Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman berkunjung ke Amerika Serikat pada Senin (19/3) lalu. Dalam lawatannya itu, Pangeran Muhammad dijadwalkan bertemu dengan Presiden Donald Trump dan berkeliling ke sejumlah kota di AS.
Selain untuk membahas sejumlah hal dan kesepakatan dengan pemerintah AS, kunjungan Pangeran Muhammad juga dimaksudkan untuk memperkuat rencana reformasi kehidupan ekonomi dan sosial negaranya, salah satunya adalah dengan cara membuat investor AS bersedia menanam modal di Saudi.
Sebagaimana diketahui, Pangeran Muhammad memiliki suatu harapan agar dia bisa mendobrak segala pakem yang selama ini dianut oleh Saudi. Dia juga memiliki beberapa visi tentang ke arah mana dia akan membawa negaranya di masa depan.
Melalui wawancara dengan program berita CBS yang berlangsung selama 60 menit, Pangeran Muhammad mengungkap pandangannya terhadap berbagai hal serta ambisinya untuk membuat perubahan di Arab Saudi. Dilansir dari laman the New York Times, berikut ini rinciannya:
Tentang Islam
Pangeran Muhammad mengakui selama ini pemikiran rakyat Arab Saudi tentang Islam telah didominasi oleh aliran ultrakonservatif. Hal itu kemudian membuat rakyat mewaspadai orang non-muslim, mencabut hak-hak dasar perempuan, serta membatasi kehidupan sosial kaum hawa.
"Kita adalah korban. Terutama generasi saya yang menderita ini," katanya saat ditanya mengenai gelombang konservatisme yang menyebar di negaranya setelah tahun 1979 silam.
Berkat Pangeran Muhammad, kini para perempuan di Saudi sudah diizinkan untuk menikmati hiburan sehari-hari seperti menonton film bioskop, menonton konser musik, dan menikmati pertandingan di stadion. Dia juga berjanji akan mengizinkan perempuan Saudi mengemudi mulai Juni mendatang.
putra mahkota arab saudi mohammed bin salman ©2017 REUTERS/Faisal Al Nasser
Tentang Hak-Hak Perempuan
Saat ditanya apakah perempuan memiliki kedudukan setara dengan pria, Pangeran Muhammad dengan tegas menjawab iya.
"Tentu saja. Kita semua manusia dan tidak ada bedanya," tegasnya.
Meski demikian, perempuan Saudi saat ini masih terikat dengan Undang-Undang Perwalian, di mana kerabat laki-laki memberi kontrol yang besar atas aspek hidup seorang perempuan. Hal itu meliputi izin bepergian ke luar negeri atau saat harus menjalani prosedur medis tertentu.
Tentang Pemberantasan Korupsi
Pangeran Muhammad baru-baru ini memenjarakan 380 pangeran, pengusaha, mantan pejabat pemerintah di Hotel Ritz Carlton atas dugaan korupsi. Dia menilai tindakan tersebut sebagai bagian dari upaya pemberantasan korupsi di Saudi.
"Apa yang kami lakukan saat ini sangat diperlukan. Semua tindakan yang diambil sesuai dengan undang-undang yang telah diterbitkan," imbuhnya.
Meski demikian,
Advertisement
penangkapan tersebut menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. Terlebih, ada dugaan bahwa penangkapan tersebut hanya sebagai taktik pemerintah untuk memperoleh kekayaan para tersangka dan menambah aset negara.
Pemerintah diduga melakukan pemaksaan agar para tersangka mau menandatangani perjanjian penyerahan aset pribadi kepada negara. Banyak juga tahanan yang mengalami penganiayaan fisik karena menolak memberikan aset. Bahkan, ada satu tahanan tewas di penjara di mana dari jasadnya terlihat beberapa tanda penganiayaan.
Namun pemerintah menyangkal tuduhan tersebut.
Tentang Kekayaannya
Pangeran Muhammad menerima kritik karena diduga sering menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mewah. Terlebih hal itu dilakukan saat dia memberlakukan pajak baru dan pembayaran fiskal untuk warga sipil.
Dalam beberapa tahun terakhir, dia telah membeli kapal pesiar senilai setengah miliar dolar, sebuah rumah di Prancis seharga USD 300 juta, dan sebuah lukisan seharga USD 450 juta.
Melalui wawancara itu, Pangeran Muhammad mengatakan alasan dia sering mengeluarkan uang dengan jumlah fantastis untuk keperluannya.
"Saya membelinya dengan uang pribadi saya. Saya adalah orang kaya bukan orang miskin. Dan saya juga bukan Ghandi atau Mandela," paparnya.
Tentang Mewarisi Tahta Sang Ayah
Pangeran Muhammad diperkirakan akan naik takhta apabila sang ayah, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud meninggal dunia. Jika itu terjadi, mengingat usianya yang masih sangat belia, maka Pangeran Muhammad diperkirakan bisa memimpin Saudi hingga 50 tahun ke depan.
"Jika semuanya berjalan secara normal, maka itulah yang diharapkan terjadi," ujarnya.