Jaksa Libanon resmi dakwa Pangeran Saudi selundupkan 2 ton narkoba

Aksi Pangeran Abdul Muhsin itu terhitung penyelundupan terbesar dalam sejarah Libanon. Hukuman maksimal menantinya

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Jaksa Libanon resmi dakwa Pangeran Saudi selundupkan 2 ton narkoba
Pangeran Abdul Mohsen Bin Walid Bin Abdulaziz ditangkap karena kasus narkoba di Libanon. ©2015 Merdeka.com

Kejaksaan Libanon resmi menetapkan Pangeran Abdul al-Muhsin Bin Walid Bin Abdulaziz Al Saud, bersama empat warga negara Arab Saudi lainnya, sebagai tersangka pelaku penyelundupan narkoba kelas berat. Dalam aksi dilakukan pekan lalu itu, para tersangka berupaya meloloskan 2 ton narkoba jenis Captagon dan Kokain melewati pabean.

Pihak-pihak yang membantu aksi sang pangeran Saudi membawa narkoba memakai jet pribadinya ikut diseret ke meja hijau. Mereka ini terdiri dari tiga warga Libanon dan dua warga Arab Saudi, tapi diduga hanya memfasilitasi penyelundupan.

"Total ada 10 orang, termasuk lima yang telah ditahan sampai sekarang yakni Pangeran Saudi dan lima warga Saudi lainnya didakwa atas pasal pidana narkoba. Bukti awal menunjukkan para tersangka hendak menyelundupkan dan menjual captagon," kata juru bicara Kejaksaan seperti dilansir Stasiun Televisi Aljazeera, Selasa (3/11).

Pangeran Abdul al-Muhsin dicokok aparat bea cukai Bandar Udara Internasional Rafik Hariri, Ibu Kota Beirut, Libanon, pada 26 Oktober lalu. Dia dan komplotannya mengemas barang haram itu dalam 40 koper memanfaatkan jalur hijau pengguna pesawat pribadi.

Belum diketahui berapa ancaman hukuman maksimal yang bisa diterima Pangeran Abdul al-Muhsin. Bea Cukai Libanon mengatakan dari sisi kuantitas, penyelundupan ini terbesar sepanjang sejarah Bandara Rafik Hariri.

Kemenakan penguasa Negeri Petro Dollar itu sampai sekarang masih ditahan di Beirut. Diduga kuat, Pangeran Muhsin memperoleh barang haram itu dari beberapa kota Libanon dan perbatasan Suriah. Narkoba tersebut akan dipasok ke kota-kota besar Timur Tengah. Tidak dijelaskan bagaimana petugas pabean bisa mengendus barang haram itu dalam kargo pesawat sang pangeran.

Badan Narkoba dan Kejahatan PBB mencatat pasokan narkotika dari kawasan konflik Timur Tengah meningkat saban tahun. Pada 2014 saja, peredaran 55 persen amphetamine dunia berasal dari Saudi, Suriah, dan Yordania.

Rekomendasi