Empat pesawat ini celaka akibat aksi bunuh diri pilot

Data CVR Germanwings menunjukkan kopilot sengaja tabrak gunung. Pesawat komersial lain pernah alami nasib serupa

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Empat pesawat ini celaka akibat aksi bunuh diri pilot
Pencarian puing dan jenazah korban pesawat Germanwings di Pegunungan Alpen. ©AFP PHOTO/ANNE-CHRISTINE POUJOULAT

Betapa mengerikan hasil analisis awal rekaman suara kokpit (CVR) dari bangkai pesawat Germanwings yang hancur menabrak Pegunungan Alpen tiga hari lalu. Jaksa Penuntut Kota Marseille, Prancis, Brice Robin, dalam konferensi pers kemarin menyatakan ada indikasi pesawat sengaja ditabrakkan oleh sang kopilot, Andreas Lubitz.Brice menjelaskan, pilot Germanwings, Patrick S, sempat keluar dari kokpit sebelum insiden itu terjadi. Saat hendak masuk lagi, pintu ruang kemudi tak bisa diakses. Pilot diduga sudah merasa ada yang aneh sehingga memanggil nama kopilotnya dengan keras, bahkan cenderung berusaha menggebrak pintu dalam 10 menit akhir rekaman tersebut. Penguncian pintu kokpit hanya bisa dilakukan dari dalam.Di saat bersamaan, Lubitz mengubah kendali pesawat menjadi manual. Germanwings nahas itu lantas menukik tajam dari ketinggian 15 ribu meter ke level 200 meter hanya dalam 8 menit. Aktivasi sistem itu dipastikan Robin, hanya bisa dilakukan orang yang ada di kokpit."Tujuannya sudah jelas untuk menghancurkan pesawat," ungkap Brice seperti dilansir BBC (26/3). Indikasi kesengajaan kopilot untuk menabrakkan pesawat maskapai asla Jerman itu bukan hanya datang dari Robin. Jurnalis the New York Times sejak kotak hitam ditemukan pada Rabu (24/3), sudah menulis bahwa muncul informasi kecelakaan nahas pesawat Airbus A320 itu upaya bunuh diri.

Insiden ini menyebabkan 144 penumpang dan enam kru tewas, termasuk dua bayi. Korban jiwa berasal dari Jerman, Spanyol, Inggris, Kolombia, Australia, hingga Kazakhstan. "Saya belum memakai kata bunuh diri. Tapi indikasi itu tentu perlu diselidiki," kata Brice.Pernyataan Jaksa Prancis itu bikin pemerintah Jerman kalang kabut. Latar belakang Lubitz segera diperiksa. Pilot 28 tahun yang baru punya pengalaman 600 jam terbang itu bergabung dengan Germanwings pada 2013.Lelaki kelahiran Montabaur, Jerman, itu dikenal kawan-kawannya sejak lama ingin jadi pilot."Menurut informasi yang kami miliki, dia tidak memiliki latar belakang terorisme," kata Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Maiziere.Analisis rekaman CVR dan data kotak hitam, menurut otoritas Prancis masih prematur untuk disimpulkan. Hasil penyelidikan final rampung paling cepat delapan bulan lagi. Tapi semua pihak berwenang sepakat ada kesengajaan pada petaka pesawat rute Barcelona-Dusseldorf tersebut.Berdasarkan sumber dari vox.com (27/3), ternyata kecelakaan mirip Germanwings yang dipicu oleh kesengajaan pilot maupun kopilot sudah beberapa kali terjadi. Ada empat insiden maskapai penerbangan sipil lainnya, berdasarkan analisis kotak hitam, dipastikan akibat manuver sengaja seseorang di dalam kokpit. Korban jiwa mencapai ratusan di setiap insiden tersebut."Faktor yang memicu tindakan bunuh diri pilot di antaranya hubungan personal, depresi, dan kesulitan keuangan," tulis vox mengutip laporan Badan Keamanan Transportasi Amerika Serikat (NTSB) pada 2013.Di mana saja aksi bunuh diri pilot pesawat komersial, yang turut mengorbankan keselamatan penumpang? Berikut rangkumannya:

Ini adalah kecelakaan pesawat terakhir yang oleh pelbagai lembaga penerbangan, dipastikan akibat kesengajaan pilot. Pesawat Mozambique Airlines (LAM) nomor TM470 jatuh di Namimbia pada November 2013.Akibat insiden ini, 33 penumpang turut tewas, termasuk sang pilot. Pada investigasi awal, tim dari pemerintah Mozambik menduga ada kerusakan teknis, karena cuaca sangat cerah.Setelah hasil kotak hitam diumumkan, Mozambik mengakui sang pilot bunuh diri. Kejadiannya mirip rekaman CVR Germanwings. Tapi bedanya yang keluar ke toilet adalah sang kopilot.Ketika hendak masuk kokpit, kopilot itu mendapati ruang kemudi pesawat sudah terkunci. Di saat rekaman itu menunjukkan kepanikan sang kopilot, data kotak hitam menunjukkan pesawat menukik tajam ke daratan dalam kecepatan penuh. Sebelum menghantam daratan, pilot tak pernah menghubungi menara pengawas untuk minta bantuan.

Ini adalah kecelakaan lain yang dipastikan akibat tindakan sengaja sang kopilot. Pesawat EgyptAir nomor 990 yang menuju Kairo, jatuh di Samudera Atlantik, 60 mil dekat Pulau Nantucket, Amerika Serikat. Insiden ini menewaskan 217 orang.Vox mencatat, pola yang sama juga terjadi. Ketika pilot sedang undur diri ke kamar mandi, tiba-tiba kokpit terkunci. Kendali pesawat diubah ke manual oleh kopilot Gamil El Batouty. Dalam waktu bersamaan, pesawat menukik 4.500 meter hanya dalam 36 detik.Rekaman CVR menunjukkan pilot berteriak melalui interkom untuk menghubungi Batouty. "Apa yang terjadi? Apa kamu mematikan mesin?" tanya pilot, tapi tidak ada jawaban, sampai akhirnya pesawat jatuh ke laut.Hasil analisis NTSB dikritik oleh pemerintah Mesir. Lembaga keselamatan Transportasi Mesir (ECAA) berkukuh kecelakaan itu akibat matinya salah satu mesin Boeing 767. Namun, pakar penerbangan yang netral mengatakan seandainya salah satu mesin mati, pesawat itu bisa tetap terbang. Alhasil, di banyak laporan, kecelakaan EgyptAir pada 1999 dikategorikan sebagai kesengajaan kopilot.

Kecelakaan yang sempat menghebohkan publik Indonesia pada 1997 ini juga dikategorikan aksi bunuh diri pilot. Silk Air nomor 185 rute Jakarta-Singapura, mendadak menukik tajam, nyaris 90 derajat mengarah ke tanah, hingga akhirnya menabrak Sungai Musi, dekat Palembang.Total 104 penumpang tewas, termasuk pilot  Tsu Way Ming. Boeing 737 yang nahas itu dalam pemeriksaan terakhir ada pada kondisi prima. NTSB menemukan indikasi kesengajaan pilot dari data kota hitam. Gerakan vertikal, yang menyebabkan pesawat hancur sejak di udara, mustahil terjadi akibat kerusakan teknis. Manuver semacam itu, dari data, memang dilakukan oleh pilot. Dugaan bunuh diri makin menguat, karena CVR yang merekam suara di kokpit dimatikan secara sengaja oleh Way Ming.Kepolisian Singapura segera melacak latar belakang Way Ming. Enam bulan sebelum insiden nahas itu, sang pilot terjebak kesulitan keuangan karena salah membeli saham. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dari Departemen Perhubungan Indonesia saat itu membantah indikasi bunuh diri. Tapi pihak Indonesia juga tidak dapat menjelaskan kenapa Silk Air itu bisa berakhir celaka.

Kecelakaan di Maroko ini oleh pelbagai lembaga penerbangan dikenal sebagai salah satu upaya bunuh diri pilot yang paling gamblang. Pesawat Royal Air Maroc ATR-42 membawa 44 penumpang ini terbang normal setelah lepas landas dari Kota Agadir.Namun, beberapa saat di udara, pilot mematikan modus autopilot. Data menara pengawas melihat pesawat sengaja dijalankan serampangan, kemudian menabrak Pegunungan Atlas.Seluruh penumpang tewas akibat kecelakaan tersebut. Asosiasi Pilot Maroko berkukuh bahwa rekan mereka tidak bunuh diri. Namun semua data teknis menunjukkan pesawat diarahkan dengan sengaja ke pegunungan, apalagi wilayah Atlas tidak masuk dalam rute yang dituju oleh Royal Air Maroc itu.

Rekomendasi