Perawat-perawat sadis ini doyan bunuh pasien

Perawat-perawat sadis ini doyan bunuh pasien

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Perawat-perawat sadis ini doyan bunuh pasien
Ilustrasi suntikan. ©Shutterstock.com/sheff

Tidak ada orang yang ingin sakit. Tapi manusia bukan robot. Ketika sakit dan harus diobati, orang tentu ingin mendapat perawatan terbaik, misalnya di rumah sakit dengan dokter dan perawat yang berpengalaman.

Namun terkadang tidak semua orang bernasib baik ketika tengah dirawat di rumah sakit. Bisa jadi justru penyakit bertambah parah hingga menimbulkan kematian. Dokter dan perawat juga manusia. Mereka bisa membuat kesalahan hingga berakibat fatal. Misalnya yang terjadi dengan beberapa perawat berikut ini.

Apa saja perbuatan mereka? Bagaimana kisahnya? Ikuti ulasan tentang perawat-perawat sadis ini seperti yang berhasil dihimpun merdeka.com

Dua perawat di Uruguay dituduh membunuh 16 pasien

Paling tidak sudah ada 16 kasus kematian yang dikaitkan dengan dua orang perawat pria ini walaupun jumlah ini bisa saja bertambah atau berkurang selama penyelidikan nanti. Yang jelas dua orang yang bekerja di dua rumah sakit yang sama ini diduga telah menghabisi nyawa pasien tanpa sebab yang jelas. Di saat yang sama, seorang perawat wanita juga dikenai tuduhan telah menutupi kasus kejahatan yang selama ini terjadi di sana.Menurut hakim yang menangani kasus ini, tidak ada indikasi kalau dua orang perawat pria ini bekerja sama dalam menjalankan aksinya. Salah satu dari dua terdakwa ini mengaku terlibat dalam 5 kasus kematian sementara terdakwa yang lain menyebut angka 11. Dalam melakukan aksinya, dua orang ini menggunakan suntikan morfin dalam jumlah besar atau dengan cara lain yang bisa menyebabkan kematian dalam hitungan menit.Sejauh ini belum ada informasi lain yang dilepas terkait tiga orang terdakwa ini mengingat mereka bertiga memang tidak punya catatan kejahatan sebelumnya. Ines Massioti, pengacara salah satu dari terdakwa, mengatakan kliennya membunuh karena sudah tak tahan lagi melihat penderitaan yang ada di sekitarnya."Setelah 20 tahun bekerja di UGD, dengan beban mental dan selalu 'berhubungan dengan kematian', dia sudah tidak sanggup menahannya lagi, ujar Ines Massioti seperti dikutip dari kantor berita Associated Press (19/03/2012).Beberapa waktu sebelumnya, inspektur polisi Jose Luis Roldan sempat mengatakan pihaknya tengah menyelidiki kasus dugaan beberapa petugas rumah sakit telah memberi racun pada pasien dalam kondisi kritis di dua rumah sakit di Uruguay. Penyelidikan dipusatkan di rumah sakit Sociedad Espanola dan Maciel Hospital.

Kerap bikin jengkel, perawat Italia suntik mati 38 pasien

Polisi Italia kini tengah menyelidiki kasus apakah seorang perawat perempuan di sebuah rumah sakit membunuh 38 pasien setelah dia dituduh menyuntik seorang pasien dengan potassium dosis mematikan.Polisi menangkap perawat bernama Daniela Poggiali itu di Lugo, sebelah utara Italia, setelah seorang pasien berusia 78 tahun meninggal karena penyakit biasa.Kemarin polisi akhirnya memperluas penyelidikan mereka ke arah meninggalnya 38 pasien. Sepuluh di antara pasien itu meninggal mencurigakan, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Senin (13/10/2014).Kantor berita Central European melaporkan, perawat berusia 42 tahun itu dituding menyuntik pasien-pasien dengan potassium dosis tinggi sebab mereka atau keluarga mereka kerap membuatnya jengkel.Koran Italia Libero Quotidiano menyatakan, seorang staf rumah sakit mengatakan Poggiali pernah meminta dia dipotret di samping pasien baru meninggal.Laporan lain menyebutkan dia pernah bercanda telah menyuntikkan potassium dosis tinggi kepada pasien-pasiennya.April lalu pasien bernama Rosa Calderoni, 78 tahun, meninggal mencurigakan. Hasil pemeriksaan menyatakan ada kadar potassium tinggi dalam aliran darahnya. Dosis itu sama dengan yang biasa dipakai sebagai hukuman mati di Amerika Serikat.
Namun jaksa mengakui ada kesulitan buat menjalankan penyelidikan ini karena potassium bisa menghilang dari aliran darah setelah beberapa hari, sehingga sulit dideteksi."Masih ada 38 kasus kematian mencurigakan. Sepuluh di antaranya sangat mencurigakan," kata Kepala Jaksa Alessandro Mancini dalam jumpa pers.

Bunuh lima pasien di Berlin, perawat dipenjara seumur hidup

Seorang perawat berusia 55 tahun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena membunuh lima pasiennya di salah satu rumah sakit terbesar di ibukota Jerman, Berlin.Irene Becker mengaku membunuh empat pasien menggunakan obat yang dapat menurunkan tekanan darah. Namun dia menolak tuduhan pembunuhan untuk kasus terakhir.Dia menyatakan tindakan itu dilakukan demi kebaikan pasien dan pengacaranya di pengadilan berdalih, yang jahat adalah pembunuhan tak direncanakan. Korban Becker berusia antara 48 hingga 77 tahun, seperti dilansir koran the Washington Post, Juni 2007. Perkara Becker terungkap setelah dua petugas menduga pasien itu tidak meninggal secara wajar.Jaksa Thorsten Neudeck dalam sidang mengatakan, Becker bermain-main dengan kematian dan kehidupan dalam sejumlah kejadian pada akhir 2005 hingga Oktober 2006 ketika dia ditangkap.Jaksa sebelumnya menuntut dia atas delapan perkara pembunuhan, namun seorang pasien selamat dan dua kematian lain tidak dapat dibuktikan akibat obat itu.Obat untuk menurunkan tekanan darah mengakibatkan ketegangan pembuluh darah dan menyebabkan detak jantung melambat. Penggunaan berlebihan dari obat itu dapat mengakibatkan detak jantung tidak beraturan.Pada November 2006, pengadilan menjatuhkan hukuman seumur hidup pada seorang perawat pria, Stephan Letter (28 tahun), pembunuh berantai terburuk Jerman sejak Perang Dunia II, atas pembunuhan 28 pasiennya di rumah sakit di Sonthofen, Jerman selatan.

Bosan bekerja, perawat Jerman tega bunuh 30 pasien

Perawat bernama Niels H (38) mengaku membunuh 30 pasien di Rumah Sakit Delmenhorst, dekat Ibu Kota Berlin, Jerman. Pria ini mulai diadili September lalu, karena terbukti membunuh tiga pasien dan mencoba membunuh lagi dua orang sakit lainnya.Ketika menjalani tes kejiwaan di pengadilan pada Kamis (8/1), Niels mengungkap fakta mengejutkan. Korban yang dia bunuh lebih banyak dari perkiraan awal polisi.Pria keji ini mengaku membunuh 30 orang karena bosan dengan pekerjaannya. Selain itu, dia ingin mempraktikkan kemampuan resusitasi (pacu jantung manual) yang biasanya dikuasai paramedis.Niels merasa sangat jago melakukan resusitasi, sehingga puas bila pasien yang dia bikin nyaris mati bisa kembali sadar."Pelaku mengerti dia membawa kecemasan dan kesedihan bagi pasien dan keluarganya, namun dia tetap melakukan hal tersebut," kata psikiater yang berbicara dengan perawat itu Konstantin Karyofilis, dilansir dari Russian Today, Jumat (9/1).Menurut psikiater, pelaku sekarang merasa sangat malu pada ulah bejatnya. Kepada sang psikiater, Niels memberikan pasien terutama yang sakit jantung, obat dengan dosis mematikan."Dia mengatakan dosis tersebut ia berikan agar si pasien dapat hidup kembali," ujar Karyofilis di pengadilan.Semua orang menganggap kematian yang terjadi di klinik tempat si perawat tersebut di Delmenhorst merupakan kematian yang wajar. Mereka merasa para perawat telah berusaha keras untuk merawat keluarga atau orang lain yang sakit di klinik tersebut. Hingga akhirnya terkuak kasus ini."Jika tidak ditindaklanjuti, si pelaku dapat membunuh lebih banyak lagi. Dia sendiri pernah dihukum pada 2008 lalu," kata hakim pengadilan.Obat yang dipakai oleh Neils untuk membunuh pasiennya adalah obat Gilurytmal (Ajmaline) yang biasanya digunakan kepada penderita sakit jantung. Obat ini disimpan dan digunakan di bawah kontrol yang ketat karena dapat menyebabkan kematian apabila dosis yang dipakai melebihi batas.Kasus ini mirip dengan tindakan keji Daniela Poggiali di Italia tahun lalu. Perawat wanita itu terungkap menyuntik mati 38 pasien karena merasa mereka berisik. Daniela diduga memiliki gangguan jiwa, lantaran sempat berfoto dengan satu jenazah yang belum lama dia suntik mati.

Rekomendasi