil tindakan tegas jika ditemukan pelanggaran peraturan yang berlaku. Kasus ini menjadi sorotan penting dalam perdebatan yang masih berlangsung mengenai disiplin siswa di China, meskipun hukuman fisik telah dilarang secara resmi.

Rekomendasi