Jauh sebelum gelaran FIFA World Cup 2022 dimulai, Qatar sebagai negara tuan rumah sering mendapat pemberitaan negatif oleh media barat (Eropa). Negara kecil nan kaya raya di Timur Tengah ini dianggap tidak pantas menggelar pesta sepak bola terbesar sejagat ini.
Banjirnya pemberitaan negatif itu membuat Qatari -sebutan untuk orang Qatar, melakukan "perlawanan" balik. Begitu Piala Dunia digelar, Qatari melakukan kampanye simpatik. Sasarannya, fans sepak bola internasional yang membanjiri negerinya.
Kampanye simpatik ini dilakukan di lokasi yang ramai dikunjungi para fans internasional, seperti Lusail Boulevard. Lokasi ini adalah distrik bisnis yang baru dikembangkan dengan Lusail Stadium, stadion terbesar di Qatar sekaligus tempat final Piala Dunia pada 18 Desember mendatang.
Lusail Boulevard luasnya mencapai 88.000 meter persegi dengan jalan besar sepanjang 1,4 kilometer. Panitia lokal menampilkan pentas seni di beberapa titik atau sudut jalan, seperti tarian dan musik tradisional khas Arab.
Lusail Boulevard semakin menarik karena dihiasi bendera raksasa negara-negara peserta FIFA World Cup 2022 yang menutupi beberapa ruas jalannya.
Sementara di kedua sisi jalan, puluhan restoran dan kedai makanan siap menyajikan wisata kuliner yang memanjakan perut para fans sepak bola yang tengah keroncongan.
Wartawan merdeka.com, M Syakur Usman, mengalami langsung kampanye simpatik tersebut saat jalan-jalan di Lusail Boulevard.
Selepas waktu salat magrib, para pengunjung semakin ramai memadati Lusail Boulevard pada Sabtu malam (3/12).
Sekelompok anak kecil dan remaja putri memakai abaya hitam membagikan kue dan minuman teh hangat kepada para pengunjung Lusail Boulevard.
Advertisement
Kue kering dikemas dengan plastik transparan. Sedangkan teh hangat dalam termos khas Timur Tengah ditawarkan berikut gelas karton kecilnya.
Seorang bocah mengenakan pakaian khas Qatar menghampiri merdeka.com, sambil memberikan kue yang diletakkan dalam keranjang putih. Sementara seorang remaja putri memberikan selembar kertas bertajuk "Discover Our Identity" dan "The Safest Country in the World".
Dalam kemasan kue dan selebaran itu juga menampilkan QR code bila ingin mengetahui informasi lebih lanjut.
"Silakan dipindai bila ingin tahu lebih jauh," kata remaja putri kepada merdeka.com sambil meminta tidak difoto bagian wajahnya.
Setiap ada fans sepak bola internasional mereka hampiri sambil menawarkan kue dan minuman. Aksi simpatik ini menarik perhatian para pengunjung yang meramaikan jalan besar yang khusus ditutup dari kendaraan bermotor selama Piala Dunia.
Sekelompok fans asal Amerika Serikat terlihat menyambut baik tawaran kue dan minuman hangat. Mereka bertanya soal pakaian yang dipakai sang bocah dan minuman yang ditawarkan. Fans asal AS yang tampaknya satu keluarga itu tampak senang atas keramahan tersebut.
Selain membagi-bagikan kue dan minuman, pemerintah Qatar juga memasang rambu di beberapa titik Lusail Boulevard dengan informasi serupa dengan kode QR untuk berbagai bahasa seperti bahasa Jepang, Inggris, Korea, Portugis, dan sebagainya.
Merdeka.com mencoba memindai kode QR code yang dibagikan. Isinya berupa alamat laman resmi Kementerian Urusan Islam dan Waqaf Qatar: binzaid.gov.qa/lang-ebook/book-fafa22.html.
Di laman resmi tersebut, ada materi tentang Islam yang dianut oleh Qatar dalam berbagai versi bahasa: Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman, Rusia, Portugis, Hindi, Tagalog, dan Inggris. Juga ada kalender Qatar dan mushaf Qatar.
Pemerintah Qatar tampaknya ingin fans internasional yang menonton FIFA World Cup 2022 memahami Islam, agama yang dianut Qatar dan kebijakan-kebijakan yang dilandasinya.