Netanyahu menang lagi, Palestina merana hingga 2019

Lewat akun Twitternya, Netanyahu mengklaim berhasil memenangkan pemilu.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Netanyahu menang lagi, Palestina merana hingga 2019
Benjamin Netanyahu. ©REUTERS

Hasil dari hitung cepat pemilu Israel maupun exit poll Channel 2 TV menunjukkan partai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu itu kembali mendapat mandat rakyat untuk memerintah.Surat kabar the New York Times, Rabu (18/3) menunjukkan Likud memperoleh 27-28 kursi parlemen dari total 120 yang diperebutkan. Lewat akun Twitternya, Netanyahu mengklaim berhasil memenangkan pemilu. Hasil hitung cepat berbeda dari jajak pendapat pekan lalu yang mengatakan oposisi akan singkirkan Likud. "Ini kemenangan besar bagi Likud dan rakyat Israel," tulisnya.Ketika terpilih buat pertama kali menjadi perdana menteri pada 1996, Netanyahu mengatakan dia akan terus membangun pemukiman warga Israel di tanah Palestina."Kami akan tinggal di sini seterusnya," kata dia saat itu.Ketika dia berusia 28 tahun saat bekerja di Boston, Netanyahu sudah menolak gagasan pendirian negara Palestina di Tepi Barat.Dalam wawancara dengan situs berita NRG sebelum pemilu dua hari lalu, Benjamin Netanyahu menyatakan dia tidak akan membiarkan negara Palestina berdiri jika kembali terpilih, seperti dilansir surat kabar the New York Times, Selasa (17/3)."Siapa pun yang ingin mendirikan negara Palestina, siapa pun yang akan memindahkan wilayah saat ini, sama dengan memberi kesempatan bagi radikal Islam buat menyerang Israel," kata dia.Hasil hitung cepat pemilu yang memperlihatkan Netanyahu akan kembali memimpin itu tentu membuat kecewa banyak kalangan, terutama orang Arab dan Palestina. Mereka berharap pesaing Netanyahu, Isaac Herzog akan mengalahkan Netanyahu dalam pemilu kali ini.Sabri Saidam, penasihat Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas, mengatakan rakyat Palestina saat ini harus merespon pernyataan Netanyahu

yang menolak pendirian negara Palestina itu melalui tekanan di Mahmakah Internasional (ICC).Akhir tahun lalu Palestina setuju bergabung dalam ICC supaya bisa mengajukan tuntutan kejahatan perang kepada Israel."Pernyataan Netanyahu soal masa depan Palestina itu akan membuat kita terus berjuang di ICC dan pada kesempatan lain," kata Saidam, seperti dilansir the Wall Street Journal, Rabu (18/3).Senada dengan Saidam, juru runding Palestina Saeb Erekat menyalahkan komunitas internasional atas hasil pemilu Israel."Hasil semacam itu tidak akan bisa membuat komunitas internasional menekan Israel atas pelanggaran hukum internasional," kata pernyataan Erekat. Menurut dia pemilu Israel kali ini menunjukkan suksesnya kampanye berdasarkan rasisme, apartheid, dan pelanggaran hak asasi rakyat Palestina.Saat Netanyahu terpilih kembali menjadi perdana menteri pada 2009 pria akrab dipanggil Bibi itu sempat menghentikan sementara pembangunan permukiman warga Israel di Tepi Barat.Selama dua tahun awal kepemimpinannya dia tidak menerima tender pembangunan permukiman di Tepi Barat. Tapi setelah itu dia berubah. Selama enam tahun kepemimpinannya jumlah tender pembangunan permukiman Israel di Yerusalem sudah meningkat dua kali lipat.Jika dia mampu bertahan hingga Juli 2019 maka Netanyahu akan menjadi perdana menteri terlama Israel dan terus mencaplok tanah Palestina buat membangun permukiman bagi warga Negeri Bintang Daud itu.

Rekomendasi