Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat semakin mantab menyebut penembakan massal di Kota San Bernardino, California, sebagai terorisme. Ini didapat dari penelusuran pribadi dua pelaku utama, Syed Rizwan Farook dan istrinya Tashfeen Malik.
Direktur FBI, James Comey, menyatakan dua pelaku tidak terkait dengan jaringan teror asing. Namun besar kemungkinan salah satu dari mereka teradikalisasi, lalu terinspirasi aksi teror Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).
"Karena itu kami sekarang menyelidiki kasus penembakan ini sebagai aksi terorisme," ujarnya seperti dilansir the Guardian, Sabtu (5/12).
Kesimpulan penyelidik didasarkan pada aktivitas jejaring sosial pasangan imigran itu. Faroook disebut pernah menghubungi seorang anggota Front Jabhat al-Nusra, yang terkait Al Qaidah. Sementara Malik pernah mengunggah postingan berbaiat pada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi, menggunakan akun palsu.
Selain membunuh 14 pengunjung pusat difabel, Farook dan istrinya yang bersenjatakan AK-47, melukai 17 lainnya. Mereka berdua sempat kabur menggunakan mobil van, sebelum akhirnya terkejar oleh tim antiteror polisi.
Syed Rizwan Farook ©2015 Merdeka.com
Setelah dua pelaku utama tewas tertembak, polisi menemukan 12 bom pipa, 2.000 amunisi pistol kaliber 9 mm, 2.500 amunisi senapan larang panjang .223 di kediaman Farook, Distrik Redland, California. Itu belum termasuk ratusan perkakas yang dipersiapakan untuk pembuatan bahan peledak di garasi.
Serangan itu terlalu terencana, seandainya keduanya menembak karena alasan personal. "Intinya kami masih butuh banyak bukti untuk mengembangkan kasus ini lebih lanjut," kata Comey.
Lepas dari apa motif Farook dan istrinya membantai banyak orang, Presiden Barack Obama mengajak publik mendukungnya mengatur peredaran senjata api. Itulah pangkal masalah utama yang harus diatasi, untuk meminimalisir kekerasan bersenjata di Negeri Paman Sam.
"Seandainya ini memang tindak terorisme, bayangkan kondisinya seperti ini. Kita membikin daftar seseorang terindikasi radikal agar tidak bisa naik pesawat. Tapi orang yang masuk daftar itu masih dengan mudah membeli senjata di AS. Tidak ada yang bisa kita lakukan," kata Obama.