Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi, berbicara dengan jenderal ternama AS pada Jumat, meminta agar mereka mencegah Presiden Donald Trump mengakses kode nuklir menjelang akhir masa jabatannya yang hanya tinggal 10 hari lagi.
Pernyataan Pelosi disampaikan hanya beberapa hari sebelum anggota parlemen Demokrat memulai sebuah panggilan konferensi mendiskusikan apakah mereka akan memakzulkan Trump untuk kedua kali, dua hari setelah pendukungnya menyerbu dan membuat ricuh di Gedung Parlemen AS atau Capitol.
“Situasi presiden yang labil sangat berbahaya,” kata Pelosi, dikutip dari South China Morning Post, Minggu (10/1).
Pelosi mengatakan dia telah membahas masalah ini dengan Kepala Staf Gabungan, Jenderal Angkatan Darat Mark Milley.
Presiden AS memiliki akses kode yang diperlukan untuk menembakkan senjata nuklir selama 24 jam dalam sehari. Namun hal ini belum menjadi perhatian para petinggi militer dan pejabat keamanan nasional.
Advertisement
Kantor Mark Milley menyampaikan, Pelosi yang menghubungi dan mengatakan Jenderal Milley “menjawab pertanyaannya terkait proses kewenangan komando nuklir.”
Seorang pejabat AS yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, penggunaan senjata nuklir merupakan proses yang sangat mengharuskan musyawarah.
Saat membuka konferensi tersebut, Pelosi menyebut Trump seorang “pemberontak” dan mengatakan anggota Demokrat di Kongres sedang mendiskusikan bagaimana langkah selanjutnya, menurut seorang sumber.
Setelah kerusuhan di Capitol, Trump berjanji dalam sebuah rekaman video akan memastikan proses transisi yang berjalan mulus kepada penerusnya, Presiden AS terpilih Joe Biden.
Trump juga mengonfirmasi tak akan menghadiri pelantikan Biden pada 20 Januari. Padahal kehadiran mantan presiden dinilai sebagai bagian penting dalam proses transisi kekuasaan yang berlangsung damai.