Biden Kecam Keras Pendukung Trump yang Duduki Gedung Parlemen AS

Presiden Donald Trump dan Presiden AS terpilih Joe Biden melontarkan pesan bertentangan terkait kerusuhan pendukung Trump di Gedung Parlemen AS pada Rabu.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Biden Kecam Keras Pendukung Trump yang Duduki Gedung Parlemen AS
Joe Biden. ©2020 REUTERS

Presiden Donald Trump dan Presiden AS terpilih Joe Biden melontarkan pesan bertentangan terkait kerusuhan pendukung Trump di Gedung Parlemen AS, US Capitol, kemarin.

Biden, yang berbicara pertama kali, langsung dari Wilmington, Delaware, sangat mengecam tindakan pendukung Trump, menyebutnya "serangan yang tak pernah terjadi sebelumnya yang tak pernah kita saksikan di era modern".

Sementara Trump, dalam sebuah rekaman video yang diunggah di Twitter, mengucapkan kalimat empat kepada para pendukungnya.

"Saya tahu kesedihan kalian, saya tahu kalian terluka," cetusnya seperti dilansir Aljazeera, Kamis (7/1).

"Pemilu kita telah dicurangi," lanjutnya.

Kemudian Trump meremehkan kericuhan yang terjadi dan dalam kicauannya di Twitter beberapa jam kemudian, dia hanya menyebut penyerbuan Capitol sebagai "hal dan peristiwa yang terjadi".

Trump juga dinilai merayakan kekerasan tersebut karena mengatakan, "Ingatlah hari ini selamanya!". Tweet itu kemudian dihapus dan salah satu dari tiga tweet yang membuat Twitter memblokir akun Trump selama 12 jam.

Biden menyebut para pengunjuk rasa itu "ekstremis" dan "gerombolan" dan mengatakan rusuh yang mereka ciptakan merupakan "serangan terhadap benteng kebebasan, Capitol sendiri. Serangan terhadap wakil rakyat dan kepolisian Capitol Hill bersumpah akan menjaga mereka. Serangan bagi supremasi hukum. Serangan terhadap usaha paling sakral Amerika: Melayani rakyat."

Biden menegaskan, apa yang terjadi di Gedung Parlemen tak mencerminkan rakyat Amerika yang sesungguhnya.

"Apa yang kita saksikan adalah sejumlah kecil ekstremis yang melakukan pelanggaran hukum," ujarnya.

"Ini bukan penolakan. Ini kelainan. Ini kekacauan. Ini penghasutan," tegasnya.

"Menyerbu Capitol, memecahkan jendela, menduduki kantor-kantor, lantai Senat Amerika Serikat, menggeledah meja-meja, mengancam keamanan pejabat terpilih. Ini bukan sebuah protes. Ini pemberontakan."

Biden menyerukan Trump, yang berada di Gedung Putih selama kerusuhan itu, menyampaikan pidato yang disiarkan televisi nasional dan meminta pendukungnya mengakhiri pengepungan.

Namun melalui video yang diunggah di Twitter, Trump justru merangkul pendukungnya.

"Kami mencintai kalian. Kalian sangat spesial. Pulanglah dan pulang dengan damai," cetusnya.

Sementara Biden mengatakan dia sangat terkejut dan sedih bahwa bangsa AS yang sejak lama menjadi contoh sebagai negara demokrasi melewati momen gelap.

Para pendukung Trump datang ke Washington, DC untuk berunjuk rasa saat Kongres menggelar sidang penghitungan hasil pemilu AS, yang merupakan langkah terakhir pemilihan presiden. Republik dan Trump selama ini menyerang kemenangan Biden, menyebutnya tidak sah dan menuding pilpres berlangsung curang.

Saat Trump berpidato kepada pendukungnya dari Gedung Putih, para pendukung ini menjadi ricuh, merusak pembatas dan garis polisi, dan kemudian menyerbu Gedung Parlemen saat sidang rekapitulasi suara sedang berlangsung.

Wakil Presiden Mike Pence berada di Gedung Parlemen atas perannya sebagai Presiden Senat dan dievakuasi bersama para pimpinan Kongres dan legislator.

Rekomendasi