Sekjen PBB Antonio Guterres meminta para pemimpin dunia beraksi untuk “menyelamatkan kemanusiaan” saat mereka bertemu dalam KTT iklim COP26 bersejarah diserta peringatan kode merah dari para ilmuwan.
Lebih dari 120 kepala negara dan pemerintah berkumpul di Glasgow, Skotlandia, pada Senin untuk KTT dua hari pada pembukaan Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26), yang disebut penyelenggara sangat penting untuk menentukan jalan terhindar dari bencana pemanasan global.
“Saatnya mengatakan: cukup,” kata Guterres.
“Cukup untuk menghancurkan keanekaragaman hayati. Cukup untuk membunuh diri kita sendiri dengan karbon. Cukup untuk memperlakukan alam seperti toilet. Cukup membakar dan mengebor dan menambang lebih dalam. Kita sedang menggali kuburan kita sendiri,” tegasnya, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (3/11).
Dia juga mendesak pemimpin dunia untuk melakukan tindakan yang lebih banyak untuk melindungi masyarakat rentan, menambahkan hampir 4 miliar orang menderita bencana berkaitan dengan iklim dalam satu dekade terakhir.
“Kehancuran itu hanya akan bertambah,” lanjutnya.
Pemerintah ditekan untuk menaikkan lagi komitmen pemotongan emisi agar sejalan dengan tujuan Perjanjian Paris dan menggelontorkan dana untuk membantu negara-negara berkembang menghijaukan jaringan mereka dan melindungi diri mereka dari bencana di masa depan.
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson membuka KTT dengan memperingatkan para timpalannya bahwa mereka menghadapi vonis berat dari generasi masa depan kecuali mereka segera bertindak.
“Kemarahan dan ketidaksabaran dunia tidak akan bisa disamakan, kecuali kita menjadikan COP26 di Glasgow ini momen ketika kita sadar dengan perubahan iklim, dan kita bisa menyadarai soal batu bara, mobil, uang tunai, dan pohon-pohon,” jelasnya.
“Satu menit menuju tengah malam, dan kita perlu bertindak sekarang,” tegasnya.
KTT ini juga disertai unjuk rasa di mana para demonstran menuntut para pemimpin dunia untuk segera bertindak mengatasi ancaman bencana perubahan iklim.
PM Johnson juga mengingatkan para pemimpin dunia, jika mereka tidak bertindak, maka generasi muda maupun generasi yang belum lahir “tidak akan memaafkan kita”.
“Mereka akan tahu bahwa Glasgow adalah titik balik bersejarah ketika sejarah gagal diubah,” ujarnya.
“Mereka akan menghakimi kita dengan kepahitan dan dendam melebihi para aktivis iklim hari ini dan mereka benar,” pungkasnya.