Penduduk Himalaya Bantu Tentara India Hadapi Pasukan China

Takut wilayahnya akan jatuh ke tangan China, penduduk desa di Ladakh, dekat perbatasan yang diperselisihkan antara India dan China, mendaki pegunungan Himalaya untuk membantu tentara India.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Penduduk Himalaya Bantu Tentara India Hadapi Pasukan China
Wilayah Ladakh yang Menjadi Sengketa India dan China. ©2020 REUTERS/Danish Siddiqui

Di ketinggian hampir 15.000 kaki, penduduk desa Chushul menyeberangi wilayah negara bagian Ladakh, India.

Dengan memikul tas berat dan dipenuhi berbagai barang, karung beras, kaleng berisi bahan bakar dan tongkat bambu, mereka mendaki puncak pegunungan Himalaya yang dikenal dengan nama Puncak Hitam, di mana ratusan tenda tentara India berada.

Sebanyak 100 pria, perempuan, dan remaja laki-laki tak melakukan perjalanan berat ini selain demi kebaikan hati. Di bulan-bulan menjelang musim dingin, suhu di wilayah ini turun sampai -40 derajat Celcius. Para penduduk desa takut jika mereka tak membantu tentara India memperkuat posisi mereka di sepanjang punggung pegunungan yang berbatasan dengan China - dan membantu mempersiapkan tentara menghadapi musim dingin yang keras - desa mereka bisa segera berada di bawah kontrol China.

"Kami ingin membantu tentara India untuk mengamankan posisi mereka segera," kata salah seorang penduduk Chushul, Tsering (28), dikutip dari The Guardian, Senin (21/9).

"Kami membawa persediaan untuk mereka, untuk memastikan tentara tak menghadapi banyak kendala."

Chushul, sebuah dusun kecil dengan 150 rumah tangga, adalah salah satu pemukiman terdekat dengan perbatasan India yang diperselisihkan dengan China di Ladakh timur. Sejak Mei, tentara India dan China terlibat bentrokan terkait perbatasan Himalaya, yang dikenal dengan garis kontrol aktual (LAC).

Pada Juni, situasi meningkat menjadi kekerasan, di mana terjadi bentrokan di ketinggian di mana 20 tentara India dan jumlah yang diketahui dari tentara China, tewas dalam pertempuran tangan kosong antara kedua belah pihak, kehilangan nyawa terburuk di perbatasan selama lebih dari empat dekade.

Pada 29 Agustus, hanya beberapa mil dari Chushul, bentrokan kembali terjadi antara tentara India dan China. Tak ada korban pada bentrokan malam tersebut, tapi tentara mengeluarkan tembakar di perbatasan untuk pertama kalinya dalam 45 tahun.

Dalam sebuah pertemuan di Moskow pekan lalu, Menteri Pertahanan India dan China mengeluarkan pernyataan bersama menyetujui "penarikan sesegera mungkin" di sepanjang perbatasan mereka. Hal itu menyusul sedikitnya lima ronde negosiasi militer tingkat tinggi yang tak ada hasilnya, di mana kedua pihak tetap bersikeras satu sama lain melanggar kedaulatan perbatasan.

Namun, menurut sejumlah penduduk desa, ada sedikit bukti penarikan pasukan di lapangan. Selama pekan terakhir, tentara India terus bertambah di sepanjang perbatasan. Konvoi kendaraan militer India terus berlangsung membawa berbagai persediaan dan amunisi untuk tentara yang ditempatkan di sepanjang perbatasan, dan sekitar 100 penggali dibawa untuk pembangunan jalan dan bangunan, untuk mengamankan posisi India di perbatasan.

"Sangat jelas kedua belah pihak berencana tinggal di sana selama musim dingin; mereka kelihatan mengantisipasi bahwa tak akan ada hasil dari diplomasi," kata pakar keamanan di Observer Research Foundation, Manoj Joshi.

Pekan ini, penduduk Chushul terus membantu membawakan persediaan para tentara di Puncak Hitam. Tak ada akses jalan ke punggung gunung yang menjadi garda depan baru. Mereka menyampaikan kekhawatiran mereka dalam lima bulan ke depan ketika seluruh area itu hampir seluruhnya tertutup salju, es, dan longsor yang mematikan.

Rekomendasi