Rayakan Valentine di empat negara ini sama dengan penjahat!

Merayakan Valentine dianggap tindakan kriminal.

Muhammad Radityo
Oleh Muhammad Radityo - Reporter
Rayakan Valentine di empat negara ini sama dengan penjahat!
Ilustrasi cokelat valentine. ©hipish.free.fr

Tanggal 14 Februari memang telah berlalu. Di tanggal yang sangat 'sakral' ini, para insan dunia seakan dibutakan dengan pengaruh cinta kasih.

Hari Valentine sangat identik dengan momen dimana para insan membagikan rasa sayang, tetapi tidak untuk beberapa negara berikut.

Seperti di Pakistan, di negara ini sang Presiden sampai langsung turun tangan demi mengimbau agar rakyatnya menjauh tradisi hari Valentine ini. Ada lagi di Iran, tidak tanggung, dalam seruannya yang dikeluarkan, mereka siap menghukum bagi siapa saja yang tertangkap merayakan hari kasih sayang ini.

Berikut merdeka.com telah merangkum dari bermacam sumber terkait empat negara paling kejam, setarakan perayaan Valentine dengan kriminalitas.

Siswa SMK Seksyen 9 di Negara Bagian Selangor, Malaysia, sempat terkejut ketika pulang sekolah kemarin di luar sekolah mereka ada pembagian selebaran berwarna merah jambu.

Selebaran itu berisi tulisan dengan judul Hukum Valentine's Day. Brosur berwarna merah muda itu dibagikan oleh Departemen Mufti Selangor sebagai bagian dari kampanye untuk melarang kaum muda muslim merayakan Hari Valentine, seperti dilansir situs asiaone.com, Kamis (13/2).

Kepala Asisten Mufti Mat Jais Kamos mengatakan kampanye itu bertujuan memberitahu kaum muda muslim soal aturan tahun 2006. Pada aturan itu pemerintah negara bagian memfatwakan larangan bagi kaum muda muslim merayakan Hari Kasih Sayang.

"Kami tidak ingin muda-mudi terjebak dalam perayaan Hari Valentine dengan lebih mengutamakan hubungan dua insan ketimbang mencintai anggota keluarga atau kasih sayang antara pasangan suami-istri," kata dia.

Banyak siswa menertawakan isi tulisan di selebaran yang mereka baca. Mereka mengatakan sudah tahu ada larangan itu.

"Saya kira kami semua sudah diberitahu di kelas tentang haramnya merayakan Hari Valentine," kata Mohd Ibrahim Faiq Hussein, 17 tahun, mengaku tidak pernah merayakan Hari Kasih Sayang.

Suhaidi Subeli, 16 tahun, mengatakan kampanye itu akan lebih efektif jika digelar ceramah membahas Hari Valentine.

"Selebaran itu cukup informatif tapi saya kira siswa akan memahami lebih jauh jika diadakan ceramah di kelas oleh guru," kata dia.

Presiden Pakistan Mamnun Hussain mengimbau penduduknya untuk tidak merayakan hari kasih sayang. Alasannya, karena perayaan tersebut identik dengan kebudayaan Barat.

Hal ini rupanya menjadi kekhawatiran Hussain lantaran dengan merayakan Valentine, dapat mengurangi nilai keislaman di Pakistan.

"Hari Valentine tidak ada hubungannya dengan kebudayaan kita, hal ini harus dihindari," ucap sang presiden, seperti dilansir dari Reuters, Minggu (14/2).

Meski demikian, imbauan sang presiden tidak digubris. Rakyat Pakistan tetap saja merayakan hari kasih sayang ini.

Kenaikan keuntungan dari penjual bunga menjadi salah satu bukti Valentine tetap dilaksanakan di sana.

Pemerintah sendiri rupanya hanya mengimbau dan tidak memberikan sanksi apapun kepada rakyat yang tetap merayakannya. Padahal, pelarangan perayaan hari kasih sayang ini berlaku untuk seluruh kota di negara berbatasan dengan Afghanistan tersebut.

Pemerintah Iran mengatakan telah meniadakan perayaan hari Valentine di negaranya juga melarang setiap toko yang berani menjual produk bernada serupa. Tidak tanggung, bagi siapa saja kedapatan merayakan dan menjual hal berbau 'hari kasih sayang' ini akan ditindak sebagai aksi kejahatan.

Sejumlah selebaran larangan telah ditempelkan di toko-toko pada Jumat kemarin. Sebuah seruan bertuliskan 'turunkan buday Barat lewat ritual Valentine' terpampang dalam aksi pemerintah ini, seperti dikutip dari laman New York Post, Jumat (13/2).

Tidak hanya itu, polisi dikerahkan untuk berjaga dan mengimbau di tiap tempat seperti kedai kopi agar para muda-mudi tidak melakukan acara tukar kado yang identik dengan perayan hari tersebut.

Warga Uzbekistan telah dipaksa untuk mengganti perayaan Hari Valentine dengan peringatan kelahiran Kaisar Moghul Babur, yang jatuh pada hari yang sama.

Bangsa di kawasan Asia Tengah itu menggambarkan Hari Valentine sebagai hasil dari 'kekuatan dengan tujuan jahat yang bertekad mengakhiri nilai-nilai kebangsaan', seperti dikutip surat kabar the Daily News, 27 Januari 2012.

Pihak berwenang Uzbekistan, dalam upayanya untuk mempromosikan pembelajaran dan penghargaan kepada pahlawan nasional Babur, telah membatalkan beberapa acara yang sudah dijadwalkan bakal diadakan untuk merayakan Hari Valentine, termasuk konser musik Barat sangat populer dari penyanyi Rayhan.

Seorang pejabat dari Kementerian Pendidikan untuk Pencerahan dan Promosi Nilai-Nilai mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya telah mengeluarkan keputusan internal agar tidak merayakan Hari Valentine yang asing bagi budaya Afghanistan dan sebaliknya mempromosikan hari lahir Babur.

Pemerintah telah menyelenggarakan beberapa sesi pembacaan puisi untuk memperingati ulang tahun Babur buat menggantikan perayaan Hari Valentine.

Namun, reaksi beragam muncul dari warga atas keputusan pembatalan perayaan Hari valentine.

"Itu adalah hari ulang tahun nenek moyang kami yang besar, Mohammed Zahiriddin Babur," ujar Abdullaw, seorang warga dari Ibu Kota Tashkent. "Mengapa kita harus merayakan ini dengan peringatan buatan dan belaka? Ini tidak sesuai dengan mentalitas dan sejarah kita."

Namun, banyak orang mengatakan mereka tidak menemukan ada yang salah dengan pertunjukan Rayhan.

Rekomendasi