Atas Permintaan Pemimpin Oposisi, AS Akan Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Venezuela

Pemerintah Amerika Serikat melalui Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mengatakan negaranya akan akan mengirim bantuan kemanusiaan ke Venezuela yang kini tengah dilanda krisis.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Atas Permintaan Pemimpin Oposisi, AS Akan Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Venezuela
aksi protes maduro di venezuela. ©2019 AFP PHOTO/YURI CORTEZ

Pemerintah Amerika Serikat melalui Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mengatakan negaranya akan akan mengirim bantuan kemanusiaan ke Venezuela yang kini tengah dilanda krisis. Pengiriman itu, kata Bolton, menyusul permintaan dari Juan Guaido, pemimpin oposisi yang telah menyatakan dirinya sebagai presiden sementara negara itu bulan lalu.

"Menanggapi seruan Presiden Guaido, AS sedang mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Venezuela. Saya mengapresiasi kerja keras USAID, Kementerian Luar Negeri dan seluruh rekan mereka dalam mempersiapkan bantuan darurat ini yang akan dikirimkan pekan ini," cuit Bolton dalam akun Twitternya.

Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai presiden Venezuela bulan lalu dan langsung mendapat dukungan dari AS dan beberapa negara lainnya.

Dikutip dari BBC pada Senin (4/2), Presiden Venezuela Nicolás Maduro menuduh Guaido melakukan kudeta, dan menolak tawaran bantuan AS dengan menudingnya sebagai intervensi militer.

Sementara itu pada Sabtu 2 Februari, ribuan orang turun di jalan-jalan di ibu kota Caracas. Sebagian besar mendukung klaim kepemimpinan Guaido, dan sebagian kecil pro pada pemerintah.

Meski Maduro tetap mempertahankan dukungan militer, namun ada salah seorang jenderal angkatan udara Venezuela, Francisco Yanez, memberi dukungan tidak langsung kepada Guaido.

Senada dengan hal di atas, Guadio mengatakan bahwa dia telah mengadakan pertemuan rahasia dengan militer untuk mendapatkan dukungan dalam menggulingkan Maduro.

Kini, ia bersama kubu oposisi, tengah berusaha menjangkau China, untuk menarik dukungannya terhadap kepemimpinan Maduro.

Sadar akan posisinya yang belum bisa mengendalikan wilayah teritorial, Guaido berencana mendirikan pusat dukungan di negara-negara tetangga, di mana banyak warga Venezuela telah melarikan diri.

Dia mengatakan ingin membentuk koalisi internasional untuk mengumpulkan bantuan di tiga titik, dan menekan tentara Venezuela agar membiarkannya masuk ke negara itu.

Di lain pihak, Nicolas Maduro telah menolak membiarkan bantuan asing masuk ke Venezuela, dan mengatakan kepada para pendukungnya pada hari Sabtu "kami tidak pernah mau jadi negara pengemis."

Venezuela telah menderita gejolak ekonomi selama bertahun-tahun, dengan hiperinflasi dan kekurangan hal-hal penting seperti makanan dan obat-obatan. Jutaan orang telah melarikan diri ke negara-negara tetangga, di mana sebagian besar mengungsi ke Kolombia.

Pada Januari 2019, Maduro disumpah untuk masa jabatan kedua setelah pemilihan umum penuh kontroversi, di mana menurut banyak pengamat asing, mengabaikan suara oposisi.

Tidak lama berselang, Juan Guaido, yang merupakan ketua Majelis Nasional Venezuela, menyatakan dirinya sebagai presiden.

Guaido mengatakan konstitusi memungkinkan dia untuk mengambil alih kekuasaan sementara, ketika presiden dianggap tidak sah.

Pada hari Sabtu ia mengatakan protes akan berlanjut sampai para pendukungnya mencapai "kebebasan" dari cengkeraman Maduro.

Sementara itu, lebih dari 20 negara telah mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela.

Sebaliknya, hanya segelintir kecil negara yang mendukung kepemimpinan Nicolas Maduro, termasuk di antaranya China, Rusia, dan Turki.

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi